Jumat, 24 Juni 2011

Tarian Pena



ku beribrah kepada mereka yang berhikayat ratusan tahun yang lalu, tubuh-tubuhnya lah rapuk dimakan bumi, lalu ku terlena dalam nyanyian sunyi dalam kitab ini. ku hikayatkan mereka semisal: Imam Syafi’I, Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Ibnu Taymiyah dan sederet nama lain tak tersiulkan seruling bambu. tubuh mereka lah hancur bersama turab, lagunya mengkilapkan dedaunan mentari pagi. menyilaukan mata anak negeri. sepanjang waktu yang tak pandang henti

ku beribrah kepada shuhuf-shuhuf yang berserakan di gua-gua, lembah-lembah, dan terbenam di dalam tanah serta relief-relief di dalam candi, piramida dan kuil-kuil yang ditarikan pena penari, catatan sejarah. ribuan tahun dari abad ini. perlambang peradaban umat yang lah pergi. penarinya lah pergi, lagunya di-iqra’-kan dan dinyanyikan generasi. “apakah kamu tidak memperhatikan kaum sebelummu?’ secercah embun pagi sapa Ilahi dalam makrifat abadi.

bukalah mata bukalah hati, mengenyam kisah bersama mereka. ulu balang lah memberikan pena, raja lah memberikan istana, sementara guru memberikan mutiara. maka ku wasiatkan: asahlah lenturan tarianmu hingga menusuk.

jika engkau bertanya, mengapa aku menari?

maka ku katakan aku menari bukan untuk dipuja, itu perlambang hidupkan celaka. aku menari untuk dikenang, diri dan anak bangsa. aku menari melenturkan diri, menempatkan tawazun agar tak rubuh. aku menari karena iqra’ perintah Ilahi, agar masa kan mencatat. aku manari karena tubuhku penat melihat sorak-sorai akhlak anak negeri. aku menari karena aku tahu tari itu seni ‘aqli, lalu… tunas-tunaspun kan mengembang. nyanyianku kan mengalun syahdu

lalu ku nyanyikan lagu hati:

tari mari menari, karena kisahkan abadi
tari mari menari, karena akal kan terpatri
tari mari menari, karena pembacaan kenang di badan
tari mari menari, karena engkau akan hidup seribu abad lagi



Jambi, 240511

(Puisi ini terinspirasi dari pertanyaan Asriani Amir, sahabat bloofer, Sulawesi Selatan)


Posting Komentar