Rabu, 05 Februari 2014

Antara Fakta dan Fiksi Sejarah Jambi (Catatan Untuk Wenny Ira)



Antara Fakta dan Fiksi Sejarah Jambi

(Catatan Untuk Wenny Ira)



Oleh: Edi Kurniawan*

Dua tulisan Wenny Ira R, S.IP., M.Hum dalam harian Jambi Ekspres, Sabtu, 11 Januari 2014 (Refleksi Spiritual Keagungan Melayu Jambi Pada Seni Budaya) dan Selasa, 03 Desember 2013 (Membuka Gerbang Peradaban Masyarakat Jambi) tentang peradaban Jambi, wabil khusus ketika dikaitkan dan diperbandingkan antara fakta Peradaban dan Budaya Jambi, penuh masalah.

Kata-kata “diidentik”, “citra”, dan “dianggap”, tanpa adanya analisis perbandingan yang mendalam ketika dilabelkan atas sumbangan Islam terhadap Peradaban Jambi bak permainan kata-kata dan menutup mata sebelah. “…mengenai isu kemelayuan yang identik dengan islam dan dianggap paling mendominasi dalam menyusun peradaban Jambi” katanya. Lalu dengan tergesa-gesa dia katakan, “perlu juga ditilik kemasa lampau, apalagi dengan adanya warisan cagar budaya candi Muara Jambi…” Tulisan keduanya pun juga kental dengan nilai-nilai ‘pemujaan’ kepada situs ini disamping beberapa seni hasil budaya Jambi.

Tidak bisa dinafikan bahwa Jambi mempunyai sejarah yang agung di masa silam. Jambi pernah menjadi Ibu Kota Kerajaan Melayu, pusat perdagangan dan pusat pesinggahan bagi para musafir yang lalu lalang dari Cina ke Nalanda, Bengal. Kata ‘Melayu’, menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, Pakar Sejarah dan Perabadan Alam Melayu, itu diambil dari nama suatu penduduk yang mendiami wilayah tua di kawasan Sumatra yang dikenal oleh orang orang Cina pada pertengahan abad ke tujuh sebagai ‘Mo-Lo-Yeou’, yang terletak di Jambi.[1]

Dalam sumber-sumber tertulis, nama ‘Melayu’ muncul pertama kali pada tahun 644 M. ketika Yijing yang menghabiskan waktunya di Palembang dan Jambi pada tahun 671 dan 689-695. Bahkan Yijing telah menyaksikan bahwa Foshi [nama tempat dalam catatan I-Tsing] - apakah dibawah kerajaan atau bagian dari Sriwijaya – telah berkembang pusat pengajian Buddha, sehingga ia menyarankan kepada Pendeta-Pendeta Buddha dari Cina untuk belajar agama di Foshi selama satu atau dua tahun sebelum mencari kebijaksanaan.[2]

Beberapa sejarawan mencoba menghubungkan pusat agama Buddha tersebut (Foshi) adalah Candi Muaro Jambi, yang menjadi Universitas Buddha terbesar di Sumatra. Di Universitas ini kita menganal Atisha, pembaharu Buddha di Tibet yang pernah belajar di Candi Muaro Jambi di bawah Dharmakitri. Namun sayangnya kata O. W.  Wolters, Jambi became known to the Chinese as rīvijaya’ [Sriwijaya]”,[3] sehingga peradaban agung Jambi pada zaman Buddha tertupi oleh Sriwijaya. Faktor inilah yang sedikit menyulitkan para sejarawan dalam mengungkap Misteri Candi Muaro Jambi yang disebabkan bertahun-tahun atau bahkan berabad-abad lamanya Jambi berada di bawah kekuasaan Sriwijawa.[4]

Terlepas bagaimana Misteri Candi Muaro Jambi dan segala keagungannya di masa silam, namun ada yang aneh menurut al-Attas bahwa sekiranya ada 1000 Rahib Buddha di Sumatra pada akhir abad ke-6 serta ada pula seorang tokoh agung Buddha semacam Atisha, namun sayangnya filsafat Buddha tidak berkembang dengan baik di Sumatra yang disebabkan, boleh jadi agama tersebut tidak berminat menyampaikan kepada masyarakat awam atau boleh jadi pula pendeta Buddha tersebut bukan berasal dari Pribumi, melainkan dari India Selatan yang ramai datang ke sana untuk mencari suasana sunyi dan damai untuk melakukan semedi. Lalu beliau menyimpulkan, “Sejauh yang kita ketehui, baik Hindu Melayu maupun Buddha melayu tidak pernah melahirkan seorang pun pemikir atau pun filosof yang terkenal [dari kalangan Pribumi]” (Neither the Hindu-Malay nor the Buddha Malay, as far as we know, have produced any thinker or philosopher of note).[5]

Sungguh aneh sekiranya orang-orang yang tinggal di sekitar Candi Muaro Jambi atau Jambi secara umum kala itu yang masih bergelut dalam Ateisme atau tidak beragama sama sekali, sementara di tempat mereka ada pelita. Patut dipertanyakan hakikat penerangan pelita itu: khusus untuk pemilik pelita sajakah atau ada sesuatu yang bermasalah dari pelitanya sendiri. Lebih aneh lagi ketika Wenny Ira mengatakan: “Citra budaya melayu yang identik dengan Islam di Jambi memang lebih dominan sejak keruntuhan peradaban melayu kuno yang lebih dominan dengan Budha”. Tampaknya beliau belum bisa membedakan hakikat penyebaran pelita agama samāwī dan mana pelita agama arḍī. Apanya yang dominan? Tidak ada hujah dan batasan ilmiah yang jelas diberikan.

Wenny Ira lebih terkesima dengan bukti fisik, ketimbang melihat hakikat ruh sejarah yang sebenarnya. Sebenarnya framework kajian sejarah semacam Wenny Ira tidak ada yang baru. Van Leur, serjana Belanda telah mendahului itu. Baginya, dalam menilai sejarah hanya dipandang dari sisi seni bina dan bangunan seperti Candi-Candi, keindahan pahatan-pahatan batu dan berbagai jenis wayang. Sehingga yang nampak di wajahnya dalam menilai peradaban adalah keindahan bentuk fisik.

Kita memang tidak menafikan bahwa kesenian adalah suatu ciri yang mensifatkan peradaban, namun pandangan hidup semacam itu merupakan kebudayaan estetik dan klasik yang dalam penelitian konsep peradaban sejarah bukanlah menandakan keluhuran budi dan akal serta pengetahuan ilmiah. Sejarah telah memberitakan bahwa semakin indah dan rumit gaya seni rupa, maka semakin menandakan kemerosotan budi dan akal, seperti yang tampak pada Acropolis Yunani, Perseporis Iran, dan Piramida Mesir.

Sepatutnya kita tidak boleh lupa bahwa bangunan-bangunan super wah, ternyata menjadi bukti kezaliman penguasa kepada rakyat. Piramida di Mesir, Tembok Besar Cina di Cina, Colosseum di Italia, telah memakan ribuan bahkan jutaan korban jiwa hanya untuk membentuk suatu peradaban lewat bangunan super wah. Karena itu, perlu juga penelitian yang mendalam sejarah super wah Borobudur dan sisi gelap penguasa, termasuk juga Candi Muaro Jambi dengan pertimbangan keluasan dan keunikan bangunannya serta artifak-artifak yang ditemukan dengan kondisi teknologi pada masa itu.



Fakta Sejarah dalam Bingkai Peradaban

Kedatangan Islam dalam kemasan metafisika tasawwuf telah memunculkan semangat rasional dan intelektual yang masuk ke dalam pikiran masyarakat, menimbulkan kebangkitan rasionalisme dan intelektualisme yang tidak kelihatan pada masa pra-Islam, termasuk juga di Jambi.

Dalam bidang intelektual - meskipun tidak mencapi kecemerlangan seperti peradaban Islam di bawah dinasti Abbasiyyah dan Umayyah – di Alam Melayu telah melahirkan orang-orang lokal yang menjadi tokoh intelektual seperti Abdussamad al-Falimbani, Khatib al-Minangkabawi, Abdurrauf al-Sinkili dan lain-lain.

Di Jambi sendiri kita mengenal adanya KH.Ahmad Syukur pendiri Pondok Pesantren Sa’adatuddaren, KH. Abdul Majid pendiri madrasah Nurul Iman. KH. Khotib Mas’ud, Haji Abdus Shomad Khop, Kms. H.M. Sholeh, Syeh Haji Usman, dll. Sementara pada zaman Buddha, sejauh yang kita ketahui, kita belum mengenal adanya tokoh pribumi (baja: Jambi) yang menjadi sebagi sosok intelektual, apatah lagi dari kelompok Ateisme.

Dalam bidang rasional pula, secara berangsur-angsur paham-paham mistis mulai dilupakan masyarakat, lalu diganti paham rasionalisme ketauhidan. Lalu aneh, sebagian paham-paham mistis yang berlawanan dengan nilai-nilai ketauhidan seperti dikatakan Wenny, “ini tidak bisa dihapuskan atas nama apapun”. Lalu bagaimana dengan masyarakat yang telah terhujam ketauhidan, patutkah Wenny menghukumi seperti itu. Bukankah telah terhujam dalam adat Melayu Jambi bahwa adat bersendi kepada syara’, syara’ bersendi kepada kitabullah. Tentu, bagi kaum kubu atau segelintir masyarakat yang masih bergelut dalam Ateisme, tidak ada kuasa bagi kita memaksakan, yang jelas kewajiban seorang Muslim adalah mendakwahkan.

Selain itu, Islam di Alam Melayu ini diterima bukan hanya dalam golongan bangsawan atau di istana serta muncul pula pusat-pusat ilmu, falsafah, pendidikan Islam di seluruh Nusantara, bukan seperti kasus Buddha dan Hindu.

 Di jambi sendiri kita mengenal akan kewujudan Pesantren Tahtul Yaman yang menjadi pusat penyebaran Islam ke hilir dan ke hulu. Lalu bagaimana dengan Universitas Buddha tertua di Muaro Jambi itu? Apa sumbangannya kepada masyarakat dari hilir sampai hulu? Sepertinya Wenny Ira terlalu harus objektif dalam menilai ini.

Selain itu juga muncul dan tersebar satu sistem akhlak yang baru yang umum untuk semua masyarakat. Sistem akhlak tersebut berdasarkan  al-Qurʾān, Sunnah dan syariah, mengantikan sistem tabu dan adat-istiadat yang sebelum Islam. Karenanya, dalam sumber tak tertulis, seluko-seloko adat Jambi kental akan nilai-nilai akhlak dan pengajaran. Sementara dalam bidang undang-undang, muncul pula satu sistem undang-undang yang adil dan berlaku tidak hanya untuk rakyat yang lemah, tapi menyeluruh.

Karenanya, bagi seorang Muslim dalam menilai peranan dan kesan sejarah Islam, ciri-ciri yang harus dicari bukanlah pada tugu, candi dan wayang atau ciri-ciri yang mudah dipandang jasmani, atau  juga kekuatan lainnya seperti jumlah tenaga manusia atau kekuatan bala tentera, walaupun berperan dalam membantu kekuatan suatu bangsa, namun itu bukanlah kekuatan hakiki, apatah lagi memberikan arah dan makna dalam pembangunan yang menyeluruh. Hal ini juga diakui oleh Ibn Khaldūn, ahli filsafat sejarah kita dalam karyanya al-Muqaddimah.[6] Sementara bagi al-Attas, kekuatan hakiki dan penilaian tersebut berada pada bahasa dan tulisan yang sebenarnya yang mencarakan daya budi dan akal merangkum pemikiran.[7]

Pernyataan dua tokoh ulung ini boleh kita uji kebenarannya. Bangsa Jerman meskipun berhasilkan menaklukkan Imperium Roma sebelum sebelum abad ke-6 Masehi, namun mereka juga terpaksa mengakui keistimewaan dan keagunangan kaum yang ditaklukkan, persis seperti Bangsa Mongol, meskipun berhasil menghancurkan Baghdad sebagi pusat peradaban Islam pada abad ke-12 Masehi, namun setelah itu pun mereka terislamkan.

Akhir kata, pernyataan-pernyataan di atas bukan bermaksud menyudutkan agama dan kepercayaan lain atau pun menafikan keberadaan situs Candi Muaro Jambi. Namun, tempatkanlah secara adil yang sesuai pada porsinya masing-masing. Jangan hanya terpikat karena iklan sampo lalu oli pun dijadikan sampo. Dalam kata lain, jangan mengaburkan fakta sejarah menjadi fiksi dan fiksi menjadi fakta, bak dalam legenda Aladdin yang menukarkan lampu ajaib dengan lampu baru hanya karena terpesona dengan keindahan zahir lampu baru; itu namanya dungu!. Wallahuaʿlam! [*]

(*Penulis adalah putra Jambi yang sedang bergelut dalam Studi S2 dalam bidang Filsafat dan Peradaban Islam di Centre for Advanced Studies on Islam, Science, and Civilization (CASIS) – UTM International Campus Kuala Lumpur atas utusan IAIN STS Jambi).







[1] Lihat selengkapnya, Historical Fact and Fiction, (Kuala Lumpur: UTM Press, 2011), hlm. xv


[2] Selengkapnya lihat Leonard Y. Andaya, “The Search for the ‘Origin’ of Melayu” dalam  Journal of Southeast Asian Studies, Vol. 32, No. 3 (Oct., 2001), hlm. 319.


[3] Lihat selengkapnya,  A Note on the Capital of Śrīvijaya during the Eleventh Century” dalam Artibus Asiae, Vol. 23, (1966), hlm. 225.


[4] Selengkapnya lihat, Ibid., h. 225-239; O. W. Wolters, “Śrīvijayan Expansion in the Seventh Century” dalam Artibus Asiae, Vol. 24, No. 3/4 (1961), h. 417-424.


[5] (Lihat, Preliminary Statement on A General Theory of the Islamization of  the Malay-Indonesian Archipelago (Kuala Lumpur, 1969, h. 3-4)


[6]  Lihat, al-Muqaddimah, Penj. Franz Rozenthal (New Jersey: Bollingen/Princeton University Press), h. 2013-214


[7] (Lihat, Islam dan Sejarah Kebudayaan Melayu (Kuala Lumpur: ABIM, 1999), h. 19).



Daftar Bacaan

Ibn Khaldun, al-Muqaddimah, Penj. Franz Rozenthal (New Jersey: Bollingen/Princeton University Press).

Syed Muhammad Naquib al-Attas, Historical Fact and Fiction, (Kuala Lumpur: UTM Press, 2011).

__________ , Islam dan Sejarah Kebudayaan Melayu (Kuala Lumpur: ABIM, 1999).

___________ ,Preliminary Statement on A General Theory of the Islamization of  the Malay-Indonesian Archipelago (Kuala Lumpur, 1969)

Leonard Y. Andaya, “The Search for the ‘Origin’ of Melayu” dalam  Journal of Southeast Asian Studies, Vol. 32, No. 3 (Oct., 2001).

O. W.  Wolters,  A Note on the Capital of Śrīvijaya during the Eleventh Century” dalam Artibus Asiae, Vol. 23, (1966).

__________ , “Śrīvijayan Expansion in the Seventh Century” dalam Artibus Asiae, Vol. 24, No. 3/4 (1961)





Tidak ada komentar: