Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 November 2014

From ‘Hard’ to ‘Soft’ Colonialism In Brunei


 By Edi Kurniawan*

According to the data given by Harun Abdul Majid (2007:3) the size of Brunei is 5,270 square kilometres, of which three-quarters is still pristine rain forest. The population (2002 estimate) is 343,700. The population comprises Malays (between 64% and 67%) and Chinese (between 16% and 20%). In terms of religion, Muslims make up 63% of the population, while 14% are Buddhists, 8% are Christians and 15% are indigenous and people with other beliefs.
This data informs us of how small Brunei is; perhaps many of us are asking about why Brunei Darussalam is so small a country and how could that has happened?
To answer this question, let us look at the history of the country. In the early 15th Century, with the decline of the Majapahit kingdom and widespread conversion to Islam, Brunei became an independent Sultanate, in which it was greatly influential in the spreading of Islam.
From the 16th to the 19th century, the Sultanate of Brunei ruled over Borneo, Sulu, Moro, Cebu, Oton, Manila and some islands adjacent to it. Brunei enjoyed particular prominence during the era of Sultan Bolkiah. This era is regarded as the golden age of the Brunei Empire, with territories stretching far and wide as mentioned above.

Senin, 20 Oktober 2014

Pandangan Hidup Menurut Prof Naquib Al-Attas

Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas (tengah) bersama guru-guru dan pelajar CASIS
Oleh: Fiqih Risalah
(Kandidat Doktor di Centre for Advanced Studies on Islam, Science and Civilization (CASIS-UTM Malaysia/Topik ini sengaja diambil untuk mengulas kembali kuliah Prof. al-Attas mengenai Islamic Worldview)

KEMANA kah hidup kita yang singkat ini harus diarahkan? Pertanyaan yang remeh ini kiranya sesuai diutarakan kembali untuk melihat kondisi umat Islam di belahan bumi manapun yang sedang dilanda krisis akut dewasa ini. Identitas seorang Muslim semakin hari semakin ter-“Barat”-kan, dalam hal ini aspek yang sangat mendasar ialah pola pikirnya. Jika hal ini yang terjadi maka yang perlu dicermati dari krisis utama umat ini adalah krisis keilmuan yang tidak lagi mengindahkan wahyu ilahi sebagai landasan filosofisnya.
Melalui tulisan ringkas ini, penulis ingin mengajak para pembaca sekalian untuk menyimak kembali pandangan hidup Islam menurut sarjanawan Muslim kontemporer yang pandangan-pandangannya sangat tajam dan akurat dalam menganalisa problem umat Islam yaitu, Professor Dr Syed Muhammad Naquib al-Attas.
Tulisan ini memaparkan kembali pembahasan singkat tetapi padat yang diberikan oleh beliau ketika acara peluncuran magnum opus beliau yang berjudul “Prolegomena to the Metaphysics of Islam: An Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam.”
Tulisan ini adalah bagian dari ringkasan pidatonya dalam peringatan 14 tahun magnum opus (tepatnya tanggal 24 Juni 1996), yang dari segi kandungannya masih sangat relevan untuk melihat kondisi umat Islam sekarang ini, khususnya di Indonesia dengan maraknya ‘Westernisasi’ dalam semua sendi kehidupan.

Rabu, 05 Februari 2014

Antara Fakta dan Fiksi Sejarah Jambi (Catatan Untuk Wenny Ira)



Antara Fakta dan Fiksi Sejarah Jambi

(Catatan Untuk Wenny Ira)



Oleh: Edi Kurniawan*

Dua tulisan Wenny Ira R, S.IP., M.Hum dalam harian Jambi Ekspres, Sabtu, 11 Januari 2014 (Refleksi Spiritual Keagungan Melayu Jambi Pada Seni Budaya) dan Selasa, 03 Desember 2013 (Membuka Gerbang Peradaban Masyarakat Jambi) tentang peradaban Jambi, wabil khusus ketika dikaitkan dan diperbandingkan antara fakta Peradaban dan Budaya Jambi, penuh masalah.

Kata-kata “diidentik”, “citra”, dan “dianggap”, tanpa adanya analisis perbandingan yang mendalam ketika dilabelkan atas sumbangan Islam terhadap Peradaban Jambi bak permainan kata-kata dan menutup mata sebelah. “…mengenai isu kemelayuan yang identik dengan islam dan dianggap paling mendominasi dalam menyusun peradaban Jambi” katanya. Lalu dengan tergesa-gesa dia katakan, “perlu juga ditilik kemasa lampau, apalagi dengan adanya warisan cagar budaya candi Muara Jambi…” Tulisan keduanya pun juga kental dengan nilai-nilai ‘pemujaan’ kepada situs ini disamping beberapa seni hasil budaya Jambi.

Sabtu, 16 November 2013

‘Mengapa Semua Persoalan Ini Terjadi?’



 [Catatan Kecil Untuk Pak Bahren Nurdin]

Oleh: Edi Kurniawan*
Dalam minggu-minggu ini, di tengah tumpukan tugas-tugas kuliah di Negeri sebarang, penulis selalu mengikuti perkembangan terkini yang terjadi di Jambi melalui harian Jambi Ekspres. Ada satu artikel yang ‘menggelitik’ penulis untuk mengangkat pena: Potret Buram Disdik Provinsi Jambi oleh Pak Bahren Nurdin (Panggilan takzim penulis kepada beliau). Terbit hari Sabtu, 02 November 2013.
Setelah menunggu beberapa hari, ternyata tidak ada jawaban maupun penjelasan, baik dari Disdik atau yang lainnya. Di satu sisi, kita berharap semoga tulisan Beliau menjadi teguran, nasihat serta muhasabah bagi Disdik. Namun di sisi lain, karena permasalahan yang diangkat merupakan permasalahan besar yang sudah kronis lagi kulli - dalam wacana akademis - izinkan penulis berseberangan pendapat dan menambahkan karena berdasarkan atas pembacaan penulis, tulisan tersebut lebih pada potret zahir dan analisa ‘diplomatis’ yang hampa analisa historis dan ‘filosofis/metafisik’.

Jumat, 05 Juli 2013

Babak Baru Generasi Noe-Sophist




Baru-baru ini sebuah kuliah Pluralisme Agama dalam bentuk seri mingguan diselenggarakan oleh sebuah organisasi yang menyematkan dirinya dengan ‘Jaringan Islam Liberal’ di kawasan Utan Kayu, Jakarta. Kuliah ini dihadiri oleh para mahasiswa yang berasal dari berbagai Perguruan Tinggi, terutama yang berada di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Sementara sang guru adalah aktifis organisasi tersebut yang selama ini banyak menyebarkan faham-faham yang ‘nyeleneh’ di tanah air.
Setiap peserta diwajibkan menulis sebuah artikel dengan tema Pluralisme Agama sebagai syarat kelulusan yang dipublikasikan melalui situs organisasi tersebut. Dalam sebuah artikel, dengan sangat lugu seorang peserta mengatakan, “Penulis meyakini, pintu menuju Tuhan itu tidak hanya satu, tetapi banyak, sebanyak pikiran manusia. Seperti kata Al-Quran: “Wahai anak-anaku, janganlah kalian masuk dari satu pintu yang sama, tapi masuklah dari pintu-pintu yang berbeda” (QS Yusuf: 67). … Hal ini menyimpulkan bahwa, sebenarnya agama itu hanya sebuah jalan menuju Tuhan. Meskipun jalan itu beragam, warna-warni, luas, plural, tetapi semuanya akan menuju ke arah vertikal yang sama: Tuhan Yang Maha Esa”.[1]

Rabu, 03 Juli 2013

Neo- Muʿaththilah


Oleh: Edi Kurniawan[1]



Beberapa waktu lalu sebuah artikel dengan judul Neo-Zahiri ditulis oleh Prof. Azyumardi Azra dalam sebuah Harian Nasional. Menurutnya, secara terminologi neo-zahiri berasal dari pemikiran Islam klasik yang disebut dengan mazhab Zahiri, yaitu paham yang hanya melihat ayat al-Qur’an dan Hadis Shahih, Mutawatir secara lahir, harfiah atau literal saja. Salah satu contoh pemikiran neo-zahiri ala Indonesia yang disebutkan oleh Azra dalam tulisannya seperti anjing bukanlah najis karena tidak ada ayat al-Quran secara eksplisit menyatakan hal demikian. Al-Quran hanya berbicara tentang haramnya memakan bangkai, khinzir (babi), dan darah mengalir (al-Baqarah 2: 173; al-Maidah 5: 3). Dalam hal terakhir ini karenanya darah yang sudah dibekukan menjadi marus (semacam ‘tahu’) boleh saja  dimakan.

Selasa, 30 April 2013

IMAM AL-SYATIBI: Jurist yang Mufti dan Pejuang Aqidah-Sunnah yang Juga Ahli Bahasa



Oleh: Edi Kurniawan
(Kondidat Master di Centre for Anvanced Studies on Islam, Science and Civilisation (CASIS) – Universiti Teknologi Malaysia, Kuala Lumpur dan Alumni IAIN STS Jambi)



Imam al-Syatibi adalah seorang ulama besar dari Spanyol yang menguasai berbagai cabang ilmu ke-Islaman. Beliau dilahirkan di Granada, Spanyol pada tahun 720 H dan wafat pada tahun 790 H. Semasa hidupnya ia dikenal sebagai seorang  ulama yang ahli dalam bidang Hukum Islam, sehingga ia berpropesi sebagai mufti, imam, guru dan penulis produktif. Selain itu beliau juga seoarang yang ahli dalam Bahasa Arab dan pejuang aqidah. Sehingga al-Imam al-Hafizh bin Marzuq menjuluki beliau sebagai, “Seorang Syaikh, Profesor, ahli Ilmu Fikih, Imam, Muhaqqiq, dan ulama besar yang shalih: Abu Ishaq (al-Syatibi: pen)”. (al-Syatibi: 2006: xviii) Karena keluasan ilmu dalam berbagai disiplin, maka beliau menjadi tempat rujukan masyarakat dan penguasa dalam menyelesaikan berbagai problem keagamaan di Spanyol kala itu.

Senin, 11 Februari 2013

“CINTA TAPI BEDA” (Meninjau Falsafah Adat Minang)


Oleh: Edi Kurniawan*

Beberapa waktu lalu dunia per-film-an tanah air kembali memanas dan menuai kontraversi dengan hadirnya film “Cinta Tapi Beda” yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Dalam catatan penulis, film yang disutradarai oleh Hanung ini merupakan film kedua yang menuai kontroversi setelah sebelumnya film “Tanda Tanya”.

Minggu, 03 Juni 2012

“MACHIAVELLI”


Oleh: Edi Kurniawan, S. Sy*

Pada tangal 3 Desember 1469, di Florence, sebuah kota di Italia, lahirlah seorang bayi mungil yang diberi nama Niccolo Machiavelli. Dalam perkembangannya, ia tumbuh menjadi seorang politikus dan memegang peranan penting pada pemerintahan Florence. Namun karena peralihan kekuasaan, ia disingkirkan dari publik dan kemudian berkonsentrasi di bidang penulisan sejarah, filsafat politik, dan drama.
Namun bagi orang-orang setelahnya dan sampai hari ini ia lebih dikenal dengan filosof, terutama dalam bidang politik dan pemerintahan. Salah satu karyanya yang terkenal adalah The Prince atau Sang Pangeran dalam terjamahan Indonesianya, yang memuat masalah politik dan pemerintahan.
Ia terkenal karena nasihatnya yang blak-blakan dalam bidang politk dan pemerintahan. Menurutnya, seorang penguasa yang ingin tetap berkuasa dan memperkuat kekuasaannya haruslah menggunakan tipu muslihat, licik dan dusta, digabung dengan penggunaan kekejaman penggunaan kekuatan.
Satu sisi ia dikutuk oleh banyak orang sebagai bajingan yang tak bermoral. Namun di sisi lain, ia dipuja oleh sebagian orang karena realis tulennya yang berani memaparkan keadaan dunia apa adanya. Dia menjadi salah satu dari sedikit penulis yang hasil karyanya begitu dekat dengan studi, baik filosof maupun politikus.
Secara garis besar, benang merah yang dapat ditarik dari teori politik dan pemerintahan yang ia tulis dalam The Prince (Sang Pangeran) adalah bagi seorang pemimpin atau raja hendaklah: pertama, perlu diadakan tindakan-tindakan yang keras pada rakyat sehingga menimbulkan penderitaan yang besar bagi rakyat tersebut dengan tujuan agar rakyat tidak melawan kepada penguasa.
Kedua, apabila suatu negara yang baru saja direbut, dan rakyatnya sudah terbiasa hidup bebas dan mengikuti hukum, maka cara yang lebih baik untuk mempertahankan kekuasaan adalah menghancurkan kota itu. Karena kalau tidak maka sang penguasa akan mengalami kesulitan dan bukan tanpa disadari ia akan hancur sendiri.
Ketiga, ada dua cara untuk menjadi penguasa di wilayah baru, yaitu melalui kemampuan sendiri dan karena faktor nasib mujur. Dalam usaha sendiri, langkah yang bisa ditempuh adalah menciptakan kerusuhan, membuat negara berontak sehingga ia memperoleh kekuasaan dengan aman dari sebagian negara yang sudah dikuasai penguasa lain.
Keempat, dalam hal persekutuan dengan penguasa lain terutama dalam rangka mencapai suatu tujuan, maka sah-sah saja menggunakan tipu muslihat karena itu dapat dibenarkan untuk melanggengkan jalan menuju kekuasaan.
Kelima, ketika penguasa menggunakan kekuatan perang asing atau bayaran, maka setelah perang usai maka seharusnya pasukan bayaran itu dibantai habis. Kejahatan itu diperlukan demi keselamatan negara, karena jika ia menampakkan kebaikan, justru akan membahayakan dan membawa kehancuran.
Keenam, seorang raja tidak perlu bermurah hati untuk membuat dirinya tersohor, kecuali kalau ia mempertaruhkan dirinya. Karena jika itu dilakukan maka ia akan menjadi rakus dan menghindari dirinya dari kemiskinan, sehingga ia dibenci oleh rakyatnya. (Machiavelli:2008)

Machiavellism
Konon, dalam sejarah dunia, ada begitu banyak penguasa yang mengikuti teori kepemimpinan ala Machiavelli. Seperti Napoleon, Stalin, Hitler, Benito Mussolini, Slobodan Milosevic, Pinochet, hingga Pol Pot, merupakan tokoh-tokoh yang mengambil langkah radikal dalam kepemimpinannya untuk bertahan pada tampuk kekuasaan.
Mussolini memuji-muji Machievalli di depan umum sebagai tokoh inspirator  dan memilih subjek thesis untuk memperoleh gelar doktornya. Sementara Napoleon sendiri menyimpan buku The Prince di bawah bantalnya agar dapat dibaca dengan berulang-ulang. (Trijaji: 3: 2008).  Hingga nantinya mengilhaminya untuk melancarkan serangan ke berbagai negeri yang membuat Perancis menjadi salah satu negara paling ditakuti. Untung saja Napoleon lebih bijak dan selektif dalam penerapannya sehingga ia tidak menjadi pemimpin yang brutal.
Namun sayang, empat Abad kemudian, buku ini menjadi pegangan Hitler, Musolini dan Stalin. Kita sudah tahu akibatnya. Hitler mempelopori PD II yang membunuh puluhan juta orang. Musolini berkoalisi dengan Hitler, sementara Stalin membunuh jutaan rakyatnya.

“Machiavelli” Ala Soeharto, Khadafy, Husni Mubarok, Zainal Abidin Bin Ali
Teori kepemimpinan yang diusung oleh Machievelli merupakan salah satu model kepemimpinan yang banyak digunakan oleh para pemimpin diktator, yang nantinya menginspirasikan penyebutan untuk para diktator oleh publik dengan istilah “Machiavellis”.
Menurut Machiavelli, penguasa itu mepunyai dua pilihan, yaitu pilihan untuk dicintai atau ditakuti. Tapi kedua pilihan itu tidak boleh disandang sekaligus, karena lebih mudah bagi seorang penguasa adalah ditakuti, bukan dicintai. Apabila penguasa memilih untuk dicintai maka ia harus siap-siap untuk mengorbankan kepentingan demi rakyat yang mencintainya.
Dalam sejarah modern indonesia, Presiden kedua bangsa ini, Soeharto,  memegang tampuk kekuasaan selama 32 tahun (1968-1998) setelah Partai Komunis Indonesia gagal melakukan kudeta di negeri ini. Bagi rakyat Indonesia, sosok Soeharto merupakan tokoh dan pemimpin yang dicintai sekaligus dibenci rakyatnya sebagaimana pemikiran Machiavelli. Tokoh-tokoh oposisi tidak diberikan ruang gerak demi melanggengkan jabatannya.
Beberapa tahun setelah lengsernya kekusaan Soeharto, pada kawasan Afrika Utara lengser pula sosok semacam Khadafy, Mantan Presiden Libya yang memerintah selama 41 tahun, Husni Mubarok, mantan Presiden Mesir yang memerintah selama 30 tahun, dan Zainal Abidin Bin Ali, mantan Presiden Tunisia yang telah memerintah selama 23 tahun.
Jika dalam sejarah bangsa Indonesia, Soeharto dilengserkan secara paksa oleh rakyatnya sendiri yang sudah muak dengan gaya kediktatorannya. Sementara Khadafy juga diturunkan secara paksa dan dibunuh oleh rakyatnya sendiri setelah membantai ribuan rakyatnya dengan tank-tank, bom-bom, dan peluru-peluru. Husni Mubarok dan Zainal Abidin Bin Ali juga dilengserkan secara paksa oleh rakyatnya sendiri yang juga karena sudah muak atas kediktatorannya.
Namun apakah Soeharto, Khadafy, Husni Mubarok, dan Zainal Abidin Ali pernah mempelajari Filsafat yang dibangun Machiavelli? Jawaban yang pasti penulis sendiri tidak dapat menyakini, namun tindak tanduk beliau semasa kepemimpinannya dapat kita lihat dan sebagaimana yang telah Machiavelli jelaskan dalam beberapa point di atas.

“Machiavelli” Ala Bashar Al-Assad: Akankah Segera Berakhir ?
Bashar al-Assad adalah penguasa Suriah yang berkuasa sejak tahun 2000 M. Dunia Internasional terbelalak melihat apa yang sedang terjadi di Suriah saat ini. Menurut laporan Lembaga Hak Asasi Manusia PBB, sudah lebih 20 ribu rakyat Suriah yang dibantai oleh rezim Syi’ah-Alawiyyin yang dipimpin Bashar Al-Assad.
 Kontak senjata antara pasukan oposisi dan rezim berkuasa terus berlanjut. Dan simpah darahpun belum terhentikan. Rakyatnya sendiri diperlakukan layaknya seperti binatang. Tank-tank, roket-roket, dan peluru menciut di sana-sani. Kota Houla dihujani dengan peluru dan digempur dengan tembakan senjata berat, hingga 108 orang penduduk Houla kehilangan nyawa. Itu dilakukan hanya untuk melanggengkan kekuasaan dan menghentikan gerakan rakyat Suriah yang menginginkan rezim Al-Assad itu segera pergi.
Apakah gaya kepemimpinannya karena pengaruh Filsafat yang dibangun Machiavelli? Jawaban yang pasti juga penulis tidak bisa menebak, tapi lagi-lagi poin-poin teori filsafat politik Machiavelli dipakai oleh Al-Assad.


 Al-khatimah (sebagai peutup), setidaknya kita bisa mengambil dua kesimpulan dari yang telah diuraikan: pertama, sebijaknya bagi Al-Assad mengambil ibrah atas pemimpin-pemimpin diktator yang telah tumbang. Karena sudah sunnatullah-nya setiap kejayaan sebuah kepemimpinan akan tumbang atau berganti, apakah menggoreskan luka ataukah kerinduan. Luka hati rakyatnya telah membesar, dan kecaman dunia internasional bisa saja melahirkan agresi layaknya yang terjadi pada Libya pada beberapa waktu lalu. Dan bisa saja Al-Assad akan mengikuti jejak Khadafy.
Kedua, belajar dari sejarah, pemimpin-pemimpin yang diktator akan lengser dengan tragis dan mendatangkan kerusakan dan kehancuran disana-sini. Maka bagi seluruh pemimpin sehendaknyalah bersikap arif dan bijaksana dalam mengayomi rakyatnya, bukan bersikap “Machiavellis” yang sesat lagi menyesatkan dan menghilangkan jutaan nyawa.*(Kolomnis, Alumni Fak. Syari’ah IAIN STS Jambi dan Peneliti Pada Forum for Studies of Islamic Thought and Civilisation)


























Kamis, 08 Desember 2011

MENUJU PERUBAHAN

MENUJU PERUBAHAN
(Refleksi Terhadap Hari Anti Korupsi)

Oleh: Edi Kurniawan*


 Berbagai kasus korupsi di negeri ini yang banyak menimpa para pejabat, baik dari kalangan eksekutif, yudikatif maupun legislatif. Mulai dari  pemerintah pusat, daerah, kecamatan, dan desa yang menunjukkan tidak hanya mandulnya Undang-undang Nomor 28 tahun 1999, tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan peran Komisi Pemberantasan Korupi (KPK), tetapi juga semakin tidak tertibnya nilai-nilai kehidupan sosial masyarakat.
Kasus korupsi yang diduga melibatkan para menteri, mantan menteri, gubernur, mantan gubernur, bupati, mantan bupati dan lain sebagainya menunjukkan bahwa para pejabat negara yang diharapkan menjadi tauladan bagi masyarakat luas mengenai tertib hukum dan tertib sosial, ternyata justru mereka yang harus duduk dikursi pesakitan. Kasus Century, Bulog, Wisma Atlet Palembang dalam skala nasional, atau dalam skala kedaerahan seperti kasus pembangunan Jembatan Batang Hari II, Jembatan Timbang, Izin Proyek Batu Bara, dan kasus penyuapan seleksi CPNS yang melibat para pejabat daerah, ataupun kasus dana non bugeter DKP yang begitu kusut hanyalah sedikit dari sekian banyak perkara korupsi di negara dalam upaya mewujudkan good goverment dan clean goverment.
Runtuhnya rezin Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun menjadi langkah awal dari reformasi disegala bidang baik itu ekonomi, politik, hukum, sosial dan budaya serta yang terpenting adalah pintu demokrasi harus dibuka lebar-lebar dengan harapan bangsa ini akan memiliki masa depan yang lebih baik. Namun sayang impian itu tidak sepenuhnya terpenuhi, lamban bahkan sebagian kebobrokan itu menjadi meningkat drastis secara kualitas maupun kuantitasnya, yang salahsatunya adalah praktek korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang merupakan salahsatu penyakit akut dan warisan orde baru yang mengakibatkan sistem ekonomi, politik, kekuasaan dan lapisan birokrasi yang berasaskan kekeluargaan.
Dalam upaya serius pemberantasan tersebut, maka didirakanlah KPK atau Komisi Pemberantasan Korupsi dengan harapan KPK bekerja optimal tanpa pandang bulu dalam membersihkan “tikus-tikus kantor” atau “tikus-tikus tengik”, meminjam istilah Iwan Fals. Begitu pula dengan ditetapkan dan disahkannya Undang-undang Nomor 28 tahun 1999 tentang penyeenggaraan negara yang bersih.  Hal ini membuktikan bahwa satu sisi pemerintah beri’tikad keras untuk membasmi “tikus-tikus” ini. Namun di sisi lain, timbul simalakama karena perkara korupsi bukanlah monopoli dari kalangan elit tapi juga oleh kalangan akar rumput walaupun kerugian yang ditimbulkan sedikit.
Korupsi bukan hanya masalah hukum tapi juga budaya, kebiasaan dan kesempatan, moral dan agama. Adalah suatu kesalahan besar jika kita mengatakan bahwa korupsi bisa diberantas sampai keakar-akarnya bila yang dilakukan hanyalah sebatas pemenuhan kebutuhan yuridis. Karena realitasnya semakin banyak peraturan justru korupsi semakin meningkat. Jadi, dalam upaya pemberantasannya harus ada kesimbangan antara peraturan dan kesadaran objek hukum.
            Permasalahan pokok yang menyebabkan ketidaktertiban hukum ini adalah karena adanya ketidaktertiban sosial. Bila bicara masalah hukum seharusnya tidak dilepaskan dari kehidupan sosial masyarakat karena hukum merupakan hasil cerminan dari pola tingkah laku, tata aturan dan kebiasaan dalam masyarakat. Namun sangat disayangkan hukum sering dijadikan satu-satunya mesin dalam penanggulangan kejahatan dan melupakan masyarakat yang sebenarnya menjadi basis utama dalam penegakan hukum. Jadi jelas bahwa aspek sosial memegang peran yang penting dalam upaya pencegahan kejahatan yang tentunya hasilnya akan lebih baik karena memungkinkan memutus matarantainya.

******
Hari ini, 9 Desember 201I, adalah Hari Anti Korupsi Sedunia. Di Indonesia, momentum ini dirayakan dengan beragam cara. Berbagai elemen masyarakat di sejumlah daerah memperingatinya, mulai dengan berunjuk rasa, mengeluarkan pernyataan sikap, jumpa pers, hingga memberikan pendidikan anti korupsi bagi anak-anak usia Sekolah Dasar. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan bagian dari masyarakat Indonesia atas berbagai kasus korupsi yang terus bermunculan dan menunggu penyelesaian. Energi besar bangsa untuk memberantas korupsi tersedot ke sini bahkan hampir menyamai energi untuk mengatasi bencana lain yaitu bencana alam yang juga silih berganti terjadi.
Menarik untuk dicermati pernyataan Presiden yang menyatakan bahwa peritangatan hari anti korupsi sedia ini bukan hanya seremonial saja, tapi berbicara berbicara kongkret yang tajam dan fakta yang ada yang akan disampaikan ke publik pada hari ini. Auditorium Masjid Agung Semarang menjadi fakta sejarah atas seremoni ini.
Dalam hemat penulis, kegamangan presiden atau kegamangan kita semua atas kasus korupsi yang terjadi di negeri ini dan begitu pula upaya keras pemerintah dalam upaya membentuk good geverment akan tercapai apabila semua pihak sadar dan memulai “perang terhadap korupsi”, di samping juga kita butuh hukuman yang mempunyai efek jera dan penegak hukum yang amanah dengan jabatannya.
Sebagai penutup, marilah kita simak ungkapan hikmah dari Aa. Gym, lalu kita jadikan sebagai titik tolak perubahan dan bumbu perayaan ini, “Mulailah dari diri sendiri. Mulai dari hal yang terkecil. Dan mulailah saat ini”. Ketika orang lain sibuk sikut-sikut sana sikut sini, maka kita harus memulai menjadi orang yang jujur saat ini juga. Ketika orang-orang tidak jujur maka kita harus memulai dari diri sendiri untuk berlaku jujur.
Begitulah secuil hikmah seorang Aa. Gym. Artinya, persoalan mendasar adalah memulai dari diri sendiri yang dilandasi dengan kesadaran. Begitu pula dengan korupsi, ketika seseorang sadar bahwa korupsi akan merugikan orang lain, bangsa, dan menyengsarakan rakyat dan bertentangan dengan niai agama, tentu dia tidak akan melakukan itu. Namun, nafsu syahwat keduniaan (hedonisme) terkadang menutup mata untuk berbuat kebajikan. Jadi, untuk memulai perubahan tersebut, nafsu syahwat keduniaan pada diri sendiri harus ditundukkan. Wallahua’lam! *
           


Jumat, 12 Agustus 2011

Beribrah Pada Perang Badar



Oleh: Edi Kurniawan

Di tengah terik matahari yang amat panas, hingga menyengat tubuh. Dan di tengah gurun pasir tandus, hingga mengalirkan keringat yang menganak sungai di sekujur tubuh. Dan dalam dalam keadaan lapar, perut tanpa terisi, serta kekongkongan kering menahan rasa haus karena berpuasa. Serta dalam keadaan tanpa adanya persiapan untuk berperang, kumandang untuk berjihad telah ditabuhkan,  Allah swt. memerintahkan kaum muslimin kala untuk berangkat ke medan juang, ke subuah tempat yang dinamakan Badar.

Maka berangkatlah Rasulullah saw beserta para sahabatnya yang sekiligus beliau menjadi pemimpinnya. Dengan jumlah pasukan yang hanya 313 orang beserta perlengkapan perang yang hanya sekedarnya berupa 3 ekor kuda, 9 baju besi, 8 buah pedang, dan 70 ekor unta, yang membuat sebagian mereka bergantian mengendarai seekor unta. Sementara dari pihak musuh (kafir Makkah) berjumlah 1000 orang yang lengkap dengan perlengkapan perang berupa 700 ekor unta, 100 ekor kuda dan mempunyai persenjataan lengkap serta persediaan makanan mewah yang cukup untuk beberapa hari. Dengan hitungan logika dan matematis, sesuatu hal yang tidak memungkin untuk meraih kemenangan kemenangan dalam peperangan tersebut.

Namun dengan kekuatan ketakwaan dan keimanan Nabi saw. dan para sahabatnya, Allah berikan kemenangan. Allah turunkan 3000 para malaikat yang bersorban putih dan hijau untuk membantu kaum muslimin, hingga pada akhirnya musuh pun kotar katir ketakutan. Ada yang lari tunggang-langgang. Ada yang terbunuh. Dan ada pula yang menyerah kepada kaum muslimin, hingga kemenangan berada pada pasukan kaum mislimin.

Dalam literatur shirah nabawiyyah atau Sejarah Nabi, perang ini disebut dengan Perang Badar yang terjadi pada tanggal 7 Ramadhan atau dua tahun setelah Hijrah.

Meskipun dalam keadaan berpuasa, kobaran semangat mereka amatlah membara. Tidak ada alasan karena puasa mereka meninggalkan kewajiban jihad ini. Bahkan bukan hanya sebatas perang badar saja kobaran jihad kaum muslimin membara. Sejarah juga telah membuktikan, penaklukan kota konstantinopel oleh Shalahuddin Al-Ayyubi juga terjadi pada bulan puasa dan proklamasi kemerdekaan bangsa ini juga terjadi pada bulan puasa.

Jika dari beribrah dengan kobaran semangat perang bada dan berkaca dengan keadaan bangsa kita, hati ini terasa teriris pilu melihat berbagai keadaan. Dengan alasan berpuasa beberapa oknum PNS menjadikan alasan untuk datang terlambat, padahal jam kerjanya sudah telah dikurangi. Dengan alasan lapar dan haus di siang hari, oleh sebagian kita ini dijadikan justifikasi pemuasan nafsu perut ketika berbuka. Korupsi merajalela. Penegakan hukum yang pandang bulu. Hukum diperjual belikan. Perilaku konsumtif merebah di mana-mana. Kesemuanya berujung pada hancurnya ukhuwah berbangsa  dan kepercayaan pada sesama.

Korupsi, kriminalitas, dan aksi yang memalukan dari pejabat Negara kita menjadi isu hangat yang dihidangkan kepada kita. Memang benar, persoalan korupsi, kriminalitas, dan keterlambatan, secara umum lebih pada persoalan biokrasi yang berurusan dengan Negara. Ketika seseorang melakukan koruspi dan tindakan kriminal, maka pertanggungjwabannya lebih besar kepada Negara. Negara telah membuat dan menetapkan sistim hukum. Namun, jika keshalehan itu dilakukan secara berjamaanh, maka angka atau peluang terjadi tindakan-tindakan yang mengarah pada pidana pun akan mengicil. Bukankah salah satu tujuan berpuasa adalah untuk menimbulkan rasa social pada sesame.

Belajar dari kekuatan iman dan ketakwaan yang telah dicontohkan Nabi saw. dan para sahabatnya ketika berhadapan dengan persoalan yang secara matematis dan logika tidak mungkin, tapi itu akan mungkin. Bukankah janji Allah swt. akan membantu dan menolong serta memberikan rezeki kepada hambanya yang bertakwa dengan cara yang tak disangka-sangka dan penjuru yang tak terduga. Perang Badar telah memberikan ibrah penting kepada kita bahwa lapar dan dahaga di siang hari pada bulan yang mulia ini tidaklah menjadi penghalang bagi kita untuk meraih kemenangan, karena kekuatan terbesarnya adalah terletak pada keimanan dan ketakwaan kita. Inilah yang ingin dicapai dari syari’at berpuasa ini, yaitu ketakwaan (Q. S. 2: 183).

Jika jihad yang dilakukan Rasulullah saw. dan para sahabatnyan adalah dalam makna yang sesungguhnya, yaitu perang di jalan Allah. Tentu makna jihad ini tidak terbatas pada ranah tersebut. Dalam arti luas, kita yang berada dalam bangsa yang damai (baca: berperang dengan mengangkat senjata). Perang terhadap korupsi, menegakkan hukum tanpa pandang bulu, menjalan tugas yang diamanahkan dengan sebaik-baiknya bagi abdi Negara, juga bisa dikatakan jihad.
Berbagai persoalan dan beragam hiruk pikuk yang terjadi pada bangsa ini berawal dari elemen-elemen yang ada di dalamnya menjadi hamba atas nafsunya. Korupsi misalnya, ini terjadi karena mata sang pelakunya terbius oleh keindahan dunia, lalu dengan segala macam usaha dicoba untuk mendapatkan, maka merajalelah korupsi. Begitu juga dengan kasus skandal seks yang memalukan dari beberapa pejabat bangsa, juga karena penghambaan terhadap nafsu.
Jihad yang terbesar dan tertinggi di antara jihad-jihad yang adalah jihad melawan hawa nafsu. Rasulullah saw sendiri telah menjelaskan ini kepada kita bahwa ketika beliau dan para sahabatnya usai dari sebuah peperangan beliau berujar, “kita beralih dari perang yang kecil menuju perang yang besar, yaitu jihad melawan hawa nafsu. Itulah jidad yang tertinggi, jihad melawan hawa nafsu.

Orang yang menang adalah orang yang bertakwa kepada Tuhannya. Dan bangsa yang menang juga bangsa yang bersyukur dan mempunyai ciri-ciri ketakwaan. Mengambil hak yang bukan milik kita atau korupsi, tentu bukan ciri dari sebuah ketakwaan. Berpoya-poya dengan uang Negara dan fasilitas yang ‘wah’ yang dilakukan sebagian pejabat bangsa, tentu bukan menunjukkan sikap bangsa yang bersyukur. Bukankah Rasulullah saw. dan para sahabatnya dapat mengalahkan musuh yang begitu besar dan kuat dalam perang badar tersebut karena mereka tidak menjadi hamba atas nafsunya? Meskipun dalam keadaan berpuasa, puasanya tidak dijadikan alasan untuk bermalas-malasan.

Sudah sepatutnya bangsa ini beribrah pada hikayat tersebut bahwa jika bangsa ini ingin menjadi bangsa, meminjam istilah al-Qur’an disebut ‘baldatun thayyibun wa rabbun ghafur’ atau bangsa yang damai, sejahtera serta penuh dengan keampunan maka bangsa ini juga tidak bisa menjadi hamba atas hawa nafsu. Dan bagi kita kaum muslimin yang menjadi penduduk terbesar bangsa ini, jangan jadikan puasa sebagai kambing hitam untuk bermalas-malasan dan lalai dengan amanah. Semoga nafsu kita terdidik melalui puasa ini. Wallahua’lam!

Sabtu, 06 Agustus 2011

Miskin Di Tengah Umat Yang Berpuasa



Oleh: Edi Kurniawan

Jika anda menyesuri kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dll, maka dengan mudah anda menjumpai anak-anak gelandangan, orang-orang tua terlantar dan anak-anak yang putus sekolah, di mana mereka tinggal di kolong-kolong jembatan dan trotoar jalan. Bahkan untuk kota Jambi saja yang masih dikategorikan Kota kecil, pemandangan semacam ini sudah mulai menjamur.

Jika anda berjalan di kawasan simpang lampu merah Jembatan Makalam, Lampu Merah BI, atau di Kawasan Terminal Rawasari atau Pusat Kota Jambi yang menjadi pangkalannya. Maka mata anda akan menyaksikan, betapa mereka pada bulan ini keluar dari sarangnya dan menjadikan bulan ini sebagai momen mengharap balas kasihan.

Hal ini memberikan isyarat kepada kita bahwa masih banyak penduduk miskin di negeri ini. Padahal dalam teorinya, anak-anak terlantar dan orang-orang tua jumpo merupakan tanggungjawab Negara. Namun faktanya dengan angka yang cukup fantastis, negara pun kewalahan.

Betapa tidak, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa jumlah penduduk miskin Indonesia yang terhitung pada bulan Maret 2011 lalu mencapai 30, 02 juta orang atau 12, 49% dari total penduduk Indonesia. Turun 1,00 juta orang (0,84%) dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2010 yang sebesar 31,02 juta orang (13,33%). Sedangkan jumlah penduduk Indonesia berdsarkan hasil sensus pada Agustus 2010 berjumlah 237.556.363 orang, yang terdiri dari 119.507.580 laki-laki dan 118.048.783 perempuan.

Meskipun turun dari 13,33% menjadi 12,49%, persoalan kemiskinan tetaplah menjadi fokus utama. Mari kita hitung, 12,49% penduduk miskin dari 237.556.363 orang jumlah total penduduk Indonesia, berarti angka penduduk miskin Indonesia 19. 019. 725 orang pada Maret 2011. Jumlah yang fantastis bukan di tengah penduduk Muslim terbesar di dunia dan bangsa yang kaya akan sumberdaya alamnya.

Jika pemerintah mengklaim permaret 2010-2011, angka kemiskinan turun 0,84%, dengan hitungan kalkulasi kategori penambahan pendapatan perkapita perbulan, maka klaim tersebutpun menjadi persoalan. Karena berdasarkan data BPS, jumlah pendapatan perkapita perbulan yang dikategorikan miskin pada Maret 2010 yaitu di bawah Rp. 211. 726, menaik menjadi Rp. 233. 740 perkapita perbulan pada Maret 2011. Artinya, angka pendapatan perkapita tersebut bertambah sebesar Rp. 22. 014. Jika disamakan pendapatan perkapita permaret 2010 dengan permaret 2011, apakah angka kemiskinan itu menurun sebagaimana yang diklaim pemerintah, atau angka kemiskinan itu malah bertambah?

Hal ini kita bentangkan bukan bermaksud menutup mata atas usaha pemerintah, akan tetapi dengan harapan kita bisa mengambil hikmah dari laparnya kita pada siang hari pada bulan ini di tengah 19. 019. 725 orang yang dikategorikan lapar di negeri ini. Karena pada hakikatnya kita sebagai muslim, usaha pemberantasan kemiskinan ini bukan saja tugas pemerintah, akan tetapi itu juga PR kita semua. PR seluruh penduduk negeri ini.

*****
Puasa merupakan ibadah mahdhah, yang perintah dan pertanggungjawabannya secara pertikal. Namun, puasa juga akan memberikan pengaruh secara horizontal, salah satunya yaitu terbukanya hati untuk berbagi kepada sesama.

Diriwatkan dari Imam ash-Shadiq, sebuah hadis yang tersohor bahwa Hisyam bin Hakam bertanya kepada Rasulullah swa. mengenai alasan penetapan hukum Ilahiah ini, Rasulullah saw. bersabda: “Allah swt. telah memerintahkan puasa untuk menciptakan keseimbangan antara orang kaya dan orang miskin. Ikhwal ini agar orang kaya merasakan keadaan orang miskin dan akibatnya orang kaya menyayangi orang miskin. Dan karena, segala sesuatu tersedia bagi orang kaya, maka Allah swt. senang apabila keseimbangan ditegakkan di antara hamba-hamba-Nya. Oleh karenanya, Dia telah mentakdirkan orang kaya merasakan lapar dan kesulitan tersebut sehingga bersimpati kepada orang yang lemah dan merasa sayang kepada orang yang lapar”.

Hadis ini menjelaskan satu hikmah puasa kepada kita bahwa bagi si kaya agar kiranya dapat merasakan apa yang dirasakan oleh si miskin. Lalu, ia pun mengulurkan tangannya kepada saudaranya yang miskin.

Dalam ajaran agama, kemiskinan harus diberantaskan dan pemerataan kehidupan harus tercapai dalam semua lini kehidupan. Namun faktanya, di negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia ini, kesenjangan sosial antara yang kaya dan miskin sangat riskan. Yang kaya berpesta pora, sementara yang miskin bermuram durja. Maka jadilah si miskin dibudak oleh si kaya, hingga trend hedonisme menyebar di tengah masyarakat. Alhasil, menebarlah pola pikir singkat dalam meraih kekayaan, yaitu korupsi.

Ramadhan mendidik kita merasa peduli dan peka terhadap sosial. Dengan merasakan lapar, maka akan mengingatkan kita pada nasib penderitaan saudara kita yang kelaparan. Penghayatan yang seperti inilah yang pada akhirnya membuka tangan kita untuk berbagi.

Sudah barang tentu bagi kita yang berakal, dengan menjalankan perintah agama ini, dengan merasakan haus dan lapar pada siang hari, maka akan mengingatkan kita pada penderitaan saudara kita kaum mustadh’ifin atau orang-orang yang lemah.

Keadaan yang jelas dan objektif ini akan menimbulkan reaksi yang lebih efektif. Puasa akan menjadikan persoalan sosial yang besar, lalu menjelma menjadi sebuah bentuk yang jelas bagi orang-orang yang menjalaninya.

Sungguh, apabila jumlah orang kaya dan pejabat pemerintah di negeri ini atau kita seluruh umat muslim mengambil ibrah dari lapar pada siang hari di bulan ramadhan ini dan terbiasa berpuasa beberapa hari dalam setahun, maka akankah tetap ada orang yang lapar yang jumlahnya berdasarkan penghitungan BPS di atas 19. 019. 725 orang pada Maret 2011? Atau masih adakah jumlah pejabat pemerintah mengambil barang yang bukan haknya? Atau masihkah korupsi merajalela? Atau masih adakah guru-guru yang megambil sumbangan dengan kedok uang sekolah kepada murid-muridnya yang tidak mampu? Atau akankah kita temukan anak-anak terlantar yang putus sekolah dan orang tua jumpo yang tinggal di trotoar jembatan dan badan jalan?

Semoga ramadhan kali ini kita jadikan sebagai momen melatih diri untuk meningkatkan kepeduliaan kita pada sesama, sehingga keluarnya kita dari ramadhan ini kepekaan itu telah teraflikasikan. Dengan demikian, berarti kita telah berpartisifasi secara gradual dalam penurunan angka kemiskinan. Bukankah perubahan besar itu berawal dari perubahan kecil? Wallahua’lam!