Minggu, 21 Oktober 2012

Antara Mengejar Mimpi Atau Pulkam


            Tiga hari sudah aku terjatuh sakit. Panass…. Dinginn….. panasss… dinginnn…. Lalu pana lagi… begitulah selama tiga hari… dan ternyata…… huhhhh…… ternyata demam campak. Pada hari-hari terakhir awalnya muncul bintik-bintik merah dari leher sampai ke pergelangan tangan. Lalu pelan-pelan muncul di muka dan pada akhirnya sekujur tubuh terjera. Huh… ujian Allah…
            Sungguh, bagiku, pada saat-saat sakit seperti itu dan jauh lagi di rantau orang, bahkan sudah luar Negara, sakit seperti ini serasa aku seperti anak yang tersisihkan. Jauh dari orang tua dan kampung halaman. Bangko – Jambi sana. Yang lebih sering adalah teringat dengan ibuku. Lalu aku teringat dengan teman-temanku. Aku teringat dengan orang yang selalu berada di sekitarku. Aku ingin pulang…. Aku ingin pulang…. Aku ingin pulang…. Pulang ke kampung halamanku.
            Namun, aku kuatkan kembali apa yag sudah aku cita-citakan. Aku putar kembali pahit getirnya perjuanganku ke negeri ini, dengan modal nekad kawan….
Suatu saat tengah malam ketika badanku begitu panasnya, air mataku jatuh menetes, teringat dengat pesan ibu dan do’a-do’a orang yang mengiringi keberangkatanku: “kau tau kawan …? Satu rupiahpun kau tak punya uang ke negeri ini. kau datang hanya dengan uang 3 juta rupiah. Apakah tidak ingat bagaimana susahnya berjuang ke sana sini. Lobi sana lobi sini. Bermodalkan bantuan orang-orang yang terbuka tangannya. Ingatlah kawan… bagaimana susahnya engkau menjalankan prosal. Bagaimana susahnya engkau mencari suaka. Mengejar Gubernur, wakil Gubernur,  Bupati dan wakil Bupati, tokoh-tokoh masyarakat. Sebenarnya hati kecilmu sangat malu, namun karena engkau sudah menemui jalan buntu. Pahit dan manispun engkau makan… yang penting itu halal cara kau dapatkan. Kau datang dengan susah payah. Coba kau pikirkan lagi kawan, di antara engkau dan kedua temanmu, engkau yang ternekad. Mukhlas dan suhaibah bermodalkan yang sangat cukup dari orang tua mereka. Lalu engkau dari mana…?” Engkau harus tetap konsisten dengan apa yang telah engkau cita-citakan kawan. Bantuan pembebasan uang kuliah/beasiswa dari UTM sungguh sangat cukup untukmu kawan. Coba engkau pikir ulang kembali, berapa uang semester yang harus dibayar jika engkau tidak dibantu… RM. 6000 (+-18.000.000) bukan? Dari mana bisa kau dapatkan uang sebesar itu. Dan engkau jangan pernah menjadi pecundang kawan. Engkau datang membawa nama institusimu, IAIN bukan? Lalu apakah engkau akan mengecewakan mereka? Memalukan institusimu sendiri yang sudah mendidikmu selama bertahun-tahun. Menghilangkan kepercayaan orang-orang CASIS-UTM kepada institusimu.
            Duuuuukkkk…. Tiba-tiba semangatku muncul kembali setelah lamunan itu. Badanku  kembali berkeringat. Semangatku kembali mengalir. Sungguh bagiku… sakit yang sedang aku derita adalah rintangan kecil dari berbagai rintangan besar yang akan aku hadapi kelak. Sungguh, ini adalah sakit yang “Membawa Ibrah”. Tetap semangat… Allahu Akbar!!!!!!!



Kuala Lumpur, 03 September 2012.

Posting Komentar