Minggu, 14 Oktober 2012

Catatan Rihlah Ilmiyahku Part II


Al-Azhar, IIUP dan IIUM Yang Tertunda



 


“Jangan menghina kami kelak kami akan menjadi menteri”

Jangan engkau tanyakan aku mengapa aku lebih bersemangat untuk belajar ketimbang aku masuk kedalam dunia kerja. Sekiranya engkau bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini niscaya engkau akan memilih jalan seperti jalan yang akau pilih. Aku tidak bermaksud kaya dengan harta tapi aku hanya bermaksud kaya dengan ilmu.




Jalan hidupku sekarang memang pahit, tidak sepertimu yang sudah berdasi dan duduk di perkantoran. Aku bekerja separo waktu dan sepero waktunya untuk belajar. Sekarang hidupku memang pahit, namun yang terpenting bagiku adalah bisa belajar. Ilmu... ilmu... dan ilmu... karena aku ingin menjadi orang yang berilmu.



Aku tidak memilih jalan pintas, karena aku beribrah kepada mereka terduhulu, mereka itu sungguh pahit dalam belajar, namun ketika mereka sudah berilmu harta itu yang mengejar mereka. Mereka ibarat batang ubi, dimana engkau buang maka ia akan hidup.




*****

Hari ini aku bukan siapa-siapa, tapi suatu saat jika Allah mengizinkan dan memberi umur yang panjang pada kita, insyaallah engkau akan menyaksikan bahwa aku adalah seorang Professor radhiallahu’anhu. Itulah cita-cita tertinggiku kawan...

Pernahkah engkau mendengar kabar dari negeri sakura, Jepang kawan... Negara yang sukses menjadi salah satu negara Adidaya dan terdepan dalam tekhnologi saat ini. Mereka dihancurhanguskan oleh Amerika namun mereka begitu semangat untuk maju. Prof. Ezra Vogel dari Harvard University pernah melakukan kajian yang mendalam, mengapa Jepang sukses menjadi Negara Adidaya dan terdepan dalam tekhnologi. Diceritakan bahwa pada akhir tahun 1888hampir 30.000 pelajar Jepang belajar hampir 90 buah sekolah swasta di tokyo. 80% dari mereka datang dari daerah pedesaan. Sebagian besar mereka datang dari keluaga samurai yang terpaksa mencari jalan baru untuk memepertahankan muruah mereka pada zaman baru yang banyak berubah. Pelajar miskin dibiayai oleh tuan tanah dan hartawan. Sebagiannya lagi dari mereka bekerja sebagai pembantu tumah tangga atau bekerja separuh waktu atau bekerja sebagai pengantar surat atau menjadi penerjemah atau juga menjadi guru. Dengan bangganya mereka mengatakan: “Jangan menghina kami kelak kami akan menjadi menteri”.[1]

Atau pernahkah engkau mendengar cerita para ulama terdahulu berjalan beratus kilometer hanya untuk mendapat sebuah hadis seperti yang pernah dilakukan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Atau seperti Imam Syafi’i, Abu Hanifah, Malik, Ahmad, juga berkelana dari satu negeri ke negeri yang lain hanya untuk ilmu. Atau juga cerita Ibnu Taymiyah yang keluar masuk penjara dan pindah dari satu tempat ke tempat yang lain atau sederat nama-nama yang lain yang tak tersebutkan. Ingatlah kawan, mereka sudah tiada namun nama mereka masih ‘hidup’ sampai saat saat ini.




*****

Aku ingin bercerita, dulu ketika aku keluar dari kampungku aku belum tahu mengapa. Niat belajar belum terhujam. Namun seiring dengan berjalannya waktu, keinginan yang kuat menjadi seorang yang berilmu ketika aku duduk di bangku Aliyah. Hingga aku hujamkan niat yang kuat mengikuti jejak para ulama terdahulu yang keluar dari kampungnya untuk mendapatkan ilmu.

Universitas Al-Azhar. Yaa.. itulah tujuanku. Berjalanlah niscaya engkau akan mendapatkan saudara baru. Berjalanlah untuk belajar niscaya engkau akan menjadi orang yang berilmu”, kira-kira seperti itulah Imam Syafi’i mewasiatkan. Namun niat berjalan ke dataran Afrika bagian utara belum Allah kabulkan saat itu. Semasa di Aliyah aku curahkan seluruh potensiku untuk belajar agar nanti aku bisa lulus ke Al-Azhar.

Rangkaian beasiswa aku ikuti. Alhamdulillah  aku lulus, tapi lulus yang non-beasiswa.(^_^) Hingga akhirnya mengantarkanku ke IAIN, masih dalam negeri. Aku belum berputus asa. Seluruh petonsi aku gunakan untuk belajar. Bahasa yang menunjang (Arab dan Inggris) aku dalami meskipun jurusanku takhassus syari’ah. Cita-cita untuk meninggalkan negeri tidaklah pudar tapi malah semakin menyala.

Tahukah engkau kawan, mimpi pertama, untuk studi S 1 Al-Azhar gagal. Lalu aku membuat mimpi kedua kedua, studi S 2 ke [1] Pakistan dan [2] Malaysia. Aku tahu di sana ada Universitas tangguh yang dibangun oleh OKI (Organisasi Negara Islam). Internasional Islamic University Pakistan atau yang dikenal dengan IIUP. Internasional Islamic University Malaysia yang dikenal dengan IIUM. Namun mimpi ini belum juga Allah kabulkan. Allah malah memilihku pada Centre for Advaance on Islam, Science and Civilization atau yang disingkat dengan CASIS, Universitas Tekhnologi Malaysia. Alhamdulillah. Aku bersyukur pada Allah bahwa aku dapat mewakili kampusku untuk belajar kesini dan cita-cita S2 pun sampai. Aku senang dan bangga belajar disini dapat bertema 5 ilmuan ulung Nusantara saat ini dan 1 ilmuan ulung dari dataran Afrika, Ghana.

Begitulah takdir Allah, kita hanya bisa bercita-cita tapi Allah lah yang menentukan. Meskipun mimpiku untuk belajar ke IIUP atau IIUM belum Allah kabulkan saat ini, insyaallah jika Allah memudahkan jalan, keinginanku tidak langsung melanjutkan S3, insyaallah mengambil double degree dulu ke Universitas tersebut. Biarlah usiaku tua dan orang-orang mengatakan terlalu banyak S2. Maka aku jawab, “aku tidak bermaksud mencari title tapi aku bermaksud mencari ilmu”.







 



[1] International Society for Education Information, The Modernization of Japanese Education, Tokyo: ISE, 1986, jilid II, hlm. 60-65


Posting Komentar