Kamis, 24 Mei 2012

Rindang Pohon Cita Ahmad Dahlan




Izinkan aku menumpahkan tinta dan menerangkai abjad demi abjad tentang kisah dan niat nan mulia kita untuk menyemai, menanam, menjaga, dan menumbuh kanpohon-pohon rindang cita Ahmad Dahlan yang subur tinggi menjulang menaungi negeri ini dengan akar kuat menghujam bumi, hingga menjadi tempat berteduh atau meneduhkan dahaga musafir pelepas rehat melintasi alam. Yang sengaja atau disengaja mencari lembab udara atau sepoinya angin.

Atau menjadi tempat bagi burung-burung dan makhluk Tuhan lainnya bersiul atau bermain. Atau menjadi tempat bagi anak-anak negeri atau pengkaji membahas urusan umat dan negara. Atau menjadi tempat bagi kelembaban tanah, hingga menyuburkan. Atau menjadi tempat pencegaherosi, longsor, dan banjir, nestapa marabahaya.

Semuanya kan kuukir, dan kutorehkan tinta dalam bait-bait indahs yairkuini.

//2//

Dunia amatlah tua.
Meratab dan menangis hati nan sukma, melihat tingkah pemuda negeri dans erantau ini. Tontonan disuguhkan nafsu nan hawa, sementara lidah bersilat antara hitam dan putih. Zina kecil besar apapun bentuknya, sementera yang halal menjadi na’if. Judi miras serta menghilangkan nyawamewabahdimana-mana, sementara yang merobahamatlahsedikit.

adalah yang kusebutkan ini kan menjadi factor kendala urungan niat kita, agar pohon tak layu apalagi mati.

Kusebutkan bukan maksudku mencela zaman, tapi maksud hati ingin merangkaikan bait-bait indah akhlaqulmahmudah, semoga itu menjadi solusi. Dan juga bukan maksud hatiu ntuk mengajari, karena kusadar aku juga masih duduk mengaji. Tapi nasehat kebaikan itulah maksudnya wahai saudaraku para penjaga, petani, pemupuk dan penyiram yang masih bertahan, karena ku kan pergi mengejar citaku di negeri seberang sebentar lagi. Semoga kita dapat bersua kembali.

//3//

Kita adalah penjaga
Yang menjaga pohon kecil kita dari rumput-rumput nakal dan berbisa, dan dari binatang buas yang melata.

Lalu bilaku seru: wahai para penjaga . . .
Tidaklah salah bila kukatakan bahwa penjaga yang baik adalah penjaga yang jujur dan amanah dalam menjaga pohonnya, karena itu lah tercermin dalam sifat yang wajib bagi Nab kitai. Sidiq dan amanah itulah namanya. Sifat ini haruslah ada, bukan kizib ataupun khiyanat, apalagi baladah atau kitman bak sifat mustahil baginya.

//4//

Kita adalah petani
Yang menyemai, menanam, dan menumbuhkan.

Lalu bila kuseru: wahai para petani . . .
Tidaklah salah bila kukatakan bahwa petani yang baik adalah petani yang menyemai bibit-bibit unggul atau mengunggulkan yang tidak unggul, karena Kalam Ilahilah berkata: walyakhsyallazina lautaraku minkhalfihim zurriyyatan dhi’afa, khafu ‘alaihim . . .
Atau dalam kalam lainnya Tuhan juga berkata: ‘ud’u ila sabili ribbika bilhikmati walmau ’izatil hasanah.

Tidaklah salah juga bila kukatakan bahwa petani yang baik adalah petani yang menanam dan menumbuhkan pohonnya dengan pupukan cinta, karena Kalam Ilahi lah berkata: Innamal mukminina ikhwah. cintakan mencari jatidiri, hingga menjauhkan kelamnya dunia.

//5//

Kita adalah pemupuk,
Yang memupuki.

Lalu bila kuseru: wahai para pemupuk . . .
Tidaklah salah bila kukatakan bahwa pemupuk yang baik adalah pemupuk yang memberikan pupuk dengan kadar zat tinggi untuk pohonnya, karena itu lah tercermin dalam sifat wajib bagi Nabi kita, itulah fathanah namanya.

Atau bila kukatakan bahwa pemupuk yang baik adalah pemupuk yang teratur memupuki pohonnya, karena Nabi kita lah berkata: sebaik-baik pekerjaan adalah pekerjaan yang dilakukan secara terus-terus, itulah itqan namanya.

//6//

Kita adalah penyiram,
Yang menyirami.

Izinkan aku mengatakan bahwa penyiram yang baik adalah penyiram yang memberikan air yang segar untuk pohonnya, bukan menunggu siraman hujan karena kemarau tak menentu kapan datangnya.

//7//

Penutup jumpa kita, izinkan aku menorehkan bait-bait indah buah cita pikiran jiwa Syed Nuqib Muhammad Al-Attas dalam “Islam and Scularism” nama bukunya: tujuan menyiram adalah adab, atau akhlak bahasa agamanya. Maka celakalah ia yang menyiram dengan air berbisa atau beracun.

Celaka diri celaka agama
Layu pohon rindang pun jauh



Jambi, 21 Mei 2012



Posting Komentar