Senin, 20 Oktober 2014

Pandangan Hidup Menurut Prof Naquib Al-Attas

Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas (tengah) bersama guru-guru dan pelajar CASIS
Oleh: Fiqih Risalah
(Kandidat Doktor di Centre for Advanced Studies on Islam, Science and Civilization (CASIS-UTM Malaysia/Topik ini sengaja diambil untuk mengulas kembali kuliah Prof. al-Attas mengenai Islamic Worldview)

KEMANA kah hidup kita yang singkat ini harus diarahkan? Pertanyaan yang remeh ini kiranya sesuai diutarakan kembali untuk melihat kondisi umat Islam di belahan bumi manapun yang sedang dilanda krisis akut dewasa ini. Identitas seorang Muslim semakin hari semakin ter-“Barat”-kan, dalam hal ini aspek yang sangat mendasar ialah pola pikirnya. Jika hal ini yang terjadi maka yang perlu dicermati dari krisis utama umat ini adalah krisis keilmuan yang tidak lagi mengindahkan wahyu ilahi sebagai landasan filosofisnya.
Melalui tulisan ringkas ini, penulis ingin mengajak para pembaca sekalian untuk menyimak kembali pandangan hidup Islam menurut sarjanawan Muslim kontemporer yang pandangan-pandangannya sangat tajam dan akurat dalam menganalisa problem umat Islam yaitu, Professor Dr Syed Muhammad Naquib al-Attas.
Tulisan ini memaparkan kembali pembahasan singkat tetapi padat yang diberikan oleh beliau ketika acara peluncuran magnum opus beliau yang berjudul “Prolegomena to the Metaphysics of Islam: An Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam.”
Tulisan ini adalah bagian dari ringkasan pidatonya dalam peringatan 14 tahun magnum opus (tepatnya tanggal 24 Juni 1996), yang dari segi kandungannya masih sangat relevan untuk melihat kondisi umat Islam sekarang ini, khususnya di Indonesia dengan maraknya ‘Westernisasi’ dalam semua sendi kehidupan.

***
Pada awal pidatonya, Prof Naquib ketika menyinggung alasan kenapa ditulisnya buku tersebut, beliau menyatakan, “Sebenarnya orang-orang Islam belum sadar tentang apa yang disebut metafisika, padahal itu adalah suatu kewajiban bagi kita untuk memahaminnya sebab pandangan mengenai hakikat dan alam terangkum dalam suatu kerangka metafisik. Kalau kita tidak memahami kerangka metafisik kita sendiri, tentu kita akan keliru dan terperosok ke dalam pandangan mengenai alam dan hakikat yang berbeda, dan yang lain, dan yang tidak sesuai dengan jiwa kita, bahkan yang tidak benar. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami apa yang disebut metafisika dalam bingkai Islam.”
Dalam buku Prolegomena tersebut yang artinya mukadimah mengenai apa yang dimaksudkan sebagai Metafisika Islam, Prof. al-Attas memberikan beberapa kesimpulan, beberapa sumber-sumber penting yang menggambarkan hakikat dan kebenaran alam semesta menurut Islam.
Selanjutnya, mengenai Metafisika Islam itu sendiri, menurut beliau, adalah sangat penting bagi umat Islam untuk memahaminya karena sebuah pandangan hidup (Worldview/Weltanschauung) setiap peradaban pastilah terpancar dari dalam sistem metafisik tertentu demikian juga yang terjadi pada masyarakat Barat.
Tidak ada satu pun pandangan hidup yang muncul dengan sendirinya melainkan dari sebuah sistem metafisik tertentu. Karena itulah, ini adalah suatu hal yang penting bagi umat Islam untuk memiliki pemahamannya sendiri berkaitan dengan apa yang disebut dengan ‘sistem metafisik’.
Prof. al-Attas mengungkapkan bahwa para ulama’ di kebanyakan negara Muslim ketika membicarakan tentang worldview, banyak berbicara hanya tentang pandangan terhadap dunia ini. Menurutny, mereka telah mensekulerkan pemahaman mereka sendiri akan arti ‘worldview’ yang sebenarnya. Mereka mengira bahwa hidup ini adalah dengan melihat dunia ini. Tetapi bagi umat Islam, khususnya yang cerdas, mereka tahu bahwa kata dunia tidak dipahami sebagai terpisah dari kata akhirat, sebagaimana Islam dan al Quran memandangnya.
Karena itu, ketika kita berbicara tentang worldview, kita tidak bermaksud melihat dunia ini. Yang kita maksudkan adalah pandangan akan kenyataan dan kebenaran sekaligus, serta pandangan mengenai keberadaan atau wujud, karena pandangan hidup dalam Islam berbicara tentang keberadaan secara keseluruhan, tidak hanya wujud di dunia ini, tetapi tentang dunia dari mana kita berasal dan tentang dunia ke mana kita menuju. Jadi, jika umat Islam tidak mengambil pelajaran dari ini, Prof. al-Attas mengatakan bahwa mereka pasti akan sesat dalam memandang sesuatu, yaitu dalam hal keimanan serta agama; dan perkara ini harus diakui sedang berlangsung di masyarakat kita.
Sistem metafisik adalah tentang sesuatu yang ada di pikiran. Jadi, yang dimaksudkan oleh Prof. al-Attas ketika membicarakan pembahasan ini permulaannya adalah dari dalam pikiran manusia. Tidak diragukan lagi, ada sebagian teknokrat, menurut pandangan beliau, yang berpikir bahwa segala yang bersifat pragmatis adalah hanya yang berurusan dengan apa yang di luar pikiran (bersifat fisik). Mereka berpikir bahwa hal-hal yang ada dalam pikiran adalah tidak penting. Mereka salah karena setiap hal yang beersifat praktis berasal dari dalam pikiran. Dengan kata lain, pikiran adalah sumber dari hal-hal yang bersifat fisik ini dan setiap orang harus mengetahui apa yang berlaku dalam pikirannya.
Pembangunan dan Gunung Ego
Prof. al-Attas memberikan satu analog yang menarik tentang ontologi dari pikiran manusia ketika mengisahkan adanya satu perselisihan antara kelompok seniman dari Yunani dan China. Mereka berselisih tentang hal yang sama. Masing-masing menyatakan bahwa mereka adalah seniman terbaik di dunia. Kemudian ada seorang penguasa berkata, “Biar saya putuskan siapa yang lebih baik di antara kalian berdua. Karena itu anda harus bersaing di tempat yang luas ini tetapi dengan dipisahkan oleh tembok pembatas untuk kalian berdua dalam melakukan pekerjaan kalian masing-masing. Saya akan menyediakan semua yang kalian perlukan dan bila telah selesai, saya akan menilainya dan memutuskan siapa yang terbaik.”
Mulailah para seniman tersebut bekerja; yang satu dengan warna, dengan segala macam corak; sedangkan yang satunya lagi dengan batu-batuan dan sejenisnya. Setelah memakan proses beberapa bulan, dengan suara gemuruh, pihak China menyatakan bahwa mereka telah menyelesaikan pekerjaan mereka, demikian juga pihak Yunani.
Kemudian, penguasa tersebut memerintahkan untuk merobohkan tembok pemisah yang memisahkan dua kubu. Ketika ia melihat ke kiri (karya China), ia melihat sebuah keindahan yang menakjubkan, warna dan desain yang rumit serta ukiran-ukiran, hati penguasa tersebut tertegun melihat keindahan yang ada. Sedangkan ketika ia melihat sisi yang lain di sebelah kanannya (karya Yunani), yang dia lihat hanyalah sebuah papan yang sangat tinggi terbuat dari marmer putih tetapi dia tidak melihat marmer tersebut.
Sebaliknya, yang ia lihat adalah karya seniman China yang tercermin di sana yang telah diperindah sehingga apa yang ada pada pihak China tampak di dalam karya pihak Yunani. Jadi, ketika ia melihat hal tersebut, ia sesungguhnya melihat bahwa hasil kerja seniman Yunani lebih menakjubkan dari pekerjaan seniman China, karena karya seniman Yunani tidak hanya berisi materi fisik, tetapi non-fisik juga. Yang mana hal ini merupakan gabungan antara keduanya.
Demikianlah keberadaan pikiran manusia, dengan kata lain, ia bersifat kedua-duanya baik fisik maupun non-fisik. Sebenarnya, kata fisik berasal dari “mind”.
Jadi, karena hal inilah seharusnya tidak ada seorangpun yang memperhinakan peran pikiran. Dalam kasus masyarakat Barat, mereka tidaklah meremehkan pikiran (mind), tapi yang mereka lakukan adalah memperhinakan metafisika. Mereka telah mengabaikan banyak hal yang sebenarnya merupakan karakteristik dari pikiran, seperti intuisi dan agama. Mereka telah mengabaikan hal-hal ini, dan ironisnya kita tampaknya telah melakukan hal yang sama dengan apa yang mereka lakukan.
Dunia tidak terdiri dari para ilmuwan dan teknokrat saja. Teknokrat dan ilmuwan tidak akan ada tanpa adanya orang-orang yang benar-benar berpikir; yang dari pikiran mereka menghasilkan suatu karya, apakah itu seni atau yang lainnya. Oleh karenanya, harga diri (kebanggaan) suatu bangsa manapun tidak tergantung pada bangunan-bangunan (infrastruktur fisik). Kita telah melihat betapa banyak bangsa-bangsa di masa lalu telah membangun bangunan-bangunan yang megah, sampai disebut sebagai tujuh keajaiban dunia, tetapi bukan karena bangunannya yang membuat mereka menjadi bangsa besar.
Bangunan-bangunan tersebut hanyalah sebuah efek dari sesuatu yang lebih besar dari itu. Sekali lagi, ini berkaitan dengan apa yang ada dalam pikiran, seperti yang ditangkap dalam kasus marmer di atas. Hal inilah yang membuat mereka besar, yang membuat orang selalu ingat. Jadi tidak ada kaitannya dengan pembangunan gedung-gedung yang tinggi. Semua yang bersifat eksternal ini seperti suatu eksibisi, tentu saja, hal tersebut tidak memerlukan apa yang namanya kedewasaan (sifat kebesaran).
Pembahasan selanjutnya yang menjadi sorotan Prof. al-Attas ialah tentang kata ‘kedewasaan’ (maturity) yang sebenarnya berasal dari kosa kata ‘pembangunan’ (development), yang mana mereka sendiri (Barat) menyebutnya sebagai kata-kata amoeba (amoeba words). Ini dikarenakan, menurut beliau, kata-kata tersebut tidak memiliki karakter dan bentuk yang pasti, berubah setiap saat, bahkan ia tidak memiliki makna. Karenanya mengapa mereka melakukan hal tersebut. Perlu diingat bahwa kata ‘pembangunan’, para filosof dan pemikir Barat sendiri mengetahui kata tersebut hanya berasal dari kebudayaan Barat, yang merupakan produk dari pemikiran Barat sekitar abad 18 dan 19, kira-kira dalam masa revolusi industri.
Kenyataannya, kata ini tidak terdapat dalam perbendaharaan kata di Barat sebelum waktu itu. Ini merupakan hasil dari sekulerisasi sebagai suatu program falsafah hidup yang ada dalam masyarakat Barat sejak 700 tahun lalu.
Ide tentang ‘pembangunan’ –yang mana semua Muslim sekarang ini juga menggunakannya dan tidak disadari– bahwa tidak ada istilah yang sepadan dalam bahasa Negara Muslim manapun. Dalam bahasa Melayu sendiri, kata ‘pembangunan’ pada hakikatnya adalah sebuah ide/gagasan yang asing. Bahkan, mungkin, untuk peradaban Timur secara keseluruhan, adalah hal yang aneh, karena gagasan ‘pembangunan’ menunjukkan jenis evolusi yang linier, sejenis proses dari ‘infantility’ ke ‘maturity’.
Begitulah, bagaimana orang-orang sekuler menafsirkan diri mereka sendiri bagaimana ‘untuk menjadi dewasa dan berkembang’, yang mana ini merupakan bahasa yang sering digunakan manusia Barat modern yang sekuler. Bahkan ketika kita menggunakan istilah ini, sebenarnya kita telah mengakui presuposisi hegemoni Barat, yaitu seolah-olah kita menyatakan bahwa ‘kami telah menyerahkan diri kami’.
Jadi, ketika kita berkata ‘pembangunan’, ini menunjukkan bahwa kita tidak sedang ‘bangun’, tetapi kita masih tertidur, kita telah dibodohi; inilah arti sebenarnya dari “pembangunan” yang dimaksudkan.
Untuk kejelasan dalam memahami makna ‘kedewasaan’. Prof. al-Attas memberikan sebuah gambaran yang berbeda, yaitu tentang pendaki gunung yang sedang mendaki gunung tertinggi di dunia. Pendaki ini apabila telah sampai di puncak, yang mana bagian atasnya merupakan daratan es, melihat di puncak tersebut ada seekor ular besar yang menakjubkan dalam es. Kemudian ia bergumam, “Saya akan memotong es ini dan akan saya bawa ular ini ke bawah (kota) untuk dipamerkan ke orang-orang yang ingin melihat makhluk ajaib ini.”
Dia akhirnya membawa bongkahan es itu dan dipamerkan di pusat kota. Warga yang datang dan melihat berdecak kagum dengan makhluk yang berukuran besar itu. Kemudian secara bertahap, tentu saja, matahari mulai memanas dan mencairkan es secara perlahan sampai pada akhirnya es tersebut benar-benar telah meleleh, maka tinggal-lah seeokor ular yang telah dihangatkan kembali oleh sinar matahari, ular tersebut tidak mati dan benar-benar hidup karena hanya beku dan kemudian mengamuk serta menghancurkan seluruh kota beserta penduduknya.
Yang dimaksud dengan gambaran di atas oleh Prof. al-Attas adalah sebuah perumpamaan tentang ‘gunung ego’. Bahwa ular tersebut mengibaratkan sebuah ego yang sombong serta arogan, sebuah ketidaktahuan yang berada dan menetap serta siap menyerang setiap jiwa manusia. Hal itu adalah suatu penaklukan ego suatu gunung dalam artian ‘kedewasaan’ dan ‘keberanian’, bukanlah penaklukan gunung dari segi fisiknya. Hal itulah yang harus terus-menerus diperjuangkan dan dilawan setiap hari.
Itulah sebabnya mengapa Nabi Muhammad SAW berkata bahwa “jihad yang paling besar adalah perjuangan melawan diri sendiri.” Jadi yang dimaksud ‘kedewasaan’ merujuk kepada kepada hal itu, bukan kepada penaklukan gunung. Dengan hal yang demikianlah Prof. al-Attas ingin menggugah pikiran kita bahwa mengapa kita menggunakan ‘bahasa sekulerisasi’, bahasa orang-orang modern Barat yang sekuler, kecuali jika kita ingin menjadi diri kita seperti itu, berpikir seperti itu dan menggunakan istilah yang sama dengan yang mereka gunakan?
Jadi dalam hal ini, ketika kita sebagai umat Islam berbicara tentang metafisika dalam Islam, kita seharusnya merujuk pada visi tentang kenyataan dan kebenaran sekaligus yang ada pada pikiran umat Islam yang cerdas. Ia berada dalam pikiran manusia yang diproyeksikan ke dalam dunia nyata.

Dalam pandangan Prof. al-Attas ada beberapa elemen mendasar dalam metafisika Islam yang tidak berubah. Hal ini didasarkan pada sejarah dan fakta, tidak hanya bersifat teoritis. Ini mengenai sesuatu yang konstan, misalnya, konsep Allah; makna wahyu; sifat agama; sifat manusia dan psikologi kejiwaannya; makna pengetahuan; kebebasan; khalifah, nilai-nilai kebajikan, serta makna kebahagiaan. Ini semua adalah kata kunci yang menggambarkan pandangan hidup Islam yang melandasi sistem metafisika dalam Islam; yang tidak berubah sepanjang masa, tidak seperti yang berlaku di Barat.
Di Barat, mereka telah berubah setiap saat. Perubahan yang berkelanjutan ini, membuat pandangan hidup mereka, yang sebenarnya sebuah system yang besar, menjadi hanya sebuah skema (paradigma). Apa yang mereka sebut sebagai ‘paradigma’ juga harus kita gunakan, seolah-olah worldview dalam Islam juga seperti sebuah paradigma yang harus berubah dan berkembang.
Dalam sejarahnya, mereka mengembangkannya karena seperti itulah yang telah terjadi kepada mereka. Hal ini disebabkan karena sebuah ‘kekecewaan’, kegagalan misi Kristiani untuk mengkristenkan orang-orang Barat, dengan kata lain ini adalah suatu penolakan orang-orang Barat akan keimanan Kristen. Hal ini sebenarnya pandangan yang tragis dalam melihat kehidupan; dan bahwa cara pandang yang sedemikian rupa, tampaknya diusahakan untuk mereka paksakan kepada para intelektual di dunia Muslim.
Hal lain yang dikritik oleh Prof. al-Attas mengenai kejiwaan manusia modern adalah, seperti adanya sistem parlemen di dunia yang mengharuskan semua keputusan yang dibuat harus diketahui oleh publik, maka komunitas ilmiah dan para teknokrat kita yang hidup di abad ini telah mengubah lebih daripada yang telah dilakukan oleh suatu sistem parlemen.
Mereka tidak merasa berkewajiban untuk memberikan alasan apapun atau melakukan sesuatu tanpa menjelaskannya kepada masyarakat. Ini semua adalah hasil dari gagasan ‘development’ dan kebangkitan ‘metode ilmiah’ yang telah diterapkan pada perilaku manusia.
Oleh karenanya, mereka telah merendahkan martabat manusia. Tentu saja, hal tersebut tidak membahayakan para teknokrat karena mereka telah melupakan bagaimana untuk menjadi manusia. Hal tersebut justru membahayakan mereka yang masih memiliki jiwa kemanusiaan di dalam diri mereka.
Ironisnya, mereka juga tidak tahu, menurut cendekiawan dan filosof Barat sendiri, bagaimana caranya untuk menjadi manusia. Mereka tidak tahu di mana kita berada sekarang dan dari mana kita berasal serta ke mana kita akan beranjak. Mereka tidak ingin tahu hal tersebut karena jenis pengetahuan yang mereka miliki menghalangi mereka untuk berbuat yang demikian. Pandangan Prof. al-Attas tersebut juga telah dikatakan oleh para filosof, pemikir, serta psikolog Barat. Seperti yang terangkum dalam The Development Dictionary (ed. Wolfgang Sachs), mereka mengkritisi “development” sebagai suatu persepsi yang menirukan kenyataan yang ada, sebagai suatu mitos yang menyenangkan masyarakat, dan sebagai suatu fantasi untuk memenuhi hasrat nafsu insaniah.
Di antara para psikolog modern, ada yang mengatakan akan adanya penghapusan makna. Misalnya, Jeffrey Burke Satinover mengatakan bahwa ada hal yang terus berubah serta telah kehilangan maknanya dan akhirnya tentu saja arti dari keberadaan manusia itu sendiri. Jadi hal ini terjadi karena munculnya ‘anarki sosial’.
Beberapa ilmuwan sosial dalam pandangan Prof. al-Attas bertanggung jawab atas ini, karena mengisyaratkan seolah-olah masyarakatlah yang memiliki wewenang (otoritas).
Penting sekiranya bagi para pemimpin Muslim untuk mengetahui, selama ilmu pengetahun dijadikan alat ukur, bahwa kekuasaan tidak seharusnya diberikan kepada rakyat karena umumnya mereka tidak memiliki ilmu. Dan tragisnya, kadangkala masyarakat awam diminta untuk mengambil suatu keputusan. Karena itulah kemunculan ‘anarki sosial’ dan juga ‘anarki intelektual’ yang semuanya tampak subjektif.
Menurut Attas, kita akan kembali ke zaman Yunani kuno di mana terdapat orang-orang memanggil diri mereka dengan ‘sophists’ yang menolak kemungkinan adanya pengetahuan. Demikianlah masyarakat kita sekarang, ketika mereka bertanya akan sesuatu, mereka akan mengutarakan satu pandangan dan yang lain juga akan mmengutarakan pandangan yang lain juga.
Jadi, pada kenyataannya mereka menolak kemungkinan adanya pengetahuan. Dengan kata lain, mereka tidak pernah mengakui adanya otoritas apapun. Satu hal yang harus diingat, otoritas apapun —baik otoritas politik, agama, budaya, sastra— harus dihormati, terutama yang berada di posisi kekuasaan, para pemimpin kita. Tetapi jika mereka tidak menghormati suatu otoritas, sebagai misal, ada beberapa kesalahan dalam hal bahasa, dan orang-orang mengatakan bahwa ini adalah salah sedangkan orang-orang yang berpengetahuan tentang hal tersebut juga berkata bahwa ini adalah salah, namun para pemimpin mereka tetap bersikeras mengatakan bahwa ini adalah benar, hal ini berarti sebuah penolakan terhadap kekuasaan.
Demikian juga dalam hal-hal lain terutama dalam perkara agama, Prof. al-Attas berpendapat bahwa bagi seseorang yang tidak cukup bekal dalam hal agama sebaiknya untuk idak berbicara tentang perkara agama terutama di khalayak ramai karena akan membawa mudharat yang bisa menimbulkan pertikaian.
Akhirnya Prof. al-Attas menyatakan bahwa kehormatan suatu bangsa pada pangkalnya akan bergantung pada integritas dan keluhuran ilmu pengetahuan yang ada pada mereka, karena dengan ilmu pengetahuanlah yang akan membawa kepada kerendahan hati.
Dengan pengertian bukan tunduk kepada kejahilan. Beliau mengungkapkan satu peribahasa Melayu, “ikut rasmi padi jangan ikut rasmi lalang.” Dengan kata lain, karena tangkai ‘padi’, bila penuh dengan gandum, dia menunduk ke bawah sebagai ibarat untuk segala hal yang baik. Analogi ini pada hakikatnya bersumber dari al-Qur’an. Al-Qur’an berbicara tentang pohon yang sarat dengan buah-buahan dan bila ada buah-buahan, semacam menggantung ke bawah, sebagaimana halnya hikmah dan otoritas. Itulah yang dimaksud dengan kerendahan hati. Berkaitan dengan kata “tawaddu” yang berasal dari bahasa Arab “wada’a”.
Tentu saja, dalam kamus-kamus pada umumnya mengartikan “tawaddu” dengan membuatnya rendah diri atau merendahkan diri. Namun dalam kenyataannya, kamus-kamus tersebut tidak begitu tepat dalam mengartikannya. Arti yang tepat berdasarkan pengamatan beliau adalah ‘meletakkan sesuatu pada tempatnya yang sesuai’, itulah arti yang sebenarnya karena berarti ‘meletakkan sesuatu’. Adalah satu kesalahan dalam menyalahartikan kewenangan, sebagai contoh, Jika seorang pemimpin diajak untuk rapat, tidak benar bagi orang tersebut untuk membiarkan dirinya duduk di belakang.
Dia harus menempati posisi depan karena itu adalah tempat yang sesuai baginya. Jika tidak, berarti dia tidak memiliki rasa hormat terhadap dirinya, tidak ada rasa hormat terhadap ilmu pengetahuan yang ia punya, yang telah Allah anugerahkan kepadanya. Jadi, kata tawaddu’ berarti mengerti dan memahami serta menempatkan diri kita di tempat yang semestinya. Ini berarti kita harus memiliki ilmu pengetahuan yang tepat.
Sebagai kesimpulan, Prof. al-Attas menyinggung tentang hak atas sesuatu (right places) sebagai inti dari semua karya-karyanya; bahwa adab adalah kesesuaian dengan hak atas sesuatu tersebut, bahwa keadilan adalah kondisi sesuatu yang berada di tempat yang tepat dan sesuai, bahwa keberadaan (eksistensi) adalah tempat segala sesuatu apapun yang tersusun dalam suatu keteraturan dari kenyataan ini. Jadi, ide tentang mengetahui tempat yang jelas dan sesuai (proper place) memerlukan ilmu pengetahuan yang mana seseorang selanjutnya harus bertindak berdasarkan hal tersebut.
Jadi, kerendahan hati tidak berarti bahwa kita harus sujud di hadapan kejahilan dan ketidakadilan. Beliau menegaskan bahwa kita harus menyatakan apa yang benar meskipun kadangkala merugikan diri kita. Sehingga kita perlu membicarakan tentang agama dalam pandangan Islam dan juga filsafat ilmu (philosophy of science) karena bagaimanapun tanpa filsafat ilmu kita akan menyimpang dan kembali meletakkan diri kita pada posisi atau visi manusia Barat yang sekuler.
Oleh karenanya, dalam memahami tentang esensi dari sebuah realitas, dikarenakan hal tersebut juga dipelajari di Barat yaitu apa yang dimaksud dengan realitas itu sendiri serta apa itu kebenaran, makanya kita harus berusaha untuk menjelaskannya berdasarkan kepada sumber-sumber Islam yaitu berdasarkan apa yang ada di dalam Al Qur’an dan Hadith beserta interpretasi daripadanya (tafsir) oleh para ulama’ sejati masa silam.
Singkatnya, kita harus memahami masa lalu kita untuk mengenali diri kita sendiri karena krisis yang dialami umat Islam adalah krisis identitas. Wa ‘l-lāhu a’lam bi ‘l-Øawāb.*



Posting Komentar