Sabtu, 01 November 2014

Three Dimensions of the Ruh


Ibn 'Arabî's "hagiographical" work, the Ruh al-Quds fî munâsahat al-nafs, opens with the rather emphatic declaration "it is rare, these days, for companionship (suhba) to be based on anything save flattery (mudâhana)". [1] What follows in his introduction is a vicious attack on contemporary Sufism, mentioning the adoption of Sufi dress, the khânaqâh system, and a twice-iterated "ban" on the Sufi practice of samâ'. However, self-criticism by "Sufi" authors is in no sense a new genre initiated by Ibn 'Arabî. Indeed, the Shaykh tells us here that al-Qushayrî "most severely rebukes them at the beginning of his Risâla". (p. 42) It remains to be seen then, what positive contribution Ibn 'Arabî offers in his criticisms and in particular: if companionship is now "flattery-based", how is it that in this corrupt age, Ibn 'Arabî himself manages to form over fifty meaningful companionships of which, moreover, he has recorded some but "kept quiet" concerning most? (p. 139)
The work is naturally divided into three sections of roughly equal length by those biographical accounts. More fundamentally, however, as we shall see, there is a thematic division corresponding to the classic Sufi itinerary of mi'râj (ascent), pp. 31-88; the ruju' (return), pp. 139-176; and the divine sphere (mushâhada) where these multiple mi'râjs and ruju's actually take place, pp. 88-139.

Senin, 20 Oktober 2014

Pandangan Hidup Menurut Prof Naquib Al-Attas

Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas (tengah) bersama guru-guru dan pelajar CASIS
Oleh: Fiqih Risalah
(Kandidat Doktor di Centre for Advanced Studies on Islam, Science and Civilization (CASIS-UTM Malaysia/Topik ini sengaja diambil untuk mengulas kembali kuliah Prof. al-Attas mengenai Islamic Worldview)

KEMANA kah hidup kita yang singkat ini harus diarahkan? Pertanyaan yang remeh ini kiranya sesuai diutarakan kembali untuk melihat kondisi umat Islam di belahan bumi manapun yang sedang dilanda krisis akut dewasa ini. Identitas seorang Muslim semakin hari semakin ter-“Barat”-kan, dalam hal ini aspek yang sangat mendasar ialah pola pikirnya. Jika hal ini yang terjadi maka yang perlu dicermati dari krisis utama umat ini adalah krisis keilmuan yang tidak lagi mengindahkan wahyu ilahi sebagai landasan filosofisnya.
Melalui tulisan ringkas ini, penulis ingin mengajak para pembaca sekalian untuk menyimak kembali pandangan hidup Islam menurut sarjanawan Muslim kontemporer yang pandangan-pandangannya sangat tajam dan akurat dalam menganalisa problem umat Islam yaitu, Professor Dr Syed Muhammad Naquib al-Attas.
Tulisan ini memaparkan kembali pembahasan singkat tetapi padat yang diberikan oleh beliau ketika acara peluncuran magnum opus beliau yang berjudul “Prolegomena to the Metaphysics of Islam: An Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam.”
Tulisan ini adalah bagian dari ringkasan pidatonya dalam peringatan 14 tahun magnum opus (tepatnya tanggal 24 Juni 1996), yang dari segi kandungannya masih sangat relevan untuk melihat kondisi umat Islam sekarang ini, khususnya di Indonesia dengan maraknya ‘Westernisasi’ dalam semua sendi kehidupan.

Minggu, 19 Oktober 2014

الكهف و الرقيم في شرح بسم الله الرحمن الرحيم




Al-Kaḥf waʾl-Raqīm fī Sharḥ BismiʾlLāh al-Raḥmānir-Raḥīm atau gua dan tulisan tentang penjelasan kalimat Basmalah merupakan tafsiran Sufi atas kalimat Basmalah. Kitab ini dikarang oleh ʿAbd al-Karīm al-Jīlī yang meninggal tahun 832. Silahkan di download disini:Al-Kaḥf waʾl-Raqīm 

Cinta




Indah dibicarakan dan senang didengar, itulah cinta. Bagi pujangga, ‘cinta’ dipoles dalam bait indah. Bagi pemabuk asmara, ‘cinta’ membuat lupa masa dan gila pada yang dicintai bak legenda Laila Majnun dalam sastra Arab yang terkenal itu. Bagi thalib al-juhd, ‘cinta’ itu kala membaca dan mengulang kaji. Bagi Ahli Taṣṣawwuf, ‘cinta’ disebut mahabbah, yakni muraqabah ila Allah.

Oh… Pantas saja Ibn ʿArabī mengkinayahkan cinta hamba kepada Tuhan Pencipta Alam Raya bak seorang laki-laki yang benar-benar mencintai seorang perempuan, lalu ia akan menacari jalan untuk mendepatkan cintanya dengan cara menikahi wanita itu. Ia berkata:


ولما أحب الرجل المرأة، طلب الوصلة أي غاية الوصلة التي تكون في المحبة، فلم تكن في صورة النشأة العنصرية أعظم وصلة من النكاح.) أي، الجماع. (و لهذا تعم الشهوة أجزاءه كلها، ولذلك أمر بالاغتسال منه، فعمت الطهارة، كما عم الفناء فيها عند حصول الشهوة.) أي، ولأجل أن الرجل أحب المرأة والمرأة الرجل، وطلب كل منهما الوصلة إلى الآخر غاية الوصلة، عمت الشهوة جميع أجزاء بدنهما.



Cinta hakiki, tidak akan anda dapatkan kecuali dengan mengenal pasti terlebih dahulu, “siapa anda”?



من عرف نفسه فقد عرف ربه


“Siapa yang mengenal dirinya, niscaya ia akan mengenal Tuhannya”


Oh… Pantas saja Ahli Tasawwuf menjadikan hadith ini sebagai dasar cinta.

Ibn ʿArabī berkata:

“Pengenalan Insan akan hakikat dirinya merupakan tonggak awal untuk mengenal akan Tuhannya, karena dengan dia mengetahui Tuhannya merupakan hasil dari mengenal dirinya”. (Lihat, Ismaʿil al-Nabalusi, Jawahir al-Nushush fi hal kalimat al-fushush: II: 422).


Dan Raja Ali Haji, ulama dan pujangga itu bersenandung dalam baitnya sya’irnya, Gurindam Dua Belas, Gurindam I:

Barang siapa tiada memegang agama, sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.

Barang siapa mengenal yang empat, maka ia itulah orang yang ma'rifat.

Barang siapa mengenal Allah, suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.

Barang siapa mengenal diri, maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.

Barang siapa mengenal dunia, tahulah ia barang yang teperdaya.

Barang siapa mengenal akhirat, tahulah Ia dunia mudarat.



Dan Imam al-Ghazālī pula menjelaskan:

“Ketahuilah [oleh mu] pengetahuan tentang diri adalah kunci pengetahuan tentang Tuhan, sesuai dengan ayat: “Akan Kami tunjukkan ayat-ayat kami di dunia ini dan di dalam diri mereka, agar kebenaran tampak bagi mereka”, dan hadits Nabi: “Siapa yang mentetahui dirinya sendiri, niscaya akan mengetahui Tuhannya”. Nah, tidak ada yang lebih dekat kepada anda kecuali diri anda sendiri. Jika anda tidak mengetahui diri anda sendiri, bagaimana anda bisa mengetahui Tuhan anda?.

Jika anda berkata: “Saya mengetahui diri saya”, [jika] engkau maksudkan bentuk zahir anda [berupa] badan, muka dan anggota-anggota badan lainnya - pengetahuan seperti itu tidak akan pernah bisa menjadi kunci pengetahuan tentang Tuhan. Demikian pula halnya jika pengetahuan anda hanyalah sekedar bahwa kalau lapar anda makan, dan kalau marah anda menyerang seseorang; akankah anda dapatkan kemajuan-kemajuan lebih lanjut di dalam lintasan ini, mengingat bahwa dalam hal ini hewanlah kawan anda?

Pengetahuan tentang diri yang sebenarnya, ada dalam pengetahuan tentang hal-hal berikut ini: Siapakah anda, dan dari mana anda datang? Kemana anda pergi, apa tujuan anda datang lalu tinggal sejenak di sini, serta di manakah kebahagiaan anda dan kesedihan anda yang sebenarnya berada? Sebagian sifat anda adalah sifat-sifat binatang, sebagian yang lain adalah sifat-sifat setan dan selebihnya sifat-sifat malaikat. Mesti anda temukan, mana di antara sifat-sifat ini yang aksidental dan mana yan gesensial (pokok). Sebelum anda ketahui hal ini, tak akan bisa anda temukan letak kebahagiaan anda yang sebenarnya”. (Selengkapnya lihat, Kimiya al-Saʿadah, pasal: Maʿrifat al-Nafs).



Jumat, 10 Oktober 2014

The Travel of Ibn Baṭṭūṭah in The Malay World


 (Translated by Noor Idayu Abd Wahid, Aisyah Ngadiran, and Edi Kurniawan, from the book of Riḥlah Ibn Baṭṭūṭah, Chapter Min Banjālah Ilā Jāwah [from Bengal to Java])

We ride the junk and after fifteen days we arrived at a place named Barahnakar. The men there have mouths that look like dog’s mouth. They do not embrace Hinduism or any other religions. Their houses are made of cane, roofed with dried leaves, and built along the beachside. Their land is rich with banana trees and betel, and areca nuts. Their men look like us except that their mouths look like dog’s mouth, unlike their women, they are brilliantly beautiful.
            Their men do not wear any clothes and are always naked except for one man who always covers his genital with a pouch made of carved bamboo, hanged around his stomach. The women on the other hand cover their bodies with dried leaves. There are also amongst them Muslims who come from Bengal and Java, living in an area. These Muslims told me that the Barahnakar people make love like animals; they do not wear clothes and do it in open. One man can have up to 30 wives and they do not commit infidelity. If one man is caught red handed, they will be crucified to death or his friend or slave will be crucified to death as a replacement and he will be freed. The woman on the other hand will be raped by all of the King’s slaves one by one to her death in front of the King. And the corpse will be thrown into the sea.