Tanpa sadar, setelah membaca dua komentar atas catatan harianku,
Evaluasi Diri Selama Belajar Di CASIS, "Amin", katanya; tangunku bergerak mengeluarkan
laptop setangah usang dari tasku ditengah sunyi malam pojok
kampus, mengisi blog yang lama sudah berpuasa ini. Sunyi! Hanya diiringi suara
kipas angin.
1,5 tahun yang lalu, aku membuat catatan itu. Gundahan dan harapan hati
seorang anak kampung yang sedang berjuang di rantau orang. Iya, tangankulah
yang menulisnya. Dan itu 1,5 tahun yang lalu. “aku ingin menjadi Professor”,
kata anak kampung itu. Dan “itu pula cita-cita tertinggi”-nya, desusnya.

