Kamis, 11 Agustus 2011

Bersegeralah



Hidup kita di dunia ini diibaratkan seperti seorang asing atau pengembara yang tidak tahu kapan tiba waktu sampai di kampong halaman atau tempat tujuan. Subuhkah. Atau sorekah. Atau malamkah. Karena waktu perjalanan kita diibaratkan seperti hari-hari yang umurnya pendek. 

Hari ini adalah milik kita, bukan hari kemarin yang telah berlalu dengan segala kenangan kebaikan maupun keburukan di dalamnya, dan juga bukan hari esok yang belum tentu apakah kita menemuinya atau tidak. Hari inilah hari kita, hari yang matahari menyinari kita dan siang menyapa serta nyanyian alam nan merdu yang selalu mengiringi langkah kita.

Bagi kaum muslimin, mulai dari tanggal 1 ramadhan sampai hari ini, haus, lapar, dan dahaga terasa seolah-olah menjadi saudara. Karena itulah seharusnya pada hari yang baik ini kita bertekad mempersempahkan kualitas shalat kita yang khusu’, tilawah al-Qur’an kita yang sarat tadabbur, dzikir dengan sepenuh hati, keindahan akhlak, serta berbuat baik kepada sesama.

Selagi nyawa masih melekat dan selagi ruh belum dicabut oleh Allah, maka menyegerakan ibadah, bukan menunda-nunda merupakan suatu yang musti. Karena esok atau tahun depan belum tentu Allah mengkaruniakan kita untuk bertemu dengan bulan yang mulia ini. Jadi, kapan lagi kalau bukan dari sekarang kita memperbaiki kualitas ibadah kita agar nantinya keluarnya kita dari bulan yang mulia ini gelar ‘taqwa’ melekat pada diri kita. Agar nantinya ketika Allah mencabut ruh dari tubuh ini, lalu Allah masukkan kedalam syurganya yang seluas langit dan bumi. Agar nantinya kita tidak termasuk orang yang menyesal dan merugi ketika bertemu wajah Tuhan kita.

Bagi kita yang bekerja sebagai abdi negara, maka persembahkanlah kinerja baik kita yang sesuai dengan tugas dan wewenang yang diberikan. Bagi kita yang berstatus sebagai mahasiswa atau pelajar, maka pada hari ini juga kita membulatkan tekad baja kita untuk mengarungi samudra ilmu, berteman dengan buku, serta hari-hari yang dibabiskan dengan belajar dan belajar. Begitu pula jika kita sebagai pedagang, bersikap jujur dan jangan berputus asa dalam mencari rezeki Allah. Apapun status, pekerjaan, dan jabatan kita, hari inilah hari kita, bukan esok yang belum tentu kita menemuinya atau kemarin yang telah kita lalui. 

Jika pada hari ini Allah masih memberikan makan kepada kita, mengapa kita harus bersedih atas laparnya kita kemarin atau mengkhawatirkan makanan apa yang akan kita temui esok. Ingat, tugas kita adalah berusaha dengan optimal, berdo’a, lalu apa pun kadar hasilnya, serahkanlah kepada Allah swt sang pemberi rezeki.

Sekiranya kita percaya pada diri sendiri, serta memiliki semangat dan tekad baja, maka kita akan menundukkan diri dan berpegang pada prinsip: “Aku hanya akan hidup hari ini”. Prinsip inilah yang akan menyibukkan kita untuk selalu memperbaiki keadaan, mengembangkan semua potensi dan mensucikan setiap amalan.

Dalam sebuah hadisnya, Rasulullah saw. mengabarkan kepada kita, “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau orang yang dalam perjalanan. Apabila datang waktu sore maka janganlah engkau menunggu pagi hari. Dan apabila datang pagi hari maka janganlah engkau menunggu sore hari. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, serta hidupmu sebelum ajal menjemputmu”. (H. R. Muslim)

Dan dalam hadis yang lain, Rasulullah saw juga mengabarkan, “Sebaik-baik Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya”. (H. R. Tarmizi)

Dan mari pula kita dengarkan tausiyah Umar bin Abdul Aziz untuk kita, “Jika dunia ini bukan negeri untuk menetap, maka bagi seorang mukmin seharusnya menempatkan diri dalam dua kondisi: (a). ia berada di dalamnya bagaikan orang asing di negeri yang asing, dan (b). ia bersikap bagaikan pengelana yang tidak ada sedikitpun terlintas niat di hatinya untuk bermukim”. 

Jadi, tidak ada waktu untuk berleha-leha dengan hal yang tidak bermanfaat. Bersegeralah! (*)

Selasa, 09 Agustus 2011

Hingga Daun Lidah Pun Bertasbih



aku menafsirkan bahasa angin yang berlabuh pada dedaunan, nyanyian alam.
lalu mentari menyapa pagi dan saga merah berlabuh sore, hening.

tiada kata yang keluar dari lidahnya, hatilah yang berdo’a.
sayup sadu kelopak matanya petanda ingin, apa nak dikata lidah tak tergerak mungkin.

Cuma hati berkata : hingga… “cukuplah daun lidah bertasbih, hati hening”.  



Mereka Yang Tidak Merugi



Setiap hari kita selalu berkompetisi dengan waktu. Jika kita yang mengaturnya, maka kitalah yang akan menjadi pemenang. Namun jika kita yang diatur, maka kitalah yang akan menjadi pecundang atau orang yang merugi.
Pada dasarnya kita semua berpotensi menjadi orang yang merugi, baik di dunia maupun di akhirat. Sikaranya kalau bukan atas nikmat dan hidayah Allah, boleh jadi kita akan berada dalam kerugian. Kalau bukan karena kewaselan petunjuk Rasulullah, tentu saja kita masih berada pada alam kejahilan.
Lalu siapakah mereka yang tidak merugi itu? Menurut al-Qur’an, mereka itu bukanlah yang pangkatnya tinggi atau yang uangnya banyak. Tapi mereka adalah orang-orang yang beriman, beramal shaleh, dan yang suka menasehati dalam kebenaran dan selalu bersabar.
Dalam al-Qur’an Allah swt. berfirman: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, dan saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan supaya menetapi kesabaran.” (Q.S. Al-‘Ashr: 1-3).
Jika kita memahami ayat tertsebut, tentu kita akan berupaya secara optimal mengamalkannya untuk meraih keuntungan. Dalam kondisi kekinian, banyak sekali ragam aktifitas yang haarus ditunaikan,. Ditambah pula dengan berbagai kendala dan rintangan yang akan dihadapi. Karenanya, kepandaian dalam mengatur segala aktifitas kita agar dapat mengerjakan amal shalih setiap saat, baik secara vertikal maupun horizontal.
Kita benar-benar akan berada dalam kerugian apabila kita tidak memanfaatkan waktu yang telah diberikan oleh Allah secara optimal untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan baik. Karenanya, mereka yang masuk ke dalam golongan-golongan yang beruntung adalah mereka yang beriman  dan kemudian mengamalkannya. Serta mereka yang memanfaatkan waktunya untuk saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Sehingga Imam Syafi’i pernah berujar, “Jika kita memahami ayat ini, niscaya sudah cukup untuk hidup kita”. Karena begitu dalamnya sumpah Allah terhadap waktu yang menjadi peringatan bagi manusia.
Pada dasarnya waktu yang kita gunakan tidak ada lain adalah untuk beribadah kepada Allah. Simaklah, iman, beramal shaleh, serta senantiasa menasehati berbuat kebenaran dan bersikap sabar. Keempat kata kunci ini kalau boleh kita rangkum dalam satu kata dapat bermakna ibadah. Karena ini sejalan dengan tujuan Allah menciptkan manusia, yaitu, “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku”.
            Beribadah bukan hanya sekedar shalat, puasa, zakat, atau pun haji saja. Melainkan ibadah dalam pengertian luas, yaitu mencangkup seluruh aspek kehidupan, mulai dari bangun tidur, hingga bangun tidur kembali, semuanya harus diisi dengan ibadah kepada Allah swt. Ini sesuai pula dengan komitmen kita yang selalu diucapkan ketika kita melaksanakan shalat: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semata-mata hanya untuk Allah Ta’ala”.
Jika demikian kita memahaminya lalu kita amalkan sumpah Allah terhadap waktu tersebut, maka insyaallah kita akan tergolong ke dalam orang-orang yang tidak merugi atau beruntung. Karena kita akan selalu memperbaiki kualitas keimanan kita, serta berbuat sholeh kepada sesama, dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesasabaran. Semuanya terngkan dalam bentuk beribadah kepada Allah. Wallahua’lam!

Minggu, 07 Agustus 2011

Puasa dan Kesehatan


 Pada bulan Ramadhan tahun 2009 lalu, kala itu saya masih aktif di organisasi mahasiswa, Lembaga Dakwah Kampus IAIN STS Jambi menggelar seminar yang bertajuk: “Puasa: Hidup Sehat Ala Rasulullah”. Tujuan dari seminar ini adalah menyadarkan diri mahasiswa sebagai kaum intelektual untuk memahami puasa dari sisi kesehatan. Pada bulan Ramadhan sebelumnya (2008), acara yang sama juga pernah digelar dengan tema yang sama.

Beberapa waktu setelah itu saya menemukan buku dengan judul: Fasting: A New Method in Treating Diseases yang ditulis oleh seorang ilmuwan Rusia, Alexy Sufurin. Menurutnya, puasa akan menyembuhkan berbagai penyakit seperti anemia, gangguan pencernaan (dyspepsia), radang usus yang kronis (chronic enteritis), bisul dan bisul bernanah, sakit paru-paru, rematik, encok, sakit gembur-gembur, penyakit pegal pada pinggang (sciatica), beberapa penyakit ophthalmic, diabetes, penyakit kulit, penyakit ginjal, dan sebagainya. 

Bahkan menurutnya, tidak hanya terbatas pada penyakit yang disebutkan tersebut saja, tetapi juga penyakit-penyakit yang berkaitan dengan pokok-pokok tubuh yang meliputi sel-sel tubuh seperti kanker, sipilis, dan pes. Penyakit ini dapat diobati dengan cara berpuasa. (Sufurin: 65).

Lebih lanjut, Syeikh Allamah Kamal Faqih Imani, seorang mufassir dan pemikir Islam kontemporer dalam tafsirnya, Nurul Qur’an, ketika menafsirkan kewajiban berpuasa dalam Q. S: Al-Baqarah: 183 dari, kemudian dikaitkan dengan kesehatan, menurutnya puasa itu berfungsi membakar materi-materi tubuh yang berlebih yang tak terserap. Selain itu puasa merupakan faktor menakjubkan yang bisa mengistrirahatkan organ-organ percernaan. Karena istirahat sangat diperlukan oleh organ tubuh kita di tengah sibuknya kita bekerja setahun penuh.

Lebih lanjut ia menguraikan, puasa yang sehat adalah seperti yang disarankan Islam, tidak boleh terlalu banyak makan ketika berbuka puasa agar dapat menikmati hasil positif berupa dampak puasa bagi kesehatan. Jika tidak, maka yang akan timbul adalah penyakit.

Jika menyibak kembali dalam kajian keislamannya, jauh sebelum pakar kontemporer dan para ilmuan baik barat maupun muslim menguraikan berbagai hikmah puasa dari sisi kesehatan, Rasulullah saw. sendiri dengan kejeniusannya yang menebus masa dan waktu telah mengabarkan kepada kita dalam sebuah hadisnya, beliau bersabda: “Berpuasalah, niscaya engkau akan sehat”.

Sedangkan dalam hadis yang lain juga disebutkan, beliau bersabda: “Perut adalah wadah bagi segala penyakit, sedangkan berdiet (penahanan diri) merupakan induk dari segala pengobatan”.

Karenanya, menjalankan ibadah puasa selain berfungsi menunaikan perintah Allah swt., sungguh puasa itu sangat baik untuk menjaga kesehatan kita. Seperti yang kita ketahui bahwa latar belakang penyakit adalah kerakusan. Karena bahan makanan ekstra yang tidak terserap dalam bentuk lemak yang menonjol atau gula berlebih pada darah tetap melekat pada bagian tubuh yang berbeda. Bahan-bahan berlebih ini yang ada di dalam otot badan merupakan bagian lumpur yang berbau di mana jenis-jenis mikroba dari beberapa penyakit menular dapat tumbuh. Cara terbaik untuk mempertahankan diri dari penyakit-penyakit ini adalah dengan memusnahkannya melalui penahanan nafsu dan berpuasa. Alangkah indahnya syari’at puasa yang diturunkan Allah ini. Berpuasa, berpahala, sehat lagi!.

Sabtu, 06 Agustus 2011

Miskin Di Tengah Umat Yang Berpuasa



Oleh: Edi Kurniawan

Jika anda menyesuri kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dll, maka dengan mudah anda menjumpai anak-anak gelandangan, orang-orang tua terlantar dan anak-anak yang putus sekolah, di mana mereka tinggal di kolong-kolong jembatan dan trotoar jalan. Bahkan untuk kota Jambi saja yang masih dikategorikan Kota kecil, pemandangan semacam ini sudah mulai menjamur.

Jika anda berjalan di kawasan simpang lampu merah Jembatan Makalam, Lampu Merah BI, atau di Kawasan Terminal Rawasari atau Pusat Kota Jambi yang menjadi pangkalannya. Maka mata anda akan menyaksikan, betapa mereka pada bulan ini keluar dari sarangnya dan menjadikan bulan ini sebagai momen mengharap balas kasihan.

Hal ini memberikan isyarat kepada kita bahwa masih banyak penduduk miskin di negeri ini. Padahal dalam teorinya, anak-anak terlantar dan orang-orang tua jumpo merupakan tanggungjawab Negara. Namun faktanya dengan angka yang cukup fantastis, negara pun kewalahan.

Betapa tidak, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa jumlah penduduk miskin Indonesia yang terhitung pada bulan Maret 2011 lalu mencapai 30, 02 juta orang atau 12, 49% dari total penduduk Indonesia. Turun 1,00 juta orang (0,84%) dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2010 yang sebesar 31,02 juta orang (13,33%). Sedangkan jumlah penduduk Indonesia berdsarkan hasil sensus pada Agustus 2010 berjumlah 237.556.363 orang, yang terdiri dari 119.507.580 laki-laki dan 118.048.783 perempuan.

Meskipun turun dari 13,33% menjadi 12,49%, persoalan kemiskinan tetaplah menjadi fokus utama. Mari kita hitung, 12,49% penduduk miskin dari 237.556.363 orang jumlah total penduduk Indonesia, berarti angka penduduk miskin Indonesia 19. 019. 725 orang pada Maret 2011. Jumlah yang fantastis bukan di tengah penduduk Muslim terbesar di dunia dan bangsa yang kaya akan sumberdaya alamnya.

Jika pemerintah mengklaim permaret 2010-2011, angka kemiskinan turun 0,84%, dengan hitungan kalkulasi kategori penambahan pendapatan perkapita perbulan, maka klaim tersebutpun menjadi persoalan. Karena berdasarkan data BPS, jumlah pendapatan perkapita perbulan yang dikategorikan miskin pada Maret 2010 yaitu di bawah Rp. 211. 726, menaik menjadi Rp. 233. 740 perkapita perbulan pada Maret 2011. Artinya, angka pendapatan perkapita tersebut bertambah sebesar Rp. 22. 014. Jika disamakan pendapatan perkapita permaret 2010 dengan permaret 2011, apakah angka kemiskinan itu menurun sebagaimana yang diklaim pemerintah, atau angka kemiskinan itu malah bertambah?

Hal ini kita bentangkan bukan bermaksud menutup mata atas usaha pemerintah, akan tetapi dengan harapan kita bisa mengambil hikmah dari laparnya kita pada siang hari pada bulan ini di tengah 19. 019. 725 orang yang dikategorikan lapar di negeri ini. Karena pada hakikatnya kita sebagai muslim, usaha pemberantasan kemiskinan ini bukan saja tugas pemerintah, akan tetapi itu juga PR kita semua. PR seluruh penduduk negeri ini.

*****
Puasa merupakan ibadah mahdhah, yang perintah dan pertanggungjawabannya secara pertikal. Namun, puasa juga akan memberikan pengaruh secara horizontal, salah satunya yaitu terbukanya hati untuk berbagi kepada sesama.

Diriwatkan dari Imam ash-Shadiq, sebuah hadis yang tersohor bahwa Hisyam bin Hakam bertanya kepada Rasulullah swa. mengenai alasan penetapan hukum Ilahiah ini, Rasulullah saw. bersabda: “Allah swt. telah memerintahkan puasa untuk menciptakan keseimbangan antara orang kaya dan orang miskin. Ikhwal ini agar orang kaya merasakan keadaan orang miskin dan akibatnya orang kaya menyayangi orang miskin. Dan karena, segala sesuatu tersedia bagi orang kaya, maka Allah swt. senang apabila keseimbangan ditegakkan di antara hamba-hamba-Nya. Oleh karenanya, Dia telah mentakdirkan orang kaya merasakan lapar dan kesulitan tersebut sehingga bersimpati kepada orang yang lemah dan merasa sayang kepada orang yang lapar”.

Hadis ini menjelaskan satu hikmah puasa kepada kita bahwa bagi si kaya agar kiranya dapat merasakan apa yang dirasakan oleh si miskin. Lalu, ia pun mengulurkan tangannya kepada saudaranya yang miskin.

Dalam ajaran agama, kemiskinan harus diberantaskan dan pemerataan kehidupan harus tercapai dalam semua lini kehidupan. Namun faktanya, di negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia ini, kesenjangan sosial antara yang kaya dan miskin sangat riskan. Yang kaya berpesta pora, sementara yang miskin bermuram durja. Maka jadilah si miskin dibudak oleh si kaya, hingga trend hedonisme menyebar di tengah masyarakat. Alhasil, menebarlah pola pikir singkat dalam meraih kekayaan, yaitu korupsi.

Ramadhan mendidik kita merasa peduli dan peka terhadap sosial. Dengan merasakan lapar, maka akan mengingatkan kita pada nasib penderitaan saudara kita yang kelaparan. Penghayatan yang seperti inilah yang pada akhirnya membuka tangan kita untuk berbagi.

Sudah barang tentu bagi kita yang berakal, dengan menjalankan perintah agama ini, dengan merasakan haus dan lapar pada siang hari, maka akan mengingatkan kita pada penderitaan saudara kita kaum mustadh’ifin atau orang-orang yang lemah.

Keadaan yang jelas dan objektif ini akan menimbulkan reaksi yang lebih efektif. Puasa akan menjadikan persoalan sosial yang besar, lalu menjelma menjadi sebuah bentuk yang jelas bagi orang-orang yang menjalaninya.

Sungguh, apabila jumlah orang kaya dan pejabat pemerintah di negeri ini atau kita seluruh umat muslim mengambil ibrah dari lapar pada siang hari di bulan ramadhan ini dan terbiasa berpuasa beberapa hari dalam setahun, maka akankah tetap ada orang yang lapar yang jumlahnya berdasarkan penghitungan BPS di atas 19. 019. 725 orang pada Maret 2011? Atau masih adakah jumlah pejabat pemerintah mengambil barang yang bukan haknya? Atau masihkah korupsi merajalela? Atau masih adakah guru-guru yang megambil sumbangan dengan kedok uang sekolah kepada murid-muridnya yang tidak mampu? Atau akankah kita temukan anak-anak terlantar yang putus sekolah dan orang tua jumpo yang tinggal di trotoar jembatan dan badan jalan?

Semoga ramadhan kali ini kita jadikan sebagai momen melatih diri untuk meningkatkan kepeduliaan kita pada sesama, sehingga keluarnya kita dari ramadhan ini kepekaan itu telah teraflikasikan. Dengan demikian, berarti kita telah berpartisifasi secara gradual dalam penurunan angka kemiskinan. Bukankah perubahan besar itu berawal dari perubahan kecil? Wallahua’lam!