Rabu, 08 Oktober 2014

Teralamat Untukmu Bidadari Hati

Edi Kurniawan

Izinkan aku bercerita tentang
gemuruh cinta di dada, biar nanti tercatat dan engkau tahu

Ku terjatuh, lalu ku bangkit; jatuh, lalu bangkit kembali. Berulang dan berkali
Hanya untuk dirimu!

Izinkan aku berkisah tentang
pengorbanan cinta: sungguh, dua tahun lebih aku paksakan diriku untuk memahamimu; setiap kemolekan tubuh dan gaya bahasamu, aku ikuti dan pelajari. Sekiranya lalat-lalat nakal hinggap padamu, takkan kuizinkan. Apalagi kotoran najis; anjing dan babi
Betapa besarnya cintaku padamu!

Biarlah cerita ini melekat bersama embun pagi, supaya nanti engkau tahu bahwa aku bersungguh untuk mengkhitbahmu


Adakah engkau tahu wahai bidadari hati yang mengenang hati bahwa
1 tahun terakhir ini, engkau selalu ada di benakku: siang dan malam; petang dan pagi; jam dalam hitungan menit; menit dalam hitungan detik; bahkan saat tertidurpun aku sering memimpikanmu
Sungguh, tidak bisa aku melupakanmu!

Lagi, izinkan aku bercerita
untuk membuktikan cintaku, hampir kemana aku pergi, suratmu selalu dibawa untuk dibaca; agar selalu terkenang, melekat dan terhujam dalam jiwa.

Sungguh, kalimat indah yang tersusun dari huruf demi huruf dalam suratmu, jika aku faham, betapa senangnya daku; serasa mengalahkan tumpukan emas segunung dan bergunung-gunung

Sungguh, untuk memahamimu otakku harus diperas karena bahasamu begitu klasik dan “romantis”; yang menyiratkan “nasab”mu dari garis keturunan yang berilmu lagi mulia
Tiada alasan bagiku untuk tidak memilihmu!

Karenanya:
Jika bahasamu tidak atau belum aku fahami, sekuat tenaga aku cari tahu
Kamus dibuka!
Juga, masih tidak faham, aku bertanya
Itu semua untukmu sayang!

Hayolah sayangku, datanglah padaku dengan cepat
Berikan pemahaman padaku

Engkaulah goresan jiwa: al-Muwāfaqāt fī Uūl al-Sharīʿah karya Ibrāhīm al-Lakhmī al-Shāibī

Aku ingin segera wisuda.:-)



Kuala Lumpur, 8/10/2014
Posting Komentar