Sabtu, 06 Agustus 2011

Rubahlah Paradigma Berpuasa Kita



Orang yang paling bahagia adalah orang yang paling sedikit keinginannya. Karena keinginan yang terlalu banyak akan membuat kita lupa pada kebutuhan. Kita akan terjebak dengan pola hidup memenuhi keinginan, bukan lagi memenuhi kebutuhan.

Dalam urusan keduniaan, Rasulullah saw. memerintahkan kita untuk melihat kepada orang yang berada di bawah kita, bukan di atas kita. Karena hal tersebut membuat kita bersyukur kepada Tuhan kita.

Perintah ini sungguh luar biasa. Coba anda lihat pada orang yang berlomba-lomba dalam urusan dunia, maka matanya akan ditutupi oleh nafsu, dan pada tataran ini maka timbullah pola pikir singkat dalam meraih kedunian. Alhasil, korupsi merajalela. Tumbuh dan berkembang di seluruh, mulai dari instistusi pemerintah sampai pada institusi swasta. Dari kelas menengah, sampai pada kelas bawah. Bahkan lembaga yang kita percaya sebagai lembaga yang memberantas korupsi di negeri ini pun tak lepas dari kasus tersebut. Ternyata itu semua bersumber dari keinginan kedunian yang terlalu tinggi hingga menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkannya.

Namun sebaliknya, mereka yang bersikap qana’ah atau merasa cukup atas apa yang dikaruniakan Allah kepadanya, lalu ia bersyukur. Maka hidupnya akan lapang dan hidupnya selalu bersyukur atas apa yang Allah berikan.

Petani di desa begitu bahagianya ketika siang hari saat sang istrinya datang ke sawah membawa nasi dengan lauk tahu tempe panas serta sambal terasi. Makanan tersebut begitu lezat baginya hingga ia pun bahagia dan bersyukur karena ia bisa makan. Sedangkan penduduk kota, puluhan ribu orang bermuram durja di meja makan dengan lauk pauk yang lebih lengkap dari sang petani. Tahu kenapa? Karena ketika melahap makanannya itu, pikiran mereka melayang membayangkan menu fast food di restoran-restoran. Makanan yang mereka santap bukan tak lezat, namun makanan itu bukanlah yang mereka inginkan.

Padahal selezat apa pun makanan, kelezatan itu hanya terasa beberapa detik saja ketika makanan melewati kerongkongan, setelah itu rasa itu pun hilang. Keesokannya keluar menjadi kotoran.

Tubuh kita tidak membutuhkan kelezatan, namun yang dibutuhkan adalah nutrisinya. Bukan karena lezatnya makan yang terhidang, namun keberkahan makanan tersebutlah yang mendatangkan kebahagiaan. Makan yang diawali dengan lafas basmalah dan do’a, serta makan dari makanan yang halal, baik halal dari zatnya maupun halal dari cara mendapatkannya, insyaallah makanan tersebutlah yang memberikan keberkahan.

Karenaya, sudah saatnyalah kita merubah paradigma kita berpuasa. Kita berpuasa bukan untuk memanjakan keinginan atau nafsu, tapi kita berpuasa justru sebaliknya, yaitu mendidik nafsu.

Perhatikanlah pada bulan ini, harga sembago melonjak tinggi yang membuktikan bahwa perilaku konsumtif merambah di tengah masyakat. Bukankah puasa itu bertujuan mendidik hawa nafsu ? jika iya, mengapa justru pada bulan ini nafsu perut naik pada level high dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain. Mengapa? jawabannya ternyata ada yang salah dari paradigma kita berpuasa.

Kita berpuasa, akan tetapi nafsu dan keinginan kita tidak kita puasakan. Jika ini merambah pada diri kita, maka ingatlah apa yang telah disabdakan Rasulullah saw, “Betapa banyak mereka yang berpuasa, akan tetapi mereka tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga”. Wallahua’lam!

Posting Komentar