Kamis, 11 Agustus 2011

Orang-Orang Yang Kuat


Dalam arena tinju, orang yang kuat adalah orang yang dapat mengalahkan lawannya. Chris John misalnya, kemampuannya dalam arena tinju tidak diragukan lagi dan sudah tidak terhitung berapa jumlah lawan yang ia kalahkan. Begitupula dalam ranah beladiri, silat, karate, tekwondo dll, mereka yang menjadi pemenang adalah mereka yang dapat mengalahkan lawannya. 

Namun di luar konteks olah raga, sering kali kita menyaksikan orang yang bangga dengan kekuatan ototnya hingga menggetarkan lawannya. Ototnya besar. Jiwanya bengis. Dan tatapan matanya tajam menggetarkan. Atau kita juga sering menyaksikan, baik itu dengan mata kepada kita sendiri maupun melalui media, betapa banyak terjadi kasus kekerasan di dalam rumah tangga (KDRT) hingga suami atau istri atau anaknya babak belur dan memar. Di luar konteks oleh raga, apakah orang yang seperti ini disebut orang yang kuat ?

Dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah kekuatan itu dinilai dengan adu kuat (gulat), namun yang kuat itu adalah orang yang dapat menguasai dirinya ketika marah”. (Muttafaqun ‘Alaih)

Hadis ini menggambarkan nilai sebuah kesabaran di tengah menaiknya emosi diri bahwa kekuatan yang hakiki bukanlah terletak pada kekuatan otot dan badan, namun kekuatan hakiki merupakan kekuatan maknawi, yaitu kesabaran. Oleh karena itu, orang yang kuat bukanlah orang yang selalu menang dalam setiap pertarungan, tetapi orang yang mampu menahan dan mengalahkan hawa nafsunya ketika kemarahan memuncak. Sehingga ia tidak terjatuh kedalam perbuatan dzalim maupun perkataan-perkataan yang menyakitkan hati saudaranya.

Dalam hadis yang lain Rasulullah saw. juga menambahkan agar kita tidak marah, ‘laa taghdhab’, artinya ‘Janganlah engkau marah’. Dimana menurut Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam dalam bukunya Taudhih Al-Ahkam Min Bulugh Al-Maram, hadis ini mempunyai dua pengertian, yaitu: pertama, hadis ini merupakan wasiat Nabi agar selalu bersikap pemaaf, tidak tergesa-gesa, malu, tidak menyakiti seseorang, berlaku lemah lembut, berdamai, menahan amarah dan sebagainya. Karena jiwa yang dibentuk oleh akhlak yang terpuji seperti ini, lalu mendarah daging dalam tubuh kita, maka ia akan menjadi pengendali hawa nafsu amarah.

Kedua, Nabi saw. mengajarkan kita agar tidak meperturutkan hawa nafsu amarah, tetapi mengendalikannya. Karena apabila hawa nafsu amarah berhasil menguasai kita, maka ia akan mengendalikan kita dan pada akhirnya maka jatuhlah kita kedalam hal-hal yang dilarang agama.

Jika hikmah puasa ditilik lebih dalam, maka puasa merupakan salah satu sarana mendidik diri kita menjadi orang yang sabar, bijak dalam berbuat, serta tidak mudah mengikuti hawa nafsu. Sekiranya saja kita sukses mendidik diri kita pada bulan ini menjadi orang yang kuat, sungguh itu sebuah anugerah yang luar biasa. Karena sifat pemarah itu adalah sifat iblis, maka kala itu iblis telah bertengger di hati kita dan kita pun telah bersekutu dengannya. 

Sungguh begitu indahnya bulan ini, betapa ia mendidik kita untuk menundukkan nafsu amarah. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Puasa itu merupakan benteng perbuatan maksiat, maka ketika datang saat berpuasa, janganlah seseorang berkata keji atau berteriak mencaci maki! Dan seandainya dicaci oleh seseorang atau diajak berkelahi, hendaklah dijawab, ‘Aku ini berpuasa’ samapi dua kali”.

Ramadhan sebagai syahruttarbiyyah, semoga dengan ramadhan ini kita bisa mendidik nafsu amarah dan melatih emosional kita hingga kita menjadi orang yang kuat. Dan mudah-mudahan gelar ‘takwa’ dapat kita capai melalui madrasah ramadhan ini.

Posting Komentar