Senin, 02 September 2013

“AKU PNS”




Sebelum pulang ke Kuala Lumpur beberapa minggu lalu aku menyempatkan diri untuk bersilaturrahim ke tempat Bupati. Sembari menunggu tamu yang masih ada di ruangan beliau, aku dipersilahkan duduk menunggu di ruang tamu oleh Pejabat Sekretariat.
Senyum, salam dan sapa kumulai dengan seorang yang lengkap dengan atribut dinasnya, yang dari hasil pembicaraan kami ternyata beliau masih orang yang dari tetangga Kecamatanku dan menjadi staf di kantor tersebut.
“Asal dari mana?”, beliau bertanya
“Siau”
“Wah… sudah tidak tampak lagi seperti orang Siau”.
“Mungkin sudah tidak menetap di Siau lagi”, jawab taman disebelahnya menyela.
Sejenak aku termenung, menangkap apa maksud kata-katanya itu, tapi belum bisa ditangkap. Tiba-tiba, keluar pertanyaan baru:

“Sudah PNS?”, pertanyaan ringan tapi terselip beberapa tanda.
“Belum… saya masih sekolah”
“Dimana?”
“Kuala Lumpur”
Berbualpun terus berlanjut dan sering terselip di kata-katanya, “AKU PNS”. Betul taksiran awalku, beliau terlalu “mengagung-agungkan” “AKU PNS”-nya.
Perjumpaanku dengan pria itu 2 hari yang lalu hanyalah salah satu dari beberapa, atau boleh jadi ramai dari saudara-saudara kita yang terlalu “mengagung-agungkan AKU PNS”. Alasan gengsi, status sosial dan perut, membuat mereka menyogok berpuluh atau beratus juta untuk menjadi “AKU PNS”. Hasilnya “PNS” menjadi ladang bisnis basah. “Jika Ente punya uang, mari ke sini dan jadi dan jika tidak, jangan terlalu banyak berharap”. Hingga mereka tidak tahu atau pura-pura tidak tahu akan kehancuran dan kerusakan akibat menempatkan seseorang, bukan karena prestasi. Atau mereka tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa pintu rizki itu banyak.
Patutlah kita renungkan pesan Baginda Nabi, “orang yang menyogok dan orang yang menerima sogokan, maka tempatnya di api neraka”. Dan di Hadis lain, “Allah melaknat orang yang menyogok, penerima sogok dan orang yang menjadi perantara antara penyogok dan penerima sogok [hingga sogok menyogok itu terjadi]”.

KL, 14 Agustus 2013

Posting Komentar