Rabu, 28 Agustus 2013

Hadiah Yang Tak Disangka




Sudah beberapa hari aku mencari Prof. Khalif Muammar, namun hari ini baru berjumpa. Tujuannya meminta masukan dan perbaikan atas proposal tesisku. Namun, ada satu hal yang tak kusangka, setelah konsultasi selesai, tiba-tiba beliau menanyaiku:

“Anda bisa membaca tulisan Jawi, edi?”.

“Insya Allah”, jawabku.

“Bisa terjemahkan kitab ini?”, sambil memberikan sebuah kitab karya Raja Ali Haji, Ulama asal Riau abad ke 19 yang tersohor dengan Gurindam 12nya itu.

Tanpa banyak fikir langsung aku iyakan saja, “Iya ustas, insya Allah.
Setelah sampai di rumah cukup lamalah aku berfikir,“mengapa Prof. Khalif memintaku untuk menterjemahkan ini? Apakah tidak ada mahasiswa yang lebih dari padaku?”.

Pertanyaan ini ‘menghantui’ fikiranku. Bukan karena tidak sanggup atau malas untuk mengerjakannya. Bukan… bukan itu… Aku malah dengan senang hati menerima pekerjaan ini dan membantu beliau.

“sekali mendayung dua tiga pulau terlampau”, artinya pekerjaan ini menjadi sarana untuk lebih menguasai tulisan Jawi dan khazalah Alam Melayu. Tapi, mengapa dia mempercayaiku? Itulah pertanyaan yang tak terjawab. Padahal teman-teman sekelas ada yang lebih dan berpengalaman dalam bidang Jawi.

Yah… pertanyaan-pertanyaan ini aku tinggalkan. Boleh jadi tujuan beliau untuk mendidikku agar lebih menguasi khazanah Alam Melayu. Namun yang pasti, aku sungguh sangat bersenang hati menerima dan mengerjakan tugas beliau ini. Barangkali jika tidak ada tugas yang beliau berikan, bukan tidak mungkin tapi sedikit lambat aku mengetahui pemikiran Raja Ali Haji. Sungguh ini sebuah gerbang ilmu bagiku.



*****

Tanpa berfikir panjang, secara berangsur-angsur tugas inipun langsung aku kerjakan. Berawal dengan membaca halaman demi halaman, lalu perlahan-lahan aku goyangkan jariku untuk menari-nari di atas keyboard laptop mungilku. Di tengah kesibukan kuliah, ternyata dalam dua hari sudah belasan halaman dikerjakan.

Setelah berjalan sejauh itu, aku memutuskan menemui beliau untuk menanyakan metode translasi dan beberapa kata yang masih asing. Hari itu setelah kuliah aku langsung ke ruangan beliau:

“Assalamu ╩┐alaikum”, ucapku.

“Wa╩┐alaikum wasalam”, jawabnya dari ruangan.

Tidak aku putuskan untuk masuk tanpa dipersilahkan atau beliau membuka pintu. Inilah adab yang Islam ajarkan jika kita bertamu. Namun tidak lama kemudian, suara sepatu beliau menghentak-hentak di lantai menuju arah pintu.

“Oh… Edi… silahkan masuk”.

“Terimakasih ustas”.

Saya langsung memulai pembicaraan,

“Ustas, saya datang karena ada hajat. Meminta kejelasan metode translasi dan menanyakan beberapa kata yang masih asing dan baru aku ketahui”.

Tanpa fikir panjang aku keluar laptop dari tasku dan aku perlihatkan pekerjaanku.

“Oh Edi… anda belum nyambung kemarin ya? Saya meminta untuk mengetik ulang tulisan Arab Melayunya, bukan terjemah ke Rumi (Romawi). Kalau terjemahnya sudah”, beliau menjelaskan sambil mencari terjemahan tersebut di antara tumpukan kertas kerja beliau di atas mejanya.

“Nah.. ini sudah…”, beliau sodorkan terjemahan tersebut.

Dalam beberapa waktu aku terpaku dihapan beliau. Lalu aku memohon maaf, “maaf ustas mungkin saya belum nyambung kemarin”, meskipun dalam hatiku ada rasa keyakinan bahwa permintaan beliau untuk menterjemahkan beberapa waktu lalu. Nah… lagi-lagi kita juga bertemu dengan persoalan adab terhadap guru. Kita harus memilih kata-kata yang tepat jika mau bertanya atau jika kita berbuat salah pun harus mengakui kesalahan kita dan meminta maaf.

“Bagaimana, bisa kerjakan tulisan Jawinya?”, beliau menegaskan kembali.

“Sebelumnya saya mohon maaf ustas, saya tidak terbiasa dengan pengetikan Jawi (Arab), tapi kalau romawi tangan saya sudah lancar”.

“Ini ada keyboard Arab, silahkan dibawa”, beliau sambil menunjukkan keyboard komputer di meja kerjanya.

“Nanti ustas mengetik pakai apa?”, tanyaku.

“Saya masih ada satu lagi”.

Keyboard sudah disodorkan dan dari wajah beliau tampak sangat berharap aku bisa membantunya. Lalu tanpan berfikir panjang, “Insya Allah ustas akan saya kerjakan, tapi saya belum bisa fokus untuk mengerjakan itu sekarang, mungkin setelah progress report tesis nanti”.

“O iya, gak apa-apa”.

Lalu aku masukkan keyboard tersebut kedalam dan aku langsung pamit pulang. Sungguh pekerjaan ini berat bagiku, di tengah perjalanan, aku termenung, lalu cepat-cepat aku alihakn fikiran itu, “INILAH HADIAH DARI GURUKU”. Kerjakan dulu baru menilai. Jika memang tidak sanggup, maka aku akan berterus terang nanti, yang pasti segala potensi dan keikhlasan dikerahkan untuk mengerjakannya. Selama ini sudah banyak jasa beliau padaku. Atas pertolongan beliau aku bisa aku bisa mencicipi kuliah S 2 dan dibebaskan biaya SPP. Apa yang aku kerjakan sungguh tidaklah setimpal dari jasa beliau. Mungkin, itu pula HADIAHKU UNTUK BELIAU”. Bukankah Allah telah memerintahkan, “jika engkau dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah dengan yang setimpal atau lebih”. Hidup ini akan indah jika saling tahu peran masing-masing. Bukan begitu kawan?



Posting Komentar