Minggu, 19 Oktober 2014

Cinta




Indah dibicarakan dan senang didengar, itulah cinta. Bagi pujangga, ‘cinta’ dipoles dalam bait indah. Bagi pemabuk asmara, ‘cinta’ membuat lupa masa dan gila pada yang dicintai bak legenda Laila Majnun dalam sastra Arab yang terkenal itu. Bagi thalib al-juhd, ‘cinta’ itu kala membaca dan mengulang kaji. Bagi Ahli Taṣṣawwuf, ‘cinta’ disebut mahabbah, yakni muraqabah ila Allah.

Oh… Pantas saja Ibn ʿArabī mengkinayahkan cinta hamba kepada Tuhan Pencipta Alam Raya bak seorang laki-laki yang benar-benar mencintai seorang perempuan, lalu ia akan menacari jalan untuk mendepatkan cintanya dengan cara menikahi wanita itu. Ia berkata:


ولما أحب الرجل المرأة، طلب الوصلة أي غاية الوصلة التي تكون في المحبة، فلم تكن في صورة النشأة العنصرية أعظم وصلة من النكاح.) أي، الجماع. (و لهذا تعم الشهوة أجزاءه كلها، ولذلك أمر بالاغتسال منه، فعمت الطهارة، كما عم الفناء فيها عند حصول الشهوة.) أي، ولأجل أن الرجل أحب المرأة والمرأة الرجل، وطلب كل منهما الوصلة إلى الآخر غاية الوصلة، عمت الشهوة جميع أجزاء بدنهما.



Cinta hakiki, tidak akan anda dapatkan kecuali dengan mengenal pasti terlebih dahulu, “siapa anda”?



من عرف نفسه فقد عرف ربه


“Siapa yang mengenal dirinya, niscaya ia akan mengenal Tuhannya”


Oh… Pantas saja Ahli Tasawwuf menjadikan hadith ini sebagai dasar cinta.

Ibn ʿArabī berkata:

“Pengenalan Insan akan hakikat dirinya merupakan tonggak awal untuk mengenal akan Tuhannya, karena dengan dia mengetahui Tuhannya merupakan hasil dari mengenal dirinya”. (Lihat, Ismaʿil al-Nabalusi, Jawahir al-Nushush fi hal kalimat al-fushush: II: 422).


Dan Raja Ali Haji, ulama dan pujangga itu bersenandung dalam baitnya sya’irnya, Gurindam Dua Belas, Gurindam I:

Barang siapa tiada memegang agama, sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.

Barang siapa mengenal yang empat, maka ia itulah orang yang ma'rifat.

Barang siapa mengenal Allah, suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.

Barang siapa mengenal diri, maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.

Barang siapa mengenal dunia, tahulah ia barang yang teperdaya.

Barang siapa mengenal akhirat, tahulah Ia dunia mudarat.



Dan Imam al-Ghazālī pula menjelaskan:

“Ketahuilah [oleh mu] pengetahuan tentang diri adalah kunci pengetahuan tentang Tuhan, sesuai dengan ayat: “Akan Kami tunjukkan ayat-ayat kami di dunia ini dan di dalam diri mereka, agar kebenaran tampak bagi mereka”, dan hadits Nabi: “Siapa yang mentetahui dirinya sendiri, niscaya akan mengetahui Tuhannya”. Nah, tidak ada yang lebih dekat kepada anda kecuali diri anda sendiri. Jika anda tidak mengetahui diri anda sendiri, bagaimana anda bisa mengetahui Tuhan anda?.

Jika anda berkata: “Saya mengetahui diri saya”, [jika] engkau maksudkan bentuk zahir anda [berupa] badan, muka dan anggota-anggota badan lainnya - pengetahuan seperti itu tidak akan pernah bisa menjadi kunci pengetahuan tentang Tuhan. Demikian pula halnya jika pengetahuan anda hanyalah sekedar bahwa kalau lapar anda makan, dan kalau marah anda menyerang seseorang; akankah anda dapatkan kemajuan-kemajuan lebih lanjut di dalam lintasan ini, mengingat bahwa dalam hal ini hewanlah kawan anda?

Pengetahuan tentang diri yang sebenarnya, ada dalam pengetahuan tentang hal-hal berikut ini: Siapakah anda, dan dari mana anda datang? Kemana anda pergi, apa tujuan anda datang lalu tinggal sejenak di sini, serta di manakah kebahagiaan anda dan kesedihan anda yang sebenarnya berada? Sebagian sifat anda adalah sifat-sifat binatang, sebagian yang lain adalah sifat-sifat setan dan selebihnya sifat-sifat malaikat. Mesti anda temukan, mana di antara sifat-sifat ini yang aksidental dan mana yan gesensial (pokok). Sebelum anda ketahui hal ini, tak akan bisa anda temukan letak kebahagiaan anda yang sebenarnya”. (Selengkapnya lihat, Kimiya al-Saʿadah, pasal: Maʿrifat al-Nafs).



Posting Komentar