Selasa, 07 Agustus 2012

Beribrah Pada Perang Badar


Oleh: Edi Kurniawan

Di tengah terik matahari yang menyengat dan gurun pasir tandus gersang, hingga mengalirkan keringat yang menganak sungai di sekujur tubuh. Dalam keadaan lapar berpuasa, kerongkongan kering menahan rasa haus dan perut menahan lapar. Serta dalam keadaan tanpa adanya persiapan untuk berperang, kumandang untuk berjihad telah ditabuhkan. Allah swt. memerintahkan kaum muslimin kala itu untuk berangkat ke medan juang pada suatu tempat yang dinamakan Badar.

Maka berangkatlah Rasulullah saw. beserta para sahabatnya yang dipemimpin sendiri oleh Rasulullah saw. Dengan jumlah pasukan yang hanya 313 orang serta perlengkapan perang yang ala kadarnya berupa 3 ekor kuda, 9 baju besi, 8 buah pedang, dan 70 ekor unta, yang membuat sebagian mereka bergantian mengendarai seekor unta.

Sementara pasukan lawan berjumlah 1000 orang yang lengkap dengan perlengkapan perang berupa 700 ekor unta, 100 ekor kuda, persenjataan lengkap serta persediaan makanan mewah yang cukup untuk beberapa hari.

Kondisi semacam ini dalam hitungan logika dan matematis, sungguh suatu hal yang tidak memungkin kemenangan berada pada pihak kaum muslimin.

Namun atas izin Allah, kemenanganpun berada pada pihak kaum musimin. Allah turunkan 3000 para malaikat yang bersorban putih dan hijau untuk membantu kaum muslimin, hingga pada akhirnya musuh pun kotar katir ketakutan. Ada yang lari tunggang-langgang. Ada yang terbunuh. Dan ada pula yang menyerah dan menjadi tawanan kaum muslimin.

Dalam literatur Shirah Nabawiyyah atau Sejarah Nabi, perang ini dinamakan dengan Perang Badar yang jatuh pada tanggal 7 Ramadhan atau dua tahun setelah Hijrah.


*****
Meskipun dalam keadaan berpuasa, kobaran semangat mereka amatlah membara. Tidak ada alasan karena puasa mereka meninggalkan kewajiban jihad. Bahkan bukan hanya sebatas perang badar saja kobaran jihad kaum muslimin membara. Sejarah juga telah membuktikan, penaklukan kota konstantinopel oleh Shalahuddin Al-Ayyubi juga terjadi pada bulan puasa dan proklamasi kemerdekaan bangsa ini juga terjadi pada bulan puasa.

Hari ini, hati ini terasa teriris pilu melihat tingkah laku sebagian kaum muslimin. Karena alasan lapar dan haus di siang hari, kondisi ini dijadikan justifikasi untuk tidak berpuasa. Krisis keimanan. Korupsi merajalela. Penegakan hukum yang pandang bulu serta hukum yang bisa diperjual belikan.  

Belajar dari kobaran semangat yang dilandasi dengan kekuatan iman dan ketakwaan yang telah dicontohkan Nabi saw. dan para sahabatnya pada perang badar tersebut, sungguh perang ini telah memberikan ibrah penting kepada kita bahwa lapar dan dahaga di siang hari pada bulan yang mulia ini tidaklah menjadi penghalang untuk berjuang yang dilandasi  dengan keimanan dan ketakwaan  untuk meraih kemenangan.

Jika jihad yang dilakukan Rasulullah saw. dan para sahabatnyan adalah dalam makna yang sesungguhnya, yaitu perang di jalan Allah. Tentu makna jihad ini tidak terbatas pada ranah tersebut. Dalam arti luas, ini dapat dimaknai nahwa perang terhadap korupsi, penegakan hukum tanpa pandang bulu, menjalan tugas yang diamanahkan dengan sebaik-baiknya bagi abdi Negara, juga bisa dikatakan jihad.

Namun jihad yang terlebih besar lagi adalah jihad melawan hawa nafsu. Ini yang dikatakan oleh Rasulullah saw. kepada para sahabatnya: ‘kita baru saja pulang dari perang kecil menuju perang besar’. Lalu ada sahabat yang bertanya: ‘adakah jihad yang lebih besar dari perang ini ya Rasullah?. Maka Rasulullah saw. menjawab bahwa perang yang terbesar adalah perang melawan hawa nafsu.

Mari kita simak, berbagai persoalan dan beragam ‘hiruk pikuk’ yang terjadi pada bangsa ini berawal dari elemen-elemen yang ada di dalamnya menjadi hamba atas nafsunya.

Sudah sepatutnya bangsa ini beribrah pada hikayat tersebut bahwa jika bangsa ini ingin menjadi bangsa, meminjam istilah al-Qur’an disebut ‘baldatun thayyibun wa rabbun ghafur’ atau bangsa yang damai, sejahtera serta penuh dengan keampunan maka maka kita sebagai elemen bangsa harus menjadikan ramadhan ini sebagai madrasah untuk meraih ketakwaan.

Bukankah Rasulullah saw. dan para sahabatnya dapat mengalahkan musuh yang begitu besar dan kuat dalam perang badar tersebut karena mereka tidak menjadi hamba atas nafsunya dan menjadikan keimanan dan ketakwaan sebagai dasar pergerakan? Wallahua’lam!

Posting Komentar