Kamis, 14 Juni 2012

Al-Azhar: Pesona Keislaman Tak Berbatas

Meskipun gagal untuk melanjutkan studi ke Al-Azhar selepas Aliyah dulu karena faktor eknomi, kali ini saya ingin berbagi resensi sebuah buku yang berbicara tentang seluk beluk Al-Azhar, sebagai berikut:




Judul: Al-Azhar: Menara Ilmu, Reformasi, dan Kiblat Keulamaan
Peresensi:Ecep Heryadi
Penulis: Zuhairi Misrawi
Penerbit: KOMPAS
Tahun: I, Agustus 2010

Mungkin tak asing lagi dengan nama Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, khususnya bagi mereka yang berasal dari kalangan pesantren. Universitas yang sudah berumur ratusan tahun dan merupakan tempat menuntut ilmu paling berpengaruh di dunia.


Universitas yang telah banyak melahirkan cendekiawan-cendekiawan Muslim berpengaruh, baik di lingkungan Mesir, Timur Tengah sebagai episentrum dunia keislaman, maupun Indonesia yang, meminjam istilah yang dipakai Guru Besar Sejarah UIN Jakarta Prof Dr Azyumardi Azra, merupakan lokus “peri-peri” (pinggiran) Islam.

Sejarah mencatat nama “Al-Azhar” berasal dari sebuah masjid bernama Al-Azhar yang dibangun Panglima Besar Dinasti Fathimiyah, Jauhar As-Shaqaly, 359 H sebagai tempat ibadah, enam tahun kemudian mulai dibangun tempat kegiatan belajar dan majelis ilmu pengetahuan bermazhab Syi’ah Ismailiyah. 12 tahun kemudian, tepatnya 378 H/988 M, Al-Azhar telah berkembang menjadi universitas besar dan berpengaruh. 

Letak Mesir yang strategis di tengah dunia Islam menjadikan Al-Azhar sebagai tujuan menimba ilmu agama dari para masyaikh-nya. Begitu prestise-nya kedudukan Al-Azhar merupakan manifestasi dari peran yang dijalankannya dalam menjaga kemurnian ilmu-ilmu agama, peradaban Islam, dan bahasa Arab sebagai bahasa Al Quran dan Sunnah Rasulullah SAW, seperti yang disebutkan Muhammad Kamal Al-Sayid Muhammad dalam bukunya Al-Azhar Jami’an wa Jami’atan Aw Al- Azhar fi Alfi ‘Am.

Posting Komentar