Jumat, 30 Agustus 2013

Motivasi Seorang Guru




Sore ini, di ruang eksekutif CASIS dan sehabis kelas, ketika kami sedang asyik-asyiknya berbincang ringan sesama pelajar CASIS, tiba-tiba datanglah Dr. Syamsuddin Arif, dikalangan kami mahasiswa Indonesia memanggilnya Ustas Syam. 

Aku yang sedang berbaring di Kursi, merehatkan badan karena kurang tidur selama satu minggu ini karena mempersiapkan tugas-tugas dan belajar untuk menghadapi ujian semester pendek, langsung bangun.

“Ada buku baru nih, kiriman dari Jerman”, beliau mengawal pembicaraan sambil memperlihatkan buku berwarna hijau yang ada digenggamannya.

“Ini terbitan Jerman, beberapa waktu lalu”, beliau menambahkan.

Lalu kami yang duduk di berbagai pojok langsung bangkit berjalan cepat menghampiri beliau.

Rabu, 28 Agustus 2013

Hadiah Yang Tak Disangka




Sudah beberapa hari aku mencari Prof. Khalif Muammar, namun hari ini baru berjumpa. Tujuannya meminta masukan dan perbaikan atas proposal tesisku. Namun, ada satu hal yang tak kusangka, setelah konsultasi selesai, tiba-tiba beliau menanyaiku:

“Anda bisa membaca tulisan Jawi, edi?”.

“Insya Allah”, jawabku.

“Bisa terjemahkan kitab ini?”, sambil memberikan sebuah kitab karya Raja Ali Haji, Ulama asal Riau abad ke 19 yang tersohor dengan Gurindam 12nya itu.

Tanpa banyak fikir langsung aku iyakan saja, “Iya ustas, insya Allah.

Jumat, 05 Juli 2013

Babak Baru Generasi Noe-Sophist




Baru-baru ini sebuah kuliah Pluralisme Agama dalam bentuk seri mingguan diselenggarakan oleh sebuah organisasi yang menyematkan dirinya dengan ‘Jaringan Islam Liberal’ di kawasan Utan Kayu, Jakarta. Kuliah ini dihadiri oleh para mahasiswa yang berasal dari berbagai Perguruan Tinggi, terutama yang berada di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Sementara sang guru adalah aktifis organisasi tersebut yang selama ini banyak menyebarkan faham-faham yang ‘nyeleneh’ di tanah air.
Setiap peserta diwajibkan menulis sebuah artikel dengan tema Pluralisme Agama sebagai syarat kelulusan yang dipublikasikan melalui situs organisasi tersebut. Dalam sebuah artikel, dengan sangat lugu seorang peserta mengatakan, “Penulis meyakini, pintu menuju Tuhan itu tidak hanya satu, tetapi banyak, sebanyak pikiran manusia. Seperti kata Al-Quran: “Wahai anak-anaku, janganlah kalian masuk dari satu pintu yang sama, tapi masuklah dari pintu-pintu yang berbeda” (QS Yusuf: 67). … Hal ini menyimpulkan bahwa, sebenarnya agama itu hanya sebuah jalan menuju Tuhan. Meskipun jalan itu beragam, warna-warni, luas, plural, tetapi semuanya akan menuju ke arah vertikal yang sama: Tuhan Yang Maha Esa”.[1]

Belajar Memaafkan dari Buya Hamka


Artikel diwabah ini bukan karyaku, melainkan aku ambil dari situs Salam – Online Klik Disini. Melihat isinya yang bagus, aku tertarik. Semoga menjadi amal jariah bagi penulisnya dan menjadi ibrah pula bagi anda yang membacanya.
___________

“Janganlah pandang hina musuhmu karena jika ia menghinamu, itu ujian tersendiri bagimu,” (syair Imam Syafi’i).

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau biasa dikenal dengan Buya Hamka adalah ulama besar yang meninggalkan jejak kebaikan bagi umat dan bangsa ini.

Semasa hidup, ulama kelahiran Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908, ini dikenal sebagai sosok ulama yang santun dalam bermuamalah, namun tegas dalam akidah.

Kamis, 04 Juli 2013

Belajar kepada Imam Zakariya al-Anshari


Oleh: Edi Kurniawan*



Suatu siang, daripada melewatkan waktu begitu saja maka aku memutuskan untuk berkunjung ke Perpustakaan Dar al-Hikmah kampus International Islamic University Malaysia (IIUM), Selangor Malaysia. Perpustakaan ini boleh dikatakan sebagai Perpustakaan terlengkap dalam kajian keislaman untuk kawasan Asia Tenggara. Karena itu, ia menjadi tempat favoritku dalam menghabiskan waktu luang.

Di depan Dar al-Hikmah