Sabtu, 14 Mei 2011

Impian Keadilan Kaum Tertindas (Refleksi Pergantian Tahun 2009-2010)

 Oleh: Edi Kurniawan


Indoneisa adalah Negara Pancasila, dimana salah satu tujuan dari pada pancasila adalah mewujudkan Keadilan di semua lini. Hal ini dapat dilihat pada sila kedua yang berbunyi: “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”, dan sila kelima yang berbunyi: “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia ”. Negara telah mengakui bahwa keadilan wajib ditegakkan. Hukum yang ditetapkan harus dapat mengayomi dan melindungi seluruh rakyat Indonesia tanpa pandang bulu. Segenap warga Negara Indonesia berhak mendapatkan “keadilan” dalam seluruh lini kehidupan. Keadilan bukan untuk kaum tertentu saja akan tetapi keadilan adalah hak semua warga. Jika warga Negara tidak mendapatkan keadilan, baik itu di bidang hukum, politik, sosial, dll. maka warga tersebut berhak meminta keadilan tersebut, karena ini telah dijamin oleh Negara.

Berbicara tentang Indonesia dan Keadilan, naas memang realitanya terkadang, dimana keadilan hanya menjadia Lip Service kaum elite-elite Negara dan Pemerintahan saja, dan Keadilan terkadang hanya mengayomi golongan tertentu. Maka keadilan itu hanya menjadi mimpi bagi kaum yang tertindas.

Jika dibentangkan kembali sederetan impian kaum tertindas di akhir tahun ini untuk mendapatkan keadilan, setidaknya ada beberapa kasus yang perlu diketengahkan, dimana ini bisa menjadi cerminan bagi kasus-kasus yang lainnya. Sebagai contoh: Pertama. Masih ingatkah tentang kasus penembakan mati ketua saparatis Irian Merdeka beberapa minggu yang telah lewat? Ini dibentangkan bukan berarti kita meng-amini tindakan kelompok ini untuk keluar dari NKRI, akan tetapi sebijaknya adalah dikaji terlebih dahulu Back Round kasus tersebut, baru kemudian dapat mengambil hikmah atau ibrah dari kasus itu. Salah satu Back Round yang menyebabkan kelompok saparatis tersebut untuk keluar dari NKRI adalah faktor “Ketidakadilan”. Sebagaimana yang telah diketahui bersama bahwa Irian adalah negeri yang kaya. Ketika berbicara tentang Irian, maka yang teringat di benak orang Freefort, dimana Freefort ini setiap harinya menggali perut bumi Irian untuk mendapatkan emas dan kekayaan bumi lainnya. Hasilnya diambil lalu dibawa keluar, sementara Rakyat Irian hanya bisa menggingit jari. Naas memang, negeri yang kaya, hanya dikuasai oleh asing, sementara sengsaranya dikembalikan pada rakyat, “bak ayam yang mati di lumbung padi”, mereka mempunyai banyak makanan, tapi mereka tidak mampu untuk mematuk makanannya.

Kedua. Masih ingatkan kasus Prita Mulyasari (PM)? Seorang ibu rumah yang didenda oleh Pengadilan Negeri tangerang senilai Rp. 204 juta, karena dianggap telah mencemar nama baik RS Omni Internasional melalui e-mail yang yang ditulisnya tentang buruknya layanan Rumah Sakit tersebut. Lagi-lagi hati nurani Rakyat-pun berbicara, serentak di seluruh santreo Indonesia, rakyat yang memimpikan keadilan, tanpa digaji melakukan penggalan koin untuk PM. Ternyata dengan semangat yang begitu tinggi bukannya Rp. 204 juta yang terkumpul, malahan tiga kali lipat tersebut. Boleh jadi lantaran ini pula pengadilan yang mengadili merasa wa-was atau wanti-wanti dengan dengan gerakan koin untuk PM, hingga Pengadilan Negeri Tangerang beberapa hari yang lalu menyatakan bahwa PM dibebas dari jeratan hukum dan PM harus dipulihkan nama baiknya.

Ketiga. Atau masih ingatkah kasus nenek Minah (55)  asal Banyumas yang divonis 1,5 bulan kurungan dengan masa percobaan 3 bulan akibat mengambil tiga buah kakao milik PT RSA oleh PN Purwokerto. Ternyata lagi-lagi banyak kalangan dan kaum tertindas yang begitu prihatin dengan aparat penegak hukum negeri kita. Aparat penegak hukum harusnya mempunyai prinsip kemanusiaan, bukan cuma menjalankan hukum secara positifistik. Sungguh Negara kita telah jauh dari keadilan, bayangkan pajabat Negara yang menyulap uang rakyat miliaran rupiah, hanya mendapat hukuman beberapa tahun atau bulan saja atau mereka bisa terlepasakan dari hukuman tersebut. Sementara nenek Imah yang mangambil tiga biji kokau mendapatkan hukum yang tidak setimpal. Ternyata kaum pinggiran hanya hanya bisa bermimpi untuk mendapatkan “keadilan”, dan kedilan hanya diarahkan untuk kaum yang mempunyai power.

Keempat. Berita yang masih segar ditelinga kita, pembakaran mobil Polisi milik Perwira Tinggi yang dilakukan oleh seseorang di halaman Mabes Polri. Yang kemudian diketahui pelakunya bernama Iras Tambunan.  Iras mengaku ketika ditanyai wartawan, motif nekatnya adalah karena kecewa dan tidak mendapatkan respon dari pihak kepolisian terhadap laporan tindak kekerasan dan perbuatan yang tidak menyenangkan, dan aksi tersebut sebagai balasan ketidakadilan yang diterimanya. Kita tidak bisa meng-amini perlakuan anarkis seperti ini, akan tetapi jika kasus ini benar adanya, kita harus melihat dari sisi yang berbeda, yakni latar belakang atau sebab musababnya timbulnya, yaitu: “Ketidakadilan”.

Inilah potret negeri kita hari ini, beberapa deretan kasus yang panjang di akhir tahun ini ternyata penyebabnya adalah “ketidakadilan”. Itu baru kasus yang ter-ekspos di media massa , belum lagi kasus-kasus yang belum terungkap. Mulai dari pengusiran para PKL (pedang kaki lima ) secara tidak manusiawi, buruh-buruh yang ditelantarkan, pengait sampah yang dihinakan sampai kepada anak-anak yang diperjual belikan. Belum lagi carut-marut elite-elite politik, KPK, korupsi, century, mafia peradilan, sampai pada perdebatan tentang buku Membongkar Gurita Cikeas, itu semua tak terlewatkan.

Kalau dibentangkan kembali sejarah masa silam, tentu kita merindukan bagaimana sang pemimpin yang adil, Amirul Mu’minin Umar Bin Khattab dalam memimpin rakyatnya. Selama kepemimpinannya, rakyatnya begitu aman, damai dan sejahtera. Betapa tidak, khalifah sendiri yang mengangkat karung makanan ke rumah rakyatnya yang kelaparan. Kemudian Pernah diceritakan suatu hari Umar Bin Khattab sedang berkhotbah di mesjid kota Madinah tentang keadilan dalam pemerintahan Islam. Pada saat itu muncul seorang laki-laki asing dalam mesjid, sehingga Umar menghentikan khutbahnya sejenak, kemudian ia melanjutkan: “sesungguhnya seorang pemimpin itu diangkat dari antara kalian, bukan dari bangsa lain. Pemimpin itu harus berbuat untuk kepentingan kalian, bukan untuk kepentingan dirinya, golongannya, dan bukan untuk menindaskan kaum yang lemah. Demi Allah, apa bila ada pemimpin di antara kamu sekalian yang menindas kaum yang lemah, maka kepada orang yang ditindas itu diberikan haknya untuk membalas pemimpin tersebut. Begitu pula jika seorang pemimpin di antara kamu sekalian menghina seseorang di hadapan umum, maka kepada kepada orang itu harus diberikan haknya untuk membalas yang setimpal”.

Setelah sang khalifah berkhutbah, tiba-tiba laki-laki asing tadi bangkit seraya berkata: “ya Amirul Mu’minin, saya datang dari Mesir dengan menembus padang pasir yang luas dan tandus, serta menuruni lembah yang curam. Semua ini hanya satu tujuan, yaitu ingin bertemu denganmu”. Sang Khalifah Menjawab: “katakan apa tujuanmu?”. Laki-laki asing tadi menjawab: ‘saya dihina oleh ‘Amru Bin ‘Ash, gubernur Mesir. Dan sekarang saya akan menuntutnya dengan hukuman yang sama”. Sang Khalifah Menjawab: “benarkah apa yang engkau katakana tadi?. “benar adanya”, jawab laki-laki asing tadi. Sang Khalifah berkata: “kamu saya berikan hak yang sama untuk menuntut balas. Tapi engkau harus mengajukan empat orang saksi, dan kepada ‘Amru Bin ‘Ash aku berikan dua orang pembela. Jika tidak ada yang membela gubernur, maka engkau dapat melaksanakan balasan dengan memukulnya empat puluh kali”. Maka setelah itu ia kembali ke Mesir untuk menceritakan apa yang ia dengar dan ia diskusikan dengan sang Khalifah Umar Bin Khattab kepada ‘Amru Bin ‘Ash.

Singkat cerita sang gubernur Mesir dengan segala kerendahan hatinya memberikan rotan kepada laki-laki tersebut untuk mencambuknya sebanyak empat puluh kali. Dipkiran sang gubernur, siksa dunia tidaklah seberapa dibandingkan dengan siksa Allah di akherat kelak. Hingga ‘Amru Bin ‘Ash-pun meminta maaf kepada laki-laki tersebut dan laki-laki itupun  memaafkan “Amru Bin ‘Ash. Hingga mereka berdua saling berpelukan  sebagai tanda persaudaraan  dan rotan itupun dilemparkan.

Pertanyaannya adalah: “adakah kita menemukan pemimpin yang alim, adil, tegas, dan bijaksana seperti ini pada hari ini? Subhanallah! jika seandainya hari ini kita menemukan pemimpin layaknya Umar Bin Khattab, tentunya negeri kita menjadi negeri yang aman, adil, makmur, dan sejahtera. Mudah-mudahan dengan pergantian tahun baru ini, kita semua, wabilkhusus kepada para  Ulil Amri kita, bisa untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan di masa silam dan mari kita sambut tahun baru ini dengan semangat yang baru, untuk menjadikan negeri yang thayyibun warubbun ghafuur.
Posting Komentar