Kamis, 25 September 2014

Ilmu dan Kemaksiatan


شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِيْ   #   فَأَرْشَدَنِيْ إِلَى تَرْكِ اْلمَعَاصِيْ

وَقَالَ: اِعْلَمْ بِأَنَّ الْعِلْمَ نُوْرٌ  #  وَنُوْرُ اللهِ لاَ يُؤْتِى لِعَاصِيْ!


Aku mengadu kepada Waqīʿ perihal buruknya hafalanku  #  maka ia menunjukiku supaya meninggalkan maksiat.

Dia (Waqīʿ) berkata: ketahuilah bahwa ilmu itu cahaya  #  dan cahaya Allah tidak akan mendatangi orang yang melakukan maksiat.

~ Dikutip dan diterjemahkan dari Dīwān al-Shāfiʿī, Syaʿir no. 51, hlm. 72 ~

Senin, 22 September 2014

Tit.. Tit… Rezeki


Hari ini, tidak seperti biasanya, Kuala Lumpur cukup panas, dan ditambahkan kebisingan disana-sini, membuat rasa malas keluar rumah. Namun, tetap saja kupaksakan. “dari pada di rumah, aku tidak bisa berbuat apa2, lebih baik ke Kampus”, pikirku.
Setelah zuhur, aku pun meninggalkan rumah, menyusuri lorong-lorong kecil di bawah rindangan pepohonan, senyuk, ditambah dengan sepoi angin. Lumayan, cool.
10 menit kemudian, setelah memasuki gerbang kampus, “tit… tit… tit….”, suara klakson motor dari belakang. Aku tak memperhatikan dan fokus saja pada jalanku.
Lalu, setelah sampai, ku parkirkan motor setengah tua ini di tempat biasa, dan “tit.. tit.. tit…”, suara klakson berbunyi lagi.
“Ngapain orang ini. Mau apa dia?, pikirku.
Ku lihat, ohhh… ternyata Bg Arif.
“Hayoo… ngapain ke kampus. Gajian ya?, dia memulai percakapan sembari membuka senyum khas ala sundanya.

Kamis, 18 September 2014

Cinta...


Galau sebentar ya..hahahahaaa
Karena lagi kurang mud meneruskan riset Tesis, jadi saya memilih baca yang lain saja, kumpulan Sya'ir Imām al-Shāfiʿī dalam karyanya, Dīwān al-Shāfiʿī. Yuuukkk kita bersyair..:-D

أنت حسبي، وفيك للقلب حبُ # ولحسبي إن صحَّ لي فيكَ حبُ
ما أبالي متى ودادك لي صحَّ # مِنَ الدَّهْرِ مَا تَعَرَّضَ خَطْبُ

Bagiku cukuplah engkau, karena dalam dirimu ada cinta untukku # dan cukuplah untukku jika benar cinta padamu itu untukku.
Aku tak peduli kapan cintamu benar-benar menjadi milikku # karena sepanjang waktu tak akan ada kesusahan yang dihadapi. 
(Dīwān al-Shāfiʿī (Damaskus: Dār al-Qalam, 1999), hlm, 45).





أكثر الناس في النساء وقالوا ان حب النساء جهد البلاء 
ليس حب النساء جهدا ولكن قرب من لا تحب جهد البلاء 

Kebanyakan manusia punya persepsi tentang perempuan, [bahwa] menurut mereka mencintai perempuan itu sukar. Namun [sebenarnya] bukanlah mencintai perempuan itu yang sukar, akan tetapi dekat dengan perempuan yang tidak menyukaimu, itulah juhdul balāʾ (hal yang sukar). 
(Ibid., hlm, 44).





Nb. Sayalah yang bertanggungjawab atas terjemahan sya'ir ini. Jika menurut anda terjemahannya kurang pas, mohon masukannya. Thanks.:-)




Rabu, 17 September 2014

Tentang Kebenaran

Ini adalah hasil diskusi saya dengan Pengamat Agama dan Sosbud, Prof. Lias Hasibuan, guru besar IAIN STS Jambi mengenai kebenaran Mutlak dan Relatif beberapa waktu lalu. Meskipun dalam beberapa hal saya sangat tidak sepaham dengan pandangan beliau, namun saya mencoba mengedepankan dalil, hujjah dan adab berdiskusi dalam menyangkal.

Bagi saya, beliau adalah orang yang berilmu; dan kepada siapa pun yang berilmu, saya akan menjaga adab dan takzim kepeda mereka. Namun, sayang, mungkin karena beliau tidak ada waktu luang, capek ngetik, dan diskusi via fb juga yang kurang efektif, sehingga tampak seolah-olah hujjah dan tanggapan beliau terlalu diplomatik dan tidak nyambung. Semoga suatu hari nanti saya dapat jumpa langsung dan diskusi inten dengan beliau. 

Berikut hasil diskusinya: 

berawal dari status beliau:
"Kebenaran yg sesungguhnya ada di sisi Allah SWT dan kebenaran relatif ada pada sisi manusia. Terimalah kbnrn relatif meski dgn nurani yg mungkin penuh tanya".

Diskusi:

Minggu, 14 September 2014

Sekolah Ingin Mendapatkan Professor?




Tanpa sadar, setelah membaca dua komentar atas catatan harianku, Evaluasi Diri Selama Belajar Di CASIS, "Amin", katanya; tangunku bergerak mengeluarkan laptop setangah usang dari tasku ditengah sunyi malam pojok kampus, mengisi blog yang lama sudah berpuasa ini. Sunyi! Hanya diiringi suara kipas angin.

1,5 tahun yang lalu, aku membuat catatan itu. Gundahan dan harapan hati seorang anak kampung yang sedang berjuang di rantau orang. Iya, tangankulah yang menulisnya. Dan itu 1,5 tahun yang lalu. “aku ingin menjadi Professor”, kata anak kampung itu. Dan “itu pula cita-cita tertinggi”-nya, desusnya.