Kamis, 04 Oktober 2012

Semuanya Berawal Dari Mimpi


            Dulu, 24 tahun silam, seorang anak bayi laki-laki lahir dari seorang Rahim perempuan yang bernama Asmanidar, lalu bayi tersebut di beri nama Edi Kurniawan. Dari kecil hingga selesai SLTP menetap di kampong halaman. Setelah itu anak tersebut melenjutkan ke MAKN (Madrasah Aliyah Keagamaan Negeri) Jambi. 




Kenangan di MAKN Jambi dulu (2003-2006)
             “semua berawal dari mimpi”, itulah kata yang akan kusampaikan. Ringkas kata ringkas cerita, dari Aliyah anak tersebut mempunyai mimpi yang untuk melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar. Namun pada waktu itu Allah belum memperkenankan mimpinya. Lalu ia mendaftar ke IAIN STS Jambi, mendalami ilmu Syari’ah. Dan menyelesaikan studi S 1 nya di IAIN tersebut.

Masa-masa Menjadi Aktifis Mahasiswa Di IAIN STS Jambi (2006-20010)
 “semua berawal dari mimpi”, cita-cita awal tidak pernah pudar, ingin melanjutkan studi ke luar negeri. Ikhtiyar selalu ia usahakan. Do’a selalu dipanjatkan. Lalu, semuanya diserahkan pada Tuhan.
“semua berawal dari mimpi”. Mimpinya yang kedua adalah melanjutkan studi S 2 ke: 1. Internesional Islamic University Pakistan (IIUP), 2, Internasional Islamic University Malaysia (IIUM), 3, Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, dan 4, IAIN STS Jambi. 

Internasional Islamic University Malaysia (IIUM)

“semua berawal dari mimpi”, setelah lulus dari kampus, hari demi hari anak tersebut selalu mencari informasi beasiswa keluar negeri. Namun tidak ada info dari Universitas yang telah ia lis. Lalu ia mencoba melamar beasiswa ke Universitas Islam Syarif Ali  Brunai Darussalam, namun nasib juga belum berpihak kepadanya.
“semua berawal dari mimpi”. Awalnya anak tersebut sidikit ada rasa keputusasaan. Namun cercah cahaya mengejar mimpi kembali datang ketika ada MoU antara IAIN STS Jambi dengan CASIS-UTM (Centre for Advance on Islam, Science and Civilization-Universiti Teknologi Malaysia). Lalu ia melamarkan diri, alhamdullah ternyata dia diterima.
“semua berawal dari mimpi”. Mimpinya ke Al-Azhar belum dikabulkan Tuhan. Mimpinya ke (1) IIUP atau (2) IIUM atau (3) UIN Jakarta belum juga dikabulkan Tuhan. Ternyata Allah mempercayai dia untuk melanjutkan ke CASIS-UTM. Bebas biaya kuliah…. Alhamdulillah…. “semua berawal dari mimpi”, akhirnya mimpi untuk studi S 2 pun terwujud.
“semua berawal dari mimpi”, anak tersebut sungguh amat bahagia dan senang menginkuti kuliah di CASIS. Studi keislaman yang dibuka khusus untuk S 2 dan S 3.  Mahasiswanya memang tidak banyak, studi full time S 2 dan S 3 +- 20 orang, namun sesuai dengan apa yang dikatakan direkturnya, Prof. Dr. Wan Nor Wan Daud: “saya tidak butuh mahasiswa banyak, karena saya ingin menciptakan singa”. Apa yang dikatakannya itu benar, yang ditandai dengan: 1. Mereka yang masuk ke CASIS adalah orang-orang pilihan. betapa banyak yang sudah melamar, dan hampir sebanyak itu pula yagn ditolak kecuali mereka yang sudah diketahui kapasitas dirinya. 2. Kelas dengan kelas Internasional, pada UTM Kampus Internasional dengan bahasa inggris sebagai pengantar kuliah dan bahasa arab sangat diajarkan dengan ketat dan super disiplin untuk menelaah turat-turat. 3. Tenaga pengajar tidaklah banyak, hanya 6 orang, tapi kelima orang tersebut adalah “singa”, “singa” yang menaklukkan Nusantara dan Dunia dengan hujjah dan tulisannya. Mereka adalah:
1.      Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas (Distinguished Visiting Professor)
2.      Prof. Dr. Wan Nor Wan Daud (Direktur)
3.      Prof. Madya. Khalif Muammar, M.A
4.      Prof. Dr. Zainy Uthman
5.      Assot. Prof. Dr. Syamsuddin Arif
6.      Dr. Sulaeman, M.A


Seluruh Dosen dan Mahasiswa CASIS Selepas "Liqa'" Bersama Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas (Distinguished Visiting Professor)

 “Semua berawal dari mimpi”, jika mereka (tenaga pengajar) adalah “singa” yang begitu kuat aumannya dengan hujjah, tulisan, nalar, dan aksinya, serta akhlaknya, maka hari ini aku telah bermimpi yang ketiga kalinya, “aku akan menjadi ‘singa’, raja diraja hutan belantara”. “Semua berawal dari mimpi”. Dan bukan tidak mungking Allah akan mengabulkan mimpi ini. Karena “mimpi” itu, selain bersandar kepada Allah ikhtiyar dengan sebenar-benar ikhtiyar itu lah kuncinya. Bukankah “tajam pedang karena diasah?” bak pepatah mengajarkann.



Kuala Lumpur, 4 Oktober 2012



Posting Komentar