Kamis, 21 Maret 2013

Reading on Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn


Reading on Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn
(Juz I Bab Fadilah al-'Ilm)


*catatan intelektual Edi Kurniawan




Pemahaman terhadap terma “ūlil amri” dalam konteks sekarang ini selalu dilekatkan kepada pemimpin (political authority). Sehingga terma ini menjadi alat justifikasi untuk merebut kuasa politik (dalam membuat perubahan) adalah kelanjutan dari ketaatan kepada Allah dan rasul (sebagaimana hadist menyinggung hal tersebut) adalah seseorang yang bukan hanya pemimpin semata, akan tetapi dia juga mempunyai otoritas ilmu dan adil terhadap diri dan rakyatnya. Berkaitan dengan ini imam al-Ghazālī dalam Ihyā’ bab keutamaan ilmu (fadail ilm) mengutip sebuah ayat al-Qur’an surah An-Nisā’ ayat 3, “Sekiranya mereka mengembalikan (suatun persoalan) kepada Rasūl SAW dan ūlil Amr diantara mereka, niscaya mereka yang mengambil kesimpulan tersebut akan mengetahuinya”. (Al-Imām al-Ghazālī, Ihyā’ ‘Ulūmuddīn, (Beirut: Dāral-al-Fikr, tt) Jilid I, hlm. 7) 



Jadi, pemahaman yang dapat diambil adalah ulil amr adalah merera selain pemimpin juga orang yang berilmu, sebab, mengapa Imām al-Ghzālī memasukkan ayat ini di dalam bab ilmu, tentu tidak terlepas dari apa kemulian ilmu sendiri.(Kesimpulan diskusi)


Lebih lanjut beliau menambahkan surah al-A’rāf ayat 26 tentang perintah menutup aurat bagi anak Adam, beliau mengatakan bahwa ada yang berpedanpat bahwa sauātikum, secara literal kata ini bermakna aurat, namun ada yang mengatakan sauāti yakni ilmu. (Ibid) Jadi berdasarkan pemahaman ini, tidak mungkin seseorang itu menutup aurat tanpa ilmu. Aurat disini bukan aurat dalam pengertian sempait, namun dalam artian lebih luas yakni yakni ‘aib. Hal ini disebabkan karena pemimpin yang tidak berilmu, niscaya tidak ada bisa menjaga muru’ah (harga diri)-nya. (Kesimpulan diskusi).


Lebih lanjut Imām al-Ghazālī juga memberikan beberapa contah ayat seperti ayat: Walaqad Ji’nāhum Bikitāb Fassalnāhu ‘Alā ‘Ilm (sesungguhnya telah datangkan kepada mereka sebuah Kitab (al-Qur’an), maka kami jelaskan dengan ilmu). Maksudnya, Allah yang telah turunkan al-Qur’an, maka untuk memahaminya, allah jelaskan dengan ilmu. 


Kemudian ayat: “walanaqussanna ‘Alaihim bi ’ilm” [maka kami ceritakan/ kisahkan kepada mereka dengan ilmu. Maksudnya, Allah menjelaskan kisah-kisah umat terdahulu dengan ilmu.[1]


Kemudia ayat: “Bal Huwa Āyāt Bayyināt fi Ṣudurillazīna Ūtūl ‘Ilm” [Akan tetapi itulah aya-ayat yang menjelaskan bahwa di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu]. Maksudnya, tempat ilmu itu berada di dalam dada manusia seperti yang pernah di jelaskan oleh Prof Al-Attas bahwa “Subjek Ilmu” adalah manusia sebagai penilai dari dalaman dirinya, sementara “Objektif Ilmu” adalah objek ilmu atau objek kajian yakni information (ma’lumat). Atau juga selaras dengan perkataan Imām al-Syāfi’ī bahwa ilmu itu tempat didalam dada, bukan di dalam kitab/buku.


Kemudian ayat: “Khalaqal Insān ‘Allamahul Baya” [Alla telah menciptakan manusia maka Allah juga mengajarkannya tentang penjelasan (bayān)]



Markas Mcm, Kuala Lumpur, 15 Maret 2013. Pukul 10.00 (malam) – 01.00 (dini hari) waktu Kuala Lumpur.

Nb.

Tulisan ini merupakan hasil Reading Group on Ihyā ‘Ulūm uddīn oleh Mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh Studi di Centre for Anvanced on Islam, Science and Civilization (CASIS) – UTM Kuala Lumpur. Peserta diskusi: Edi Kurniawan (Jambi), Metra Wirman (Sumbar - Padang), Rahmat Hidayat (Sumsel – Palembang), Arif Munandar Riswanto (Jabar -  Bandung) dan Mukhlas Nugraha (Jambi).




[1] Ayat ini belum belum ditemukan berada pada surah dan ayat apa karena disebabkan pentahqiq dari kitab ini tidak memberikan keterangan. Sama seperti ayat-ayat yang lain dicantum oleh Imām al-Ghzālī. Sebagian bisa ditemukan kerana pelacakan dari peserta diskusi yang salah seorang adalah Hāfiz (Bro. Rahmat Hidayat)
Posting Komentar