Senin, 11 Februari 2013

Proses, Kesabaran dan Ketekunan

Setiap maqam ada mahallah dan jam terbangnya masing-masing.

LCCT - Kuala Lumpur International Airport 


Aku dilahirkan di sebuah kampung, Muara Siau namanya. Cuma lebih kurang 60 KM dari Kota Bangko. Dalam jarak seperti itu seharusnya ½ jam bisa di lalui, namun karena kondisi jalan yang berlobang-lobong, itu bisa memakan waktu 1 - 2 jam. 


Aku ingin bercerita, bukan cerita kampungku, tapi cerita diriku sendiri. Dulu ketika aku masih SD, kesempatan yang jarang aku lewatkan setiap bulannya adalah ikut al-marhum bapakku ke kota mengambil gaji. Sebagai anak kecil, alangkah bahagia dan senangnya diriku ikut melihat suasanan Kota, melihat gedung-gedung bertingkat, mobil dan motor yang banyak. Itulah maqamku kala itu dan jam terbangnya juga sebatas itu. 


Ketika Kota sudah sering aku kunjungi, maka yang muncul dalam benakku adalah membayang dan mengharapkan bagaimana bisa berkunjung ke pusat Kota Provinsi. Akhirnya kesempatan itu juga belum tercapai juga ketika aku hijrah dari kampung setelah tamat SLTP dan melanjutkan ke MAKN Jambi.

Awalnya, aku ingin menlanjutkan ke SMU atau STM, entah bagaimana ceritanya, barangkali karena petunjuk Allah jua, aku malah “kesasar” ke MAKN. Menimba ilmu disini tidak ada beda dengan di pesantren, karena pelajarannya, apa yang diajarkan di pesantren itulah yang diajarkan, cuma yang berbeda caranya atau metodenya saja.


“Wahhhh….”, gumamku.


Betap indah dan senangnya hati suasana kota. Apalagi sebagai anak kampung seperti diriku, karena ini adalah pengalaman pertamaku menjejakkan kaki ke Kota Jambi sebagai Ibu Kota Provinsi.


Tiga tahun lamanya di MAKN, Alhamdulillah akhirnya aku lulus juga dengan hasil yang cukup memuaskan. Ketika aku duduk di kelas 2 Aliyah, aku telah mengazam diriku untuk menimba ilmu di dataran Afrika bagian utara, tepatnya Al-Azhar University, Mesir. Namun Tuhan belum mengabulkan azzamku kala itu, akhirnya aku masih tetap di Kota Jambi dengan menimba ilmu di bidang syari’ah IAIN Jambi.


Ketika menjadi mahasiswa, timbul pula harapan dan keinginan untuk mengilingi Indonesia dengan pesawat udara. Maklum…. Sebagai orang kampung sama sekali waktu itu ingin sekali untuk mencoba dan menjawab penasaran diri. Alhamdulillah harapan ini tercapai jua ketika aku duduk di semester tujuh dalam momen menghadiri pertemuan mahasiswa se-Nasional. Kebetulan waktu menjadi mahasiswa aku menyibukkan diri dalam kegiatan organisasi, dan pada waktu itu aku menjadi ketua umum sebuah orgnasasi kampus. Alhmadulillah hajat akhirnya tercapai jua, namun aku tidak berhenti sampai disitu saja, ketika di akhir kuliahku aku mengazamkan diri bahwa suatu saat aku akan berkeliling dunia dan menimba ilmu ke luar negeri. Dua tahun lamanya aku menjadi serjana, berikhtiyar mencari peluang bagaimana bisa aku melanjutkan studi s 2. Ketika masih mahasiswa aku telah menelis beberapa kampus sebagai tempat studi s 2 ku, mulai dari kampus luar dan dalam negeri, namun beberapa kampus yang diidamkan itu sirna jua dengan sirnanya waktu. Harapan terakhir atau sekurang-kurang mungkin untuk s 2 di IAIN Jambi, tempat studi s1 ku, dan harapan ini juga sirna karena disebabkan ketiadaan biaya. Pernah dua kali aku mendiskusikan dengan keluarga untuk masalah pendanaan, namun keadaan memang tidak memungkinkan. Jangankan untuk membiayai studi s2, studi s1 saja semenjak ditinggal perga alm bapakku ketika semester 2 aku lebih banyak berjuang sendiri.


Namun Alhamdulillah kesempatan itu akhirnya datang jua. Melalui perantara Dr. Hermanto Harun yang menghubungkan kerjasama antara IAIN Jambi dengan CASIS-UTM, alhamdullah akhirnya aku diutus oleh kampusku untuk belajar ke tempat aku belajar sekarang. Permasalahan juga timbul. CASIS hanya membantu biaya kuliah saja, sementara untuk biaya sehari-hari tidak ada. Demi allah, waktu itu aku tidak mempunyai uang, bagaimana aku bisa berangkat? Namun setelah meminta saran dan pendapat dari beberapa yang berpengalaman, jalan keluarpun didapatkan. Proposal… ya… proposal pribadi… aku menemui beberapa pejabat, Anggota Dewan dan tokoh masyarakat, alhamdullah sebagian dari mereka ada juga yang membantu, sesuai dengan kemampuan dan keikhlasan mereka masing-masing. Tentua ada juga yang menolak secara halus. Hasilnya terkumpul sejumlah uang, yang dalam hitunganku hampir mencapai 8 juta. Alhamdulillah…


Akhirnya dengan beberapa teman aku berangkat juga ke Malaysia. Teringat waktu itu aku berangkat dari Jambi – Palembang – Kuala Lumpur. Semanjak itu maka maqamku berubah menjadi salah satu bagian dari mahasiswa Internasional. Beberapa kampus luar negeri yang dilis ketika s1 tidak tercapai, namun Allah mengganti dengan kampus ini. Awalnya harapan terbesar untuk dapat menaik pesawat, namun sekarang itu sesuatu yang biasa-biasa saja. Begitulah, setiap umur ada mahallah alias jam terbangnya, jam terbang ini tergantung dengan kita, bagaimana kesabaran, ketekunan dan kesungguhan dalam menjalani. Sebagian orang kampungku menganggap prestasiku sesuatu yang luar biasa, namun bagiku itu hanya biasa-biasa saja. Yang luar biasa bagiku sekarang adalah kekaguman dengan guru-guruku sekarang yang mepunyai ilmu yang mendalam dan keikhlasan serta sudah menjadi level internasional. Keberhasilan mereka juga karena ketekunan dan kesabaran dalam menjalani proses demi proses. Aku belajar secara langsung maupun tidak langsung dari mereka. Secara langsung, pengajaran, didikan dan bimbingan mereka baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Secara tidak langsung, aku mengamati dan memikirkan ketekunan mereka dalam menjalani proses demi proses.


Jika aku sabar dan tekun, insyaallah suatu saat aku juga akan menjadi seperti mereka. Harapan dan keinginanku selanjutnya adalah bagaimana bisa setelah s2 melanjutkan s3 lebih jauh lagi dan mengelingi dunia, bukan hanya kawasan asia tenggara saja, tetapi global serta mendidik generasi dari umat ini dengan kesabaran dan ketekunan pula. Karena itu, apapun pekerjaan dan propesi kita, jika sabar dan tekun dalam menjalani proses demi proses insyaallah akan berhasil sesuai dengan tingkatannya, karena Setiap maqam ada mahallah dan jam terbangnya masing-masing. Seoarang anak buah, tingkat keberhasilannya tentu lebih rendah dibandingkan dengan tingkat keberhasilan seorang bos. Untuk diriku, aku azzamkan keberhasilanku dalam dunia ilmu bukan pada maqam anak buah, melainkan bos.




Kuala Lumpur, 10 Februari 2013
Posting Komentar