Kamis, 04 Juli 2013

Belajar kepada Imam Zakariya al-Anshari


Oleh: Edi Kurniawan*



Suatu siang, daripada melewatkan waktu begitu saja maka aku memutuskan untuk berkunjung ke Perpustakaan Dar al-Hikmah kampus International Islamic University Malaysia (IIUM), Selangor Malaysia. Perpustakaan ini boleh dikatakan sebagai Perpustakaan terlengkap dalam kajian keislaman untuk kawasan Asia Tenggara. Karena itu, ia menjadi tempat favoritku dalam menghabiskan waktu luang.

Di depan Dar al-Hikmah


Awalnya aku mengunjungi rak-rak buku tasawwuf, maka di sana aku jumpai sebuah kitab yang cukup tebal karya Imām Zakariyā al-Anshārī. Kemudian rak-rak buku ini aku tinggalkan, lalu menuju rak-rak buku Fiqh. Di rak-rak buku Fiqhpun aku jumpai kitab yang cukup tebal, juga karya Imam Zakariya al-Anshari dalam bidang Fiqh dengan judul al-Ghurar al-Bahiyyah fi Syarh al-Bahjah al-Wardiyyah. Ada rasa penasaran, siapa dia? Maka kitab yang tebalnya sebelas jilid itu aku ambil dan ditumpukkan diatas meja baca, lalu menuju ke rak-rak buku tasawwuf untuk mencari kitab yang aku jumpai diawal tadi. Namun sayang, karena pertemuan yang tidak disengaja dan ditambahkan dengan banyaknya kitab-kitab disana maka kitab itupun tidak berhasil ditemui lagi.





Sekilas Tentang Imam Al-Anshari dan al-Ghurar al-Bahiyyah

Nama lengkapnya adalah Zakariya bin Muhammad al-Anshari. Beliau merupakan seorang Qadhi (hakim), Mufassir, penghafal Hadis, Faqih dan ahli tasawwuf serta penganut mazhab Syafi’ī. Tak ada kepastian tahun kelahirannya. Menurut Imam al-Sayuthi, ulama yang hidup semasa yang juga kawannya memprediksi, tahun kelahiran Al-Anshari adalah 824 H, di Sunaikah, desa kecil yang terletak antara kota Bilbis dan Al-Abbasiyah, timur Mesir.

Dari kecil beliau sudah hafal al-Qur’an. Dan semenjak balita beliau ditinggal wafat oleh ayahnya, sehingga hidup menjadi anak yatim. “Beliau tumbuh dalam keadaan fakir miskin”, begitulah catatan muhaqqiq (editor) kitab al-Ghurar al-Bahiyyah dalam bab pengantar. “Selama belajar di al-Azhar, aku sering kelaparan karena tidak punya uang untuk membeli makanan”, kata Syeikh Abdul Wahab dalam mengulangi ungkapan Imām Zakariya Al-Anshari.

Kitab al-Ghurar al-Bahiyyah fi Syarh al-Bahjah al-Wardiyyah ini merupakan syarahan atau penjelasan beliau atas kitab al-Bahjah karya ‘Umar Bin Mazfur Bin ‘Umar Bin Muhammad Bin Abi al-Faris Abu Hafd Zainuddin Bin al-Wardi al-Mu’arri al-Kindi atau lebih dikenal dengan al-Imam al-Wardi yang hidup antara 1292-1349 M/691-749 H. Dalam terbitan Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut – Libanon, kitab al-Ghurar al-Bahiyyah fi Syarh al-Bahjah al-Wardiyyah ini terdiri dari 11 jilid yang berisikan seputar permasalah fikih dalam mazhab Syafi’i.

Di Indonesia, kitab ini merupakan salah satu rujukan penting bagi para ulama, peneliti hukum dan guru-guru pesantren dalam memahami masalah fiqh. Sementara di lingkungan pesantren sendiri beliau terkenal melalui karyanya Fath al-Wahhab: bi Syarh Manhaj al-Thullab yang dikaji oleh para santri dalam masalah fiqh.



Hikmah

Meskipun beliau berasal dari keluarga yang serba kekurangan, akan tetapi hari-hari beliau dihabiskan untuk belajar, membaca, menelaah dan menulis kitab-kitab dan mengajar hingga mengantarkan beliau menjadi orang yang alim di Mesir pada penghujung abad ke 14 Masehi dan awal abad 15 Masehi.

Jika karya-karya beliau disusun rapi, barangkali tingginya hampir separuh tinggi orang dewasa atau lebih. Apa pelajaran yang dapat diambil? Cinta, semangat dan berkarya. Ya, itulah kata tepat. Meskipun beliau berasal dari keluarga miskin, namun semangatnya tidaklah miskin.

Sikap kecintaan kepada ilmu seperti beliau jarang kita temui pada diri pemuda sekarang ini. Amat menyedihkan ada diantara keluarga, teman, atau masyarakat kita yang diberikan kelebihan, baik itu harta maupun kemampaun, namun kelebihan itu tidak digunakan dengan semestinya.

Ilmu agama dikesampingkan. Orang-orang lebih bangga memasukkan anak-anaknya pada Perguruan Tinggi umum dari pada Perguruan Tinggi Agama. Orang-orang lebih rela membayar tinggi les-les bahasa Inggris, sementara peran guru ngaji dikesampingkan. Kebanyakan para pelajar sudah salah niatnya, belajar sebagai perantara untuk mendapatkan pekerjaan. Alhasil, terciptalah generasi hedonisme yang lupa pada agamanya.

Siapa membaca akan mengetahui. Siapa menulis tak akan mati. Demikianlah inskripsi-inskripsi kuno dalam piramid, di dinding-dinding gua, atau batu-batu cadas peninggalan ribuan tahun dahulu kala. Juga karya-karya ulama dalam manuskrip-manuskrip atau kitab-kitab. Para penulisnya telah lama tiada, namun apa yang telah ditulis seakan kekal abadi. Imam Zakariya al-Anshari adalah salah satu dari banyak ulama yang wajib kita teladani. “Demi huruf nun dan demi pena serta apa yang mereka goreskan”, firman Allah dalam kitab suci al-Qur’an (QS. 68:1).



Sumber bacaan:

Zakariya bin Muhammad al-Anshari, al-Ghurar al-Bahiyyah fi Syarh al-Bahjah al-Wardiyyah. (Beirut – Libanon: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah), jilid I, hlm. 3-6.



*Mahasiswa Master di Centre for Advanced Studies on Islam, Science and Civilization (CASIS) – Universiti Teknologi Malaysia Kuala Lumpur


Artikel ini telah dimuat dalam Majalah Islamedia Online, 7 Juli 2013: Klik disini













Posting Komentar