Selasa, 07 Oktober 2014

Pembuka dan Penghalang Pintu Rizki



Tanpa sadar, setelah bertemu Prof…., hatiku langsung berdetak untuk menulis catatan ini. rizki! Ya, itulah yang akan dibincangkan.
Malam tadi, Prof… menginbox saya supaya menjumpai beliau di kantornya esok. Lalu saya jawab, “iya, insyaAllah saya akan datang”. Namun ada pertanyaan yang terdetak dalam hati, “untuk apa?”.  Mikir… mikir… dan mikir… jawabannya ada dua kemungkinan: 1. Memberikan ujrah atas pertolongan riset beliau beberapa hari lalu. 2. Memberikan projek baru. Brummm….. ternyata poin yang kedua yang betul, projek baru; poin pertama gak ada atau belum ada? Saya gak tahu.xixixixi..:-)
Setalah sampai, saudara Z sudah ada di kantor beliau. Lalu Prof…, menjelaskan:
“Edi, kita ada projek untuk mengedit, mentahqiq dan mentakhrij hadīth kitab Sayr al-Sālikīn karya Syeikh ʿAbd al-Ṣamad al-Falimbānī”, sembari beliau menyodorkan kitab tersebut kepada saya.

Mereka Para Pekerja “Kotor”


Sambil duduk di ruang riset, tiba2 seorang makcik datang menghampiriku:
“Dek, boleh tolong isikan pulsa ini”, sembari beliau menyodorkan HP dan kartunya.
“Boleh makcik, sini”, jawabku dengan logat Indonesia yang kental karena saya sudah yakin bahwa dia orang Indonesia.
“Awak orang Indonesia ke?”, dengan logat Melayu yang kental.
“Iya”
“Saye pun orang Indonesia. Asal daripada mane?       
“Sumatra, Jambi”
“Ohhh… saye dari Surabaya”.
“Belajar bagian ape kat sini”.
“Buat Pengajian Islam makcik”.

Senin, 29 September 2014

Kasyaf


Ahai… alunan gambus Turki dan tarian mistik Jalaluddin Arrumi lah mengantarkanku pada melodi yang melembutkan jiwa; menghanyutkan, diiringi melodi alam, labuhan angin pada dedaunan; menghanyutkan, diiringi pijar dan kerdipan bintang di tengah kegelapan malam tujuh petala langit dan bumi; menghanyutkan, bersama seteguk anggur Ankara.



Kuala Lumpur, 29 September 2014

Minggu, 28 September 2014

THE THEORY OF ʿAṢABIYYAH IN IBN KHALDŪN’S POLITICAL THOUGHT


THE THEORY OF ʿAṢABIYYAH IN IBN KHALDŪN’S POLITICAL THOUGHT

Its Relevance to Modern Muslim States




By Edi Kurniawan*



Abū Zayd ʿAbd al-Raḥmān ibn Muḥammad ibn Muḥammad ibn al-Ḥusayn ibn Muḥammad ibn Jābir Khaldūn Al-Ḥaḍramī or Ibn Khaldūn, is a well-known Muslim scholar, known as the father of Sociology through his book, Kitāb al-ʿIbar wa Dīwān al-Mubtadaʾ wa al-Khabar fī Ayyām al-ʿArab wa al-ʿAjam wa al-Barbar wa man ʻĀṣarahum min Dhawī al-Sulṭān al-Akbar. He however also masters in political, economic, and Islamic jurisprudence sciences. In the field of political science, one of the most important of his theory is his theory of ʿaṣabiyyah (Arabic: عصبية). ʿAṣabiyyah literally means al-muḥāmah and al-mudāfaʿah or those who is defensed and protected. However ʿaṣabiyyah that meant by Ibn Khaldūn here is not only limited to a family relationship attributed by kinship, but also a relationship arising from brotherhood and partnership. It is understood as consanguinity which has the power to bind the community. Thus, its bond will make a group of people feels as if they are in the same feeling; like one body, when part of it is hurt then the whole body will feel pain.

Kamis, 25 September 2014

Sejarah



Tengah malam, baru saja aku pulang dari kampus. Tiba-tiba Isma’il, teman serumah baruku, memulakan percapan dan duduk disampingku.
“Edi, I have a nice poetry”.
“Dia tahu sekali aku lagi tergila-gila sama Sya’ir Arab”, kataku dalam hati.
“What poetry is that”, aku bertanya.
Lalu ia membuka dan menyodorkan buku kepadaku, langsung ku tancap dan lihat judulnya, al-Islām fī Nījiriyā; artinya, Islam di Nigeria.
“Oh… the history of Islam in your country!”, gumamku.
Lalu dia menunjukkan bait-bait Syai’r tersebut. Subhanallah. Sungguh saat indah:



لَيْسَ بِاِنْسَانٍ وَلَا عَاقِلٍ  #   مَنْ لَّا يَعِي التَّارِيْخَ فِي صَدْرِهِ
وَمَنْ وَعَي أَخْبَارَ مِنْ قَبْلِهِ   #   أَضَافَ أَعْمَارًا اِلَي عُمْرِهِ

Bukan manusia dan bukan pula orang yang berakal   #   mereka yang tidak memahami sejarah [hingga terhujam] dalam dadanya.
Siapa yang memahami kabar-berita tentang orang-orang sebelumnya  #  seakan-akan ia telah menambahkan banyak umur pada hidupnya.


Dinukil dan diterjemahkan dari buku  al-Islām fī Nījiriyā karya Adam ʿAbdullah al-Ileri, ulama agung asal Nigeria, Afrika.