Selasa, 12 Februari 2013

Cerita Waktu Pulang Kampung



“Aku berdebat dengan orang-orang pintar, tapi aku dapat mengalahkan mereka. Namun, apabila aku berdebat dengan orang-orang bodoh, maka akulah yang dikalahkan”. (Imam al-Syafi’i)


Saya ada oleh-oleh yang didapat selama di kampung. Brooo mau…?hahahaaa… maaf ya… oleh-olehnya bukan cendra mata, tapi pelajaran hidup. Brooo mau denger kisahnya? Ok!... let’s go…

Ceritanya gini, suatu malam ketika di kampung aku bersilaturrahim ke rumah sanak saudara. Salah satunya adalah rumah adik kandung dari nenekku sebelah ibu. Rumahnya agak sedikit di belakang, sebelum mamasuki rumahnya, mesti melewati satu rumah, dan rumah itu juga masih rumah keluargaku. Ku lihat dari luar pintu rumah terbuka dan orangnya pun juga ada, lalu aku putuskan untuk masuk.

“Assalamua’alaikum”, ucapku.

“Wa’alaikum salam”, jawabnya.

“Kapan datang edi?”.

“Ohh… sudah dua hari”.

Akhirnya aku dipersilahkan masuk. Baru saja aku mencecahkan pantatku di kursi dapurnya, ehh… malah aku cemoohin… dakatain gini gitulah. Macam-macamlah pokoknya.

“Untuk apa belajar tanggung-tanggung, kalau mau belajar langsung saja ke Mesir sana. Menghafal al-Qur’an. Setelah itu balik jadi penceramah. Apa belajar semacam itu….”.

Dengan sedikit berhati-hati agar aku tak menyinggung perasaannya aku menjawab,
“Mohon maaf pak Ngah, untuk sekarang Cuma itu ada peluang dan rezeki yang diberikan Tuhan. Kalau mengikuti keinginan hati, aku pengeeen banget…. Ibarat kita mau ke Jambi, tapi kita hanya punya peluang dan ongkos ke Bangko, ya untuk sekarang cukuplah di Bangko dulu”.

Aku kira dengan jawaban seperti itu aku dapat mengajak dia kembali berfikir fress…, eh… malah dia semakin menjadi-jadi. Waduh fikirku.. orang ini mengerti apa tidak. Malah aku semakin dicemoohkan. Lalu cepat aku mengalih pembicaraan. Dan tidak berapa lama setelah itu aku keluar, pamit.

Dari rumahnya aku langsung ke rumah adik nenekku, lalu setiba di rumahnya akupun langsung bercerita perihal apa yang baru saja aku alami. Dari penjelasan mereka, dia memang seperti ituny

“kitalah yang harus menghukum diri”, begitulah nenek menasehatkan.

Lama aku termenung, teringat dengan sebuah hadis, “orang yang bodoh dan tidak menyadari bahwa dia itu bodoh”, itulah orang yang amat merugi. Itulah ibrah yang kusimpulkan, maaf… ini bukan berarti aku mengatakan bahwa aku pintar, bukan. Aku Cuma menyayangkan orang seperti itu. Maka banarlah apa yang pernah imam al-Syafi’ai katakana: “Aku berdebat dengan orang-orang pintar, tapi aku dapat mengalahkan mereka. Namun, apabila aku berdebat dengan orang-orang bodoh, maka akulah yang dikalahkan”.

Perkataan ini benar, dengan orang pintar jika mereka itu salah, mereka itu akan bisa menerima. Namun dengan orang bodoh, meskipun anda benar dan dia salah, mereka juga tidak akan menerima.

Posting Komentar