Senin, 11 Februari 2013

“CINTA TAPI BEDA” (Meninjau Falsafah Adat Minang)


Oleh: Edi Kurniawan*

Beberapa waktu lalu dunia per-film-an tanah air kembali memanas dan menuai kontraversi dengan hadirnya film “Cinta Tapi Beda” yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Dalam catatan penulis, film yang disutradarai oleh Hanung ini merupakan film kedua yang menuai kontroversi setelah sebelumnya film “Tanda Tanya”.

Film yang pertama pernah dicekal oleh MUI karena dinilai memuat unsur penistaan agama. Baru-baru ini, dengan film “Cinta Tapi Beda”, film ini dinalai: [1] Memuat unsur Pluralisme Agama yang dapat merusak akidah umat Islam, dan [2] melecehkan adat istiadat Negeri Minang.
Tulisan ini mencoba menganalisa dari penilain yang kedua yang menurut Ketua Mahasiswa Minang Jaya bahwa film ini telah menyimpang dari falsafah Minang.

“Cinta Tapi Beda” dan Protes Orang-Orang Minang
Cinta Tapi Beda menceritakan kisah cinta Cahyo (Reza Nangin) dengan Diana (Agni Pratistha). Cahyo adalah pria asal Yogyakarta dan bekerja sebagai koki di Jakarta. Ia berasal dari keluarga muslim yang taat beribadah. Cahyo berusaha lepas dari kesedihan setelah ditinggal selingkuh kekasihnya, Mitha. Sementara Diana adalah seorang gadis asal Padang, Sumatra Barat. Ia seorang mahasiswi jurusan seni tari dan tinggal bersama om dan tantenya di Jakarta. Keluarganya Katolik yang taat.
Cahyo dan Diana akhirnya bertemu dan menjadi sepasang kekasih. Mereka ingin serius melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Namun sayang, kedua keluargapun tak merestui, hingga pada akhirnya Diana dijodohkan dengan laki-laki Minang, Dokter Oka yang beragama Katolik.
Ringkas cerita, tokoh yang dimainkan oleh Diana dan Dokter Oke dengan kekhasan logat Minangnya, seakan-akan film ini ingin mengatakan bahwa orang Minang itu Kristen dan berasal dari rumpun sejarah Kristen, serta hubungan antar agama digambarkan sebagai sesuatu yang naib dan tabu dan itu harus dicerahkan dalam hubungan pernikahan lintas agama. Tak ayal, adat budaya Minang yang banyak disebutkan dalam film ini terkesan ingin mengatakan, seperti itulah adat budayanya yang tertutup dari umat lain serta serta Kristen sebagai asal usul agamanya.
Maka pada hari senin, 7 Januari 2013, Dewan Pengurus Pusat Ikatan Pemuda Pemudi Minang Indonesia (DPP IPPMI) mendatangi kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), guna menyampaikan aspirasi mereka terkait keberadaan film ini. Empat hari sebelumnya, Pengurus Pusat Keluarga Mahasiswa Minang Jaya (KMM Jaya) melalui rilis kepada itoday (3/1/2013) menegaskan bahwa film ‘Cinta Tapi Beda’ ini menyimpang dari falsafah Minang.

Meninjau Falsafah Adat Negeri Minang
Negeri minang dikenal dengan falasafahnya adat yang sarat dengan makna religius, “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Syarak mangato adat mamakai.” yang artinya "adat bersendikan (hukum) agama, dan hukum agama bersendikan Kitabullah (al-Qur’an). Falsafah adat ini juga mengilhami Negeri tetangganya, yaitu Melayu Jambi. Maka dalam petitih adat Melayu Jambi juga ditemukan adigium yang sama seperti Minang.
Falsafah adat ini tidaklah timbul dari ruang kosong. Ia merupakan hasil kesepakatan pasca Perang Paderi yang berakhir pada tahun 1837 antara kaum ulama, adat dan cadiak pandai (cerdik pandai). Mereka bersepakat untuk mendasarkan adat budaya Minang pada syariat Islam.
Para ulama yang dipelopori oleh Haji Piobang, Haji Miskin, dan Haji Sumanik, mendesak Kaum Adat untuk mengubah pandangan budaya Minang yang sebelumnya banyak berkiblat kepada budaya animisme dan Hindu-Budha, untuk berkiblat kepada syariat Islam. Budaya menyabung ayam, mengadu kerbau, berjudi, minum tuak, diharamkan dalam pesta-pesta adat masyarakat Minang.
Sejak reformasi budaya dipertengahan abad ke-19, pola pendidikan dan pengembangan manusia di Minangkabau berlandaskan pada nilai-nilai Islam. Sehingga sejak itu, setiap kampung atau jorong di Minangkabau memiliki masjid, selain surau yang ada di tiap-tiap lingkungan keluarga. Pemuda Minangkabau yang beranjak dewasa, diwajibkan untuk tidur di surau. Di surau, selain belajar mengaji, mereka juga ditempa latihan fisik berupa ilmu bela diri pencak silat.
Ketika Islam sudah mengental dalam diri mereka, maka siapapun warga etnis Minang yang pindah agama atau beragama selain Islam, akan dikenakan hukum adat tertinggi yaitu pengasingan, serta tidak diakui lagi sebagai orang Minang.
 Lalu, timbul film dengan mengisahkan gadis Minang yang beragama Kristen ini yang sarat dan kental dalam muatannya, seakan-akan minang itu Kristen. Maka wajarlah jika timbul reaksi keras dari berbagai elemen dan organisasi Minang memprotes kehadiran film ini. Hal ini ibarat bahwa anda seorang yang tumbuh dan besar dalam keluarga dan lingkungan Muslim, tiba-tiba ada orang yang mengatakan atau mengisahkan bahwa tempat tumbuh dan berkembang anda itu dari lingkungan Kristen. Islam jauh lebih dahulu berkembang di Bumi Minang ketimbang Kristen yang hanya belakangan dibawa oleh para Penjajah Belanda dan Portugis.
Di sisi lain pula, film ini terkesan melupakan falsafah adat dan hukum yang berlaku pada masyarakat Minang. Logika semacam ini persis seperti kajian orientalis di alam Melayu-Indonesia. Opini masyarakat digiring pada agama sebelumnya, yaitu Hindu-Budha. Sehingga semenjak zaman Rafles, situs-situs Hindu-Budha pra-Islam dibugarkan, sementara situs-situs Islam dihancurkan. Setelah bukti fisik sudah mulai menghilang, mereka digiring kepada opini: “Jika anda berasal dari Islam, apa buktinya secara fisik?”. Begitulah logika, pandangan dan pendapat yang dibawakan oleh orientalis semacam Snouch Hourgronje dan para muridnya dalam usaha menjauhkan Melayu-Islam dari agamanya.
Dengan tegas dan lugas, Prof. Syed Munammad Naquib al-Attas di dalam bukunya Historical Fact and Fiction menyangkal cara dan gaya kajian orientalis semacam ini bahwa menurut beliau, bukti sejarah Melayu-Islam di Kepulauan Melayu ini tidak hanya bukti fisik belaka, tetapi bahasa dan falsafah suatu negeri adalah bukti atau hujjah yang kuat pula. Hal ini juga diungkapkan oleh Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud (Direktur Canter for Advanced Studies on Islam, Science and Civilization (CASIS) – Universiti Teknologi Malaysia) beberapa waktu lalu di Hotel Sirri Melaka, Malaysia bahwa kaum materialistik dalam menilai sejarah hanya berlandaskan pada data atau penilaian fisik belaka. Padalah, bahasa dan budaya suatu tempat merupakan suatu data yang tidak bisa dinafikan.
Ini benar, jika ingin menilai Minang itu berlandaskan pada Islam atau Kristen, maka mari kita lihat, falsafah adat mereka, “Adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah”. Falsafah ini merupakan bukti sejarah yang tak bisa dipungkiri bahwa adat dan budaya mereka itu berasal dari Islam, bukan Kristen. Ini juga berlaku pada orang Melayu Jambi, jika anda mengajukan pertanyaan, apakah kebudayaan Jambi itu berlandas Islam atau bukan? Kalau iya apa bukti fisiknya? Memberikan atau membuktikan secara bukti fisik memang agak susah, namun budaya dan bahasa Minang, begitu pula Jambi adalah bukti non-fisik yang tak bisa dipungkiri.
Akhir kata, jika film ini tersirat ingin mengatakan bahwa Minang adalah Kristen, maka itu salah total. Jika bukan, maka itulah potret pragmatisme dunia per-film-an yang “penting saya kenyang” tanpa memperhatikan bagaimana kerusakan akhlaq, sosial dan budaya setelahnya. Wallahua’lam! (Penulis adalah Kondidat Master pada Canter for Advanced Studies on Islam, Science and Civilization (CASIS) – Universiti Teknologi Malaysia/Alumni IAIN STS Jambi)


Posting Komentar