Sambil duduk di ruang riset, tiba2 seorang makcik
datang menghampiriku:
“Dek, boleh tolong isikan pulsa ini”, sembari beliau
menyodorkan HP dan kartunya.
“Boleh makcik, sini”, jawabku dengan logat Indonesia
yang kental karena saya sudah yakin bahwa dia orang Indonesia.
“Awak orang Indonesia ke?”, dengan logat Melayu yang
kental.
“Iya”
“Saye pun orang Indonesia. Asal daripada mane?
“Sumatra, Jambi”
“Ohhh… saye dari Surabaya”.
“Belajar bagian ape kat sini”.
“Buat Pengajian Islam makcik”.
“Oh… anak makcik ada lima. Semuanya sekolah. Ada yang
buat Perubatan (Kedokteran) dan Teknologi”. Mendengar itu, seorang pelajar memandang
sinis kepada makcik ini.
“Subhanallah”, hatiku berucap. Dia adalah orang mulia
dan berpandangan jauh kedepan. Dia adalah orang yang bersemangat; meskipun gajinya dari Kampus ini sudah bisa aku tebak, berapa! Rasanya, kecil kemungkinan untuk menyekolahkan anak di Kedokteran, meskipun di Indonesia. Namun Allah
berkata lain. Saya yakin, anak2nya adalah anak yang berkah; dan anak2 yang
bersemangat. Semoga Allah mudahkan usaha mendidik anakmu Makcik.
Makcik ini adalah orang TKI kedua yang saya jumpai di
Kampusku ini yang sukses menyekolah anaknya. Sungguh, pekerjaan mereka, bagi
yang memasang pundak tinggi alias “pesombong” adalah “kotor” (dalam artian di
tempat-tempat kotor seperti cleaning service etc, bukan berdasi dan ngantor). Namun,
sungguh, orang seperti makcik ini hatinya bening dan maju kedepan; mengalahkan
beberapa orang yang duduk tenang di atas Fortuner maupun BMW. Semangat makcik.:-)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar