Reading on Ihyā’ ‘Ulūm
al-Dīn
(Juz I Bab Fadilah al-'Ilm)
*catatan intelektual Edi Kurniawan
Pemahaman
terhadap terma “ūlil amri” dalam konteks
sekarang ini selalu dilekatkan kepada pemimpin (political authority). Sehingga
terma ini menjadi alat justifikasi untuk merebut kuasa politik (dalam membuat
perubahan) adalah kelanjutan dari ketaatan kepada Allah dan rasul (sebagaimana
hadist menyinggung hal tersebut) adalah seseorang yang bukan hanya pemimpin
semata, akan tetapi dia juga mempunyai otoritas ilmu dan adil terhadap diri dan
rakyatnya. Berkaitan dengan ini imam al-Ghazālī dalam Ihyā’ bab
keutamaan ilmu (fadail ilm) mengutip sebuah ayat al-Qur’an surah An-Nisā’
ayat 3, “Sekiranya mereka mengembalikan (suatun persoalan) kepada Rasūl SAW dan
ūlil Amr diantara mereka, niscaya mereka yang mengambil kesimpulan tersebut akan
mengetahuinya”. (Al-Imām al-Ghazālī, Ihyā’ ‘Ulūmuddīn, (Beirut: Dāral-al-Fikr,
tt) Jilid I, hlm. 7)




