Jumat, 12 Agustus 2011

Beribrah Pada Perang Badar



Oleh: Edi Kurniawan

Di tengah terik matahari yang amat panas, hingga menyengat tubuh. Dan di tengah gurun pasir tandus, hingga mengalirkan keringat yang menganak sungai di sekujur tubuh. Dan dalam dalam keadaan lapar, perut tanpa terisi, serta kekongkongan kering menahan rasa haus karena berpuasa. Serta dalam keadaan tanpa adanya persiapan untuk berperang, kumandang untuk berjihad telah ditabuhkan,  Allah swt. memerintahkan kaum muslimin kala untuk berangkat ke medan juang, ke subuah tempat yang dinamakan Badar.

Maka berangkatlah Rasulullah saw beserta para sahabatnya yang sekiligus beliau menjadi pemimpinnya. Dengan jumlah pasukan yang hanya 313 orang beserta perlengkapan perang yang hanya sekedarnya berupa 3 ekor kuda, 9 baju besi, 8 buah pedang, dan 70 ekor unta, yang membuat sebagian mereka bergantian mengendarai seekor unta. Sementara dari pihak musuh (kafir Makkah) berjumlah 1000 orang yang lengkap dengan perlengkapan perang berupa 700 ekor unta, 100 ekor kuda dan mempunyai persenjataan lengkap serta persediaan makanan mewah yang cukup untuk beberapa hari. Dengan hitungan logika dan matematis, sesuatu hal yang tidak memungkin untuk meraih kemenangan kemenangan dalam peperangan tersebut.

Namun dengan kekuatan ketakwaan dan keimanan Nabi saw. dan para sahabatnya, Allah berikan kemenangan. Allah turunkan 3000 para malaikat yang bersorban putih dan hijau untuk membantu kaum muslimin, hingga pada akhirnya musuh pun kotar katir ketakutan. Ada yang lari tunggang-langgang. Ada yang terbunuh. Dan ada pula yang menyerah kepada kaum muslimin, hingga kemenangan berada pada pasukan kaum mislimin.

Dalam literatur shirah nabawiyyah atau Sejarah Nabi, perang ini disebut dengan Perang Badar yang terjadi pada tanggal 7 Ramadhan atau dua tahun setelah Hijrah.

Meskipun dalam keadaan berpuasa, kobaran semangat mereka amatlah membara. Tidak ada alasan karena puasa mereka meninggalkan kewajiban jihad ini. Bahkan bukan hanya sebatas perang badar saja kobaran jihad kaum muslimin membara. Sejarah juga telah membuktikan, penaklukan kota konstantinopel oleh Shalahuddin Al-Ayyubi juga terjadi pada bulan puasa dan proklamasi kemerdekaan bangsa ini juga terjadi pada bulan puasa.

Jika dari beribrah dengan kobaran semangat perang bada dan berkaca dengan keadaan bangsa kita, hati ini terasa teriris pilu melihat berbagai keadaan. Dengan alasan berpuasa beberapa oknum PNS menjadikan alasan untuk datang terlambat, padahal jam kerjanya sudah telah dikurangi. Dengan alasan lapar dan haus di siang hari, oleh sebagian kita ini dijadikan justifikasi pemuasan nafsu perut ketika berbuka. Korupsi merajalela. Penegakan hukum yang pandang bulu. Hukum diperjual belikan. Perilaku konsumtif merebah di mana-mana. Kesemuanya berujung pada hancurnya ukhuwah berbangsa  dan kepercayaan pada sesama.

Korupsi, kriminalitas, dan aksi yang memalukan dari pejabat Negara kita menjadi isu hangat yang dihidangkan kepada kita. Memang benar, persoalan korupsi, kriminalitas, dan keterlambatan, secara umum lebih pada persoalan biokrasi yang berurusan dengan Negara. Ketika seseorang melakukan koruspi dan tindakan kriminal, maka pertanggungjwabannya lebih besar kepada Negara. Negara telah membuat dan menetapkan sistim hukum. Namun, jika keshalehan itu dilakukan secara berjamaanh, maka angka atau peluang terjadi tindakan-tindakan yang mengarah pada pidana pun akan mengicil. Bukankah salah satu tujuan berpuasa adalah untuk menimbulkan rasa social pada sesame.

Belajar dari kekuatan iman dan ketakwaan yang telah dicontohkan Nabi saw. dan para sahabatnya ketika berhadapan dengan persoalan yang secara matematis dan logika tidak mungkin, tapi itu akan mungkin. Bukankah janji Allah swt. akan membantu dan menolong serta memberikan rezeki kepada hambanya yang bertakwa dengan cara yang tak disangka-sangka dan penjuru yang tak terduga. Perang Badar telah memberikan ibrah penting kepada kita bahwa lapar dan dahaga di siang hari pada bulan yang mulia ini tidaklah menjadi penghalang bagi kita untuk meraih kemenangan, karena kekuatan terbesarnya adalah terletak pada keimanan dan ketakwaan kita. Inilah yang ingin dicapai dari syari’at berpuasa ini, yaitu ketakwaan (Q. S. 2: 183).

Jika jihad yang dilakukan Rasulullah saw. dan para sahabatnyan adalah dalam makna yang sesungguhnya, yaitu perang di jalan Allah. Tentu makna jihad ini tidak terbatas pada ranah tersebut. Dalam arti luas, kita yang berada dalam bangsa yang damai (baca: berperang dengan mengangkat senjata). Perang terhadap korupsi, menegakkan hukum tanpa pandang bulu, menjalan tugas yang diamanahkan dengan sebaik-baiknya bagi abdi Negara, juga bisa dikatakan jihad.
Berbagai persoalan dan beragam hiruk pikuk yang terjadi pada bangsa ini berawal dari elemen-elemen yang ada di dalamnya menjadi hamba atas nafsunya. Korupsi misalnya, ini terjadi karena mata sang pelakunya terbius oleh keindahan dunia, lalu dengan segala macam usaha dicoba untuk mendapatkan, maka merajalelah korupsi. Begitu juga dengan kasus skandal seks yang memalukan dari beberapa pejabat bangsa, juga karena penghambaan terhadap nafsu.
Jihad yang terbesar dan tertinggi di antara jihad-jihad yang adalah jihad melawan hawa nafsu. Rasulullah saw sendiri telah menjelaskan ini kepada kita bahwa ketika beliau dan para sahabatnya usai dari sebuah peperangan beliau berujar, “kita beralih dari perang yang kecil menuju perang yang besar, yaitu jihad melawan hawa nafsu. Itulah jidad yang tertinggi, jihad melawan hawa nafsu.

Orang yang menang adalah orang yang bertakwa kepada Tuhannya. Dan bangsa yang menang juga bangsa yang bersyukur dan mempunyai ciri-ciri ketakwaan. Mengambil hak yang bukan milik kita atau korupsi, tentu bukan ciri dari sebuah ketakwaan. Berpoya-poya dengan uang Negara dan fasilitas yang ‘wah’ yang dilakukan sebagian pejabat bangsa, tentu bukan menunjukkan sikap bangsa yang bersyukur. Bukankah Rasulullah saw. dan para sahabatnya dapat mengalahkan musuh yang begitu besar dan kuat dalam perang badar tersebut karena mereka tidak menjadi hamba atas nafsunya? Meskipun dalam keadaan berpuasa, puasanya tidak dijadikan alasan untuk bermalas-malasan.

Sudah sepatutnya bangsa ini beribrah pada hikayat tersebut bahwa jika bangsa ini ingin menjadi bangsa, meminjam istilah al-Qur’an disebut ‘baldatun thayyibun wa rabbun ghafur’ atau bangsa yang damai, sejahtera serta penuh dengan keampunan maka bangsa ini juga tidak bisa menjadi hamba atas hawa nafsu. Dan bagi kita kaum muslimin yang menjadi penduduk terbesar bangsa ini, jangan jadikan puasa sebagai kambing hitam untuk bermalas-malasan dan lalai dengan amanah. Semoga nafsu kita terdidik melalui puasa ini. Wallahua’lam!

Posting Komentar