Sabtu, 11 Juni 2011

Bebayang Mozaikku

 
Malam terus berlarut, hingga hening menemani. Kugoreskan pena, merangkaikan kata. Bukan terpaksa, karena mata sayupku yang belum bisa terpejam. Kiri dan kanan badan kuputar, yang tampak hanyalah bayang-bayang dari serpihan kehidupan yang memintaku mencatat. Mencatat agar tak lupa. Mengenang untuk dikenang. Merangkai agar tercapai. Hati berbisik dan bercengkrama dengan kesunyian malam. Mengapa aku mencoba mencicipi asin laut sementara asam gunung bernyanyi ria. Mengapa aku menghadang badai sementara tubuh kurusku terbawa angin. Merana tak berarti karena akan berujung pada lara diri. Menangkappun tak kuasa karena kucing lebih lihai menerkam. Aku tak tahu apa yang terlintas: hitamkah atau putihkah ia. Yang menari bersama bebayangan yang tak kenal arti. Goresan-goresan pena yang takkan henti sampai topan menerpa diri. Menenang diri itulah sapa. Bernyanyi diri, bermaksud gembira. Mengobati gersang yang berkelana. Pijamkan mata larutlah malam. Aku ingin terhanyut dalam mimpi-mimpuku. Bersama sunyi malam dan detikan jam dinding serta musik air yang menetes dari kran: tik... tik... tik...

Kenang mari mengenang
Musik alam nan indah tenan
Imajinasi merangkai dingin, di tengah kabut malam semakin merinding
Berlari bukanlah lari. Diam diri bukan tak memberi. Musafir bukanlah fakir.
Tapi nyanyian hati yang mencatat diri.
‘Mozaik” dicatat untuk dikenang


100611:02.32 am 




Posting Komentar