Jumat, 06 Februari 2015

Khalaqa

Khalaqa
Oleh Edi Kurniawan

Hamba yang sadar, mencari kepada siapa sepatutnya ia mencinta guna kelangsungan hidupnya: Aisyah, Fatimah, Zahrah, atau Zulaikha?
Lalu hamba yang sadar berfikir sedalam-dalamnya tentang wujud dan kewujudan diri. Bernatijahlah hamba, adanya hamba bukan karena diadakan oleh dan diri hamba; bukan pula diniatkan dan dititahkan oleh dan diri hamba; dan bukan pula dirancang oleh dan diri hamba. Hamba tiada kuasa, apatah lagi memiliki mukjizat Nabiyyullāh ʿIsā ʿAlayhi ʾl-Salām!
Hamba pun sadar dalam mengartikan tujuan melangsungkan hidup sepatutnya mengetahui, bahwa di dalamnya ada Pemberi kewujudan, dan ada Pemberi hidup padanya, oleh dan siapa yang menjadikan, dan oleh siapa yang menahan dan meniadakan.
Tuhan pun berkata:
“Sesungguhnya telah datang kepada manusia suatu ketika dimana ia belum sedikitpun ada. Kemudian Kami jadikan manusia itu dari setetes air yang bercampur, supaya Kami menguji dia; lalu Kami jadikan dia mendengar lagi melihat. Sesungguhnya Kami menunjuki ke arah jalan ke benaran, maka ada yang berterimakasih di antara mereka dan ada pula yang ingkar.”
Hamba dengan sadar merenungkan ini, menatijahlah bahwa hamba sepatutnya mendekapkan buah cinta kepada pemilik cinta.

Hai… bukan Aisyah bukan Fatimah dan bukan pula Zahrah atau Zulaikha!


Kuala Lumpur, 5 Februari 2015
Posting Komentar