Jumat, 26 April 2013

BUKAN PEREMPUAN BIASA




Perjuangan Perempuan satu ini sungguh amat menggugah hatiku. Tekadnya untuk "mencahayakan" Indonesia sampai ke pelosok daerah sungguh amat diacungi jempol. Betapa tidak, di tengah yang katanya perempuan itu hanya mengatur urusan Rumah atau baru-baru ini muncul kelompok yang mengatasnamakan diri mereka FEMEN, menyuarakan kebebasan perempuan, namun hari ini hari ini muncul sosok, bukan bermaksud menafikan wanita pejuang lainnya, namun sosok Tri Mumpuni Wiyatno, Insinyur Pertanian lulusan Institut Pertanian Bogor telah menggugah mata kita. Silahkan dia dan apa kepahitan perjuangannya? silahkan baca artikel di bawah ini:

_____________________



Siapa perempuan yang bisa menggugah warga desa untuk ”membuat” listrik murah dan menjualnya kepada PLN? Dialah Tri Mumpuni Wiyatno, insinyur pertanian lulusan Institut Pertanian Bogor.


Hampir setiap waktu, perempuan itu selalu bergerak bak kutu loncat. Hari ini, ia bisa ada di Jakarta. Namun besok harinya, tak mustahil ia ada di sebuah desa terpencil di Sulawesi. Lain waktu, ia juga hadir dalam sebuah pesawat menuju Filipina, tapi lusa bisa jadi ia tengah berkuda menembus hutan untuk mencapai dusun terisolasi di Sumbawa. ”Tuntutan kerja memang menghendaki demikian, tapi saya nikmati kok,” katanya sembari tersenyum.


Hidup Tri Mumpuni seolah tak mengenal kata lelah. Pengabdiannya kepada masyarakat, terutama yang ada di desa-desa, memang luar biasa. Karena upaya dia dan kawan-kawanya di Ibeka (Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan), ratusan desa di seluruh Indonesia bisa menikmati cahaya listrik. Padahal, sebelumnya, tempat-tempat yang ”diterangkan” oleh Puni—panggilan akrab dia—adalah kawasan yang tak terjamah teknologi.


Tercatat sejak 1990-an, Puni aktif melakukan pemberdayaan masyarakat desa. Salah satu bentuk keberhasilannya adalah membuat pembangkit mikrohidro—pembangkit listrik air berkekuatan kecil namun ramah lingkungan– di Desa Curugagung, Subang, Jawa Barat. ”Saya dan para petani di sana, membuat itu dengan memanfaatkan Sungai Ciasem,” kata ibu dari dua putera itu.


Karena pembangkit listrik berkekuatan 13 kilowatt tersebut, 121 rumah di Desa Curugagung menjadi terang bederang. ”Padahal, modal awal hanya Rp 44 juta,” katanya. Dari mana modal awal itu berasal? ”Hasil patungan para petani. Sisanya kami pinjam dari Bank Eksim,” ujar perempuan kelahiran Semarang 43 tahun lalu itu.


Untuk mengembalikan modal awal, listrik kemudian dijual kepada warga setempat dengan harga Rp 300 kilowatt per jam. Namun, baru empat tahun berjalan, tiba-tiba PLN memutuskan untuk masuk ke Curugagung. ”Padahal, sebelumnya mereka punya komitmen akan masuk ke Curugagung sepuluh tahun kemudian,” kata Puni.


Setelah ditelisik, penyebab terburu-burunya PLN datang ke sana, ternyata terkait dengan ambisi politik Bupati Subang saat itu. Dalam Pemilu 1997, bupati tersebut menginginkan partai politik yang ia dukung menang di Curugagung. ”Saya protes keras ke PLN dan pemerintah saat itu, tapi tak pernah digubris,” kenang direktur Ibeka itu.


Masuknya PLN ke sana, membuat hari-hari kelabu bagi Puni dan para petani yang mengelola pembangkit mikrohidro di Curugagung. Bisa dipastikan, hampir sebagian besar warga pindah ke listrik PLN yang harganya hanya Rp 112 kilowatt perjam. Kenapa lebih murah? Jelas, menurut Puni, karena PLN mendapat subsidi yang sangat besar dari pemerintah. ”Jumlahnya bisa mencapai puluhan trilyun rupiah,” katanya.


Kecemasan kemudian melanda para petani. Mereka khawatir, dengan pindahnya sebagian besar pelanggan ke PLN, maka perusahaan listrik rakyat yang mereka kelola akan gulung tikar. Apalagi, mereka baru setengahnya menyicil utang ke bank. ”Saking stresnya, Pak Subarnas, petani yang ditugasi menjadi koordinator kami, jatuh sakit,” kata Puni dalam nada pelan.


Tiga hari setelah listrik PLN jalan, Subarnas pun akhirnya meninggal. Untuk menghilangkan kekhawatiran petani lainnya, akhirnya Puni pinjam sana-sini, termasuk meminjam uang pada mertuanya. ”Alhamdulillah, akhirnya utang ke bank lunas juga,” ujar istri dari Iskandar Budisaroso Kuntoadji itu. Lantas, bagaimana nasib perusahaan listrik mereka? Tetap berjalan, kendati tanpa laba. ”Kami terpaksa menyesuaikan harga dengan listrik punya PLN.”


Namun bagi Puni, perjuangan tak mengenal kata henti. Dengan berbagai cara, dia terus berupaya agar listrik para petani itu dibeli oleh PLN. ”Tak jarang saya mendatangi langsung para pejabat di Jakarta,” ujarnya. Namun, hasilnya tetap nihil.


Perjuangan Puni bersama para petani Curugagung baru menemukan hasilnya saat pemerintahan Gus Dur. PLN akhirnya mau membeli listrik mereka dengan harga Rp 432 kilowatt perjam. Tentu saja jika dibanding biaya rata-rata produksi PLN yang Rp 1000 kilowatt per jam, harga tersebut jauh lebih murah.


Setelah sukses di Curugagung, Puni banyak diminta untuk membuat pembangkit listrik mikrohidro di berbagai daerah. ”Saat ini masih ada 34.000 desa di Indonesia yang pada malam hari gelap gulita,” kata peraih penghargaan Climate Hero 2005 dari World Widlife Foundation (WWF) International itu.


Untuk listrik rakyat itu, bersama suami tercinta, kadang ia harus menempuh medan yang liar dan sulit. ”Beberapa kali tidur di gubug pun pernah kami jalani,” katanya sambil tertawa. Tapi, seperti pengakuannya, ia iklhlas melakukan itu semua. Dan selalu bersemangat. 

Sumber: http://islamindonesia.co.id

Posting Komentar