Selasa, 03 Mei 2011

Senandung Cinta

Pagi nan indah penggugah jiwa. Butiran-butiran embun mulai mengering dari dedaunan, mengering hingga memancarkan cahaya kilapan bak nyayian syurga dengan terpaan matahari pagi yang mengindahkan pulau dewata. Anak-anak dengan wajah ceria dan senyum sipu di wajah mereka, berduyun-duyun lalu lalang dengan seragam merah putihnya, saling berkejaran menuju sekolah mereka masing.

Di dalam kamarku, aku asyik dengan lemberan demi lembaran. Tanpa terasa ternyata aku hampir menamatkan buku di tanganku, Sabda-Sabda Cinta Dari Andalusia karangan Ibnu Hazm Al-Andalusi yang kubaca dari siang kemarin. Buku yang berusia tujuh abad lebih itu sungguh luar biasa. Karena ditulis oleh seorang seorang fuqaha, di samping itu ia juga seorang yang piawai dalam menguraikan psikologi cinta.

Tiba-tiba HP ku berbunyi dengan ciri has ringtone nokianya sebagai petanda ada pesan masuk. Kubuka. Ternyata ada pesan dari Muthmainnah.

"Aslm Wr Wb.
Selamat pagi kak Habsyi.
Aku ada punya puisi hadiah untukmu
Mau baca?"


"Wslm Wr Wb.
Ya… selamat pagi kembali.
Puisi tentang apa itu dek?
Ya..
silihkan dikirim".

Setelah kubalas pesan singkat Muthmainnah itu, kemudian aku asyik kembali dengan bacaanku. Mengarungi kata demi kata yang penuh hikmah. Menganalisis kalimat demi kalimat yang penuh noltalgia. Kira-kira baru 1 lembar lanjutan bacaanku, HP ku berbunyi lagi.

“Pasti dari muthmainnah”, pikirku.

Oh… ternyata benar.
Mataku terbelalak membaca pesan singkatnya yang berisi sebuah puisi.

"Setitik cahaya bersembunyi dalam kegelapan
Mencari celah pengharapan cinta yang tulus
Dalam buaian syahdu,
aku mengarungi samudra khayal

Mencari cinta dalam kegelapan,
bagaikan mencari jarum dalam tumpukan jerami
Selain cinta yang tulus,
aku ingin cinta yang halal

Bersenandung cinta karena Allah
Halalkan cintaku…"

Kata demi kata, kalimat demi kalimat kuhayati dan kuanalisis. Apa maksud dan tujuan di balik puisi-puisi itu.
Ah… aku tak mengerti secara menyeluruh, apa maksudnya. Karena puisi adalah bahasa jiwa. Untuk menterjemahkannya juga perlu penghayatan. Aku telah menghayati, tapi belum bisa kuterjemahkan secara utuh.

“Ah… dari pada kusalah, lebih bagus aku tanyakan saja kepada pengarangnya”. Pikirku.

"Wah… puisinya bagus banget.
Sepertinya telah lahir penerus Putu Wijaya
Mantap…
mantap…"

"Terimakasih kak!".


"Iya…
Sama-sama.
Aku bisa juga berpuisi".

Kemudian aku tinggalkan puisi itu. Aku teruskan bacaan demi bacaan dan lembaran demi lembaran buku yang ada di tanganku. Tak berapa lama kemudian, HP-ku berdering lagi.

"Mana balasannya kak?"
 
"Wah… pikiranku lagi gak mud untuk bersyair.
Sehabis asar nanti saya Jawab".

 "O…
Iya kak!
Terimakasih!"

Aku tinggalkan puisi itu dan aku lanjutkan bacaanku. Ntarlah aku tanyakan, apa maksud puisi itu. Aku terhanyut dalam duniaku. Aku terbuai oleh Ibnu Hazm. Kata-katanya telah menyihir mataku yang kantuk hingga melek. Perutku yang lapar, tak kurasakan. Badanku yang letih bekerja seharian, seakan-akan musnah begitu saja.



*******
Muthmainnah! Mahasiswi yang sering disebut-sebut dan diharap-harap para mahasiswa karena kecantikan paras dan kesopanannya. Bahasa Arabnya fasih dan lancar. Agamanya bagus, karena ia tumbuh dan dibesarkan di lingkungan pesantren. Pesantrean Darul Ulum Jakarta Timur, dibawah asuhan Kiyai Wahab yang sudah menjadi keluarganya sendiri.

Jalur pendidikan formalnya dari SD sampai SMU dilalui pada pendidikan umum. Pagi, di sekolah. Sore dan malam ia duduk menelaah kitab-kitab. Sehingga ruh agama sudah melekat dan mendarah daging dalam dirinya. Cahaya kesolehan tampak pada mukanya. Cara berpakaian sangat rapi dan menutup aurat. Hampir tidak ada lekak-lekuk tubuhnya yang bisa merangsang mata nakal.

Benarlah kata Rasulullah:
“Wanita itu dinikahi karena empat hal, yaitu harta, kecantikan, keturunan, dan agama. Maka pilihlah karena agama, niscaya engkau akan selamat”.

Tak terhitung sudah, berapa orang laki-laki yang datang untuk mengkhitbahnya. Beberapa waktu lalu, ada dua orang ustadz alumni Mesir dan Makkah datang untuk meminangnya. Ustadz Rahman, alumni S 2 Al-Azhar, Mesir. Dan Ustadz Jefri Nurrahman, alumni S 2 Ummul Quro, Makkah. Namun tidak ada satu pun yang dapat meraih hatinya.

Awalnya Ustadz Rahman yang datang. Namun usahanya tak membuahkan hasil. Dua minggu kemudian datang lagi Ustadz Jefri Nurrahman. Keadaannya sama seperti Ustadz Rahman. Dengan bahasa yang halus tanpa menyakiti ia menolak kedua pinangan itu.

“Maaf ustadz, tiada celanya kalian. Namun aku belum siap untuk menikah. Aku yakin di luar sana banyak gadis-gadis shaleh yang menunggumu. Sekali lagi, mohon maaf”. Begitulah jawaban yang hampir sama dengan penolakan yang halus.

Wajarlah pikirku. Wanita yang sempurna. Jika mengikuti petunjuk Rasulullah SAW tadi, empat hal itu ada dalam dirinya. Cantik, anak pejabat lagi konglomerat, dan agama juga sudah menjadi bagian yang tak persilahkan darinya.

Tapi aku tak habis pikir, apa maksud puisi yang dikirimkan untukku pagi tadi. Meskipun aku bukan orang sastra dan bukan pula penyair. namun sedikit banyaknya pengetahuanku tentang puisi bisa diuji. Karena banyaknya buku-buku sastra yang kubaca. Sastra adalah buku pavorit ketigaku setelah pemikiran Islam dan buku-buku jurusan yang kutekuni.

Kata orang, puisi itu perkataan jiwa. Untuk menerjemahkan puisi secara tepat, penulisnyalah yang lebih tahu. Begitulah petunjuk yang kudapat dari seorang Doktor Sasta, Siswanto dalam bukunya Pengantar Teori Sastra.

“Ah… supaya aku tidak salah langkah dan salah menafsirkan yang ujung-ujungnya mempermalukan diriku sendiri. Lebih baik aku tabayyun kepada orangnya saja. Iya, begitulah Rasulullah mengajarkan suatu masalah yang belum jelas agar diklarifikasi kepada orangnya”, pikirku.

Kuambil HP ku

"Aslm Wr Wb.
Maaf saudariku…
Puisi yang dikirimkan tadi terlulu tinggi bahasanya untuk orang sekelasku.
Keberaratankah sekiranya dijelaskan maksud dan tujuannya agar saya tidak salah menafsirkan?".

Tidak berapa lama kemudian, balasannya pun datang:

            "Waslm Wr WB.
            Syair itu aku buat sekiranya yang dirasakan oleh hati.
            Tidak dinafikan bahwa setiap insan menginginkan cinta.
            Tapi alangkah indahnya kata cinta itu diikat dengan tali yang suci,
            Cinta karena Allah.
            Senandung cinta karena Allah.
            Cinta yang halal."

Lama aku termenung membaca pesan singkat itu. Jawabannya selaras dengan apa yang aku pikirkan dan tak terjemahkan. Dadaku berdekap kencang. Dag.. dig.. dug.. napasku menyala. Pikiranku melayang. setan apa yang merasuk.

Tak habis pikir. Kenapa orang kampung yang survive di tengah kota metropolitan dan berasal dari keluarga kelas bawah. Alamat itu jatuh padaku. Padahal di luar sana berjubun para pemuda yang datang kepadanya secara baik-baik. Ustadz Rahman dan Ustadz Jefri bukanlah orang sembarangan. Aku mengenal kedua orang itu. Akhlaknya begitu terpuji. Ilmunya luas. Dan juga berasal dari keluarga yang terhormat. Kafa’ah-lah[1] dengan dirinya.

Sekitar empat bulan lalu aku sempat berbincang-bincang panjang lebar dengan mereka sehabis shalat zuhur di masjid At-Taqwa. Aku juga sempat mengikuti kajian ilmiah di bawah asuhan mereka di INSIST, Kalibata, Jakarta Utara.  Ustadz Rahman, pakar Hukum Islam. Tesisnya di Al-Azhar mengangkat judul, “Relevansi Teori Maqashid Al-Syari’ah Ays-Syatibi dalam Kontek Kekinian” yang lulus dengan nilai summa camlaude. Sementara Ustadz Jefri pakar Tafsir, Tesisnya di Ummul Qura mengangkat judul, “Analisis Terhadap Metode Hermeunatika Dalam Penafsiran Al-Qur’an”, yang juga lulus dengan nilai summa camlaude.

Hampir tidak ada yang kurang dari mereka. Tapi aku tak habis pikir. Apa maksud dan tujuan Muthmainnah dengan puisi itu.

“Ah… engkau tidak bisa terhanyut. Masa perjalanan dan pengembaraan ilmumu masih panjang. Buku-bukumu menantikanmu. Dalam peta hidupmu, engkau akan menikah setelah engkau menyelesaikan studi S 2. Engkau tidak bisa terhanyut. Rumput ilalang akan tetap berpuasa. Sampai waktunya nanti, baru engkau berbuka”, bisikan itu menghentakkan lamunanku.

Tak tahu dari mana datangnya bisikan itu. Apakah suara malaikat yang mengingatkanku. Ah… aku tak tahu. Yang pastinya bagiku, bisikan itu memang benar. Prinsipku, aku bukanlah orang yang fanatik dan tidak juga mau bersikap longgar. Aku tidak mau terhanyut dalam perdebatan orang tentang persepsi cinta. Jika cinta itu di tempat pada hal yang haram, maka ia menajadi haram. Jika cinta di tempat pada tempat yang halal, maka cinta itu berubah menjadi halal.

Sekarang bukanlah waktunya bagiku membahas persoalan cinta. Apatah lagi pacaran. Karena bagiku, mashlahat yang besar kudapatkan sekiranya sementara waktu aku berpuasa. Apabila sudah datang waktunya nanti, aku akan berbuka.

Mulai aku masuk pondok pesantren dulu sampai hari ini, hal-hal semacam itu aku tinggalkan. Aku hanya fokus pada studi dan pengembangan diri. Hari-hariku digeluti dengan buku. Perpustakaan sahabat karibku. Organisasi wadah pengembangan potensiku. Hingga sekarang aku sudah punya perpustakaan pribadi yang memenuhi lemariku. Kalau dihitung-hitung, tidak kurang dari 10 juta uang yang dihabiskan.

Terkadang aku tak habis pikir, banyak aku temukan mahasiswa yang selama masa kuliah, tidak ada satupun pernah membeli buku. Padahal uang jajannya, wah... banyak sekali. Berbanding lurus dengan uang jajan kiriman orang tuaku untuk satu semester.

"Bagaimana bangsa ini mau cerdas. Para pemudanya hanya berpoya-poya saja", pikirku.

Tidak tahu sudah berapa orang wanita yang menawarkan cintanya kepadaku. Namun aku tetap berpegang pada prinsipku. Ilmu adalah segalanya. Dan segala yang dapat menghambat dan membocori celah-celah ilmu masuk kedalam dadaku, aku tutupi. Aku bukanlah orang yang cerdas, tapi aku adalah orang yang tekun. Itulah prinsip al-Habsyi yang akan selalu dipegangnya.

Aku teringat ketika bulan-bulan pertama masuk pondok pesantren dulu. Aku sempat mengagumi seorang seorang wanita yang cukup idola di pondokku. Kala itu, aku kirimkan sepucuk surat kepadanya. Wah... begitu malunya aku. Apa yang kuinginkan tak diterima. Namun peristiwa itu pula yang menyadarkan diriku. Aku tinggalkan semuanya. Di penghujung studiku di pondok itu, malah dia datang lagi padaku.

“Maaf, Habsyi yang engkau kenal hari ini bukan lagi Habsyi yang dulu yang mengobarkan cintanya padamu”

Dari penuturan sahabat dekatku, dalam satu tahun terakhir ia mulai mengagumi karena prestasi-prestasi yang kutorehkan.

Ah… barangkali ada benarnya dan boleh jadi juga salah. Yang lebih tahu, ya pemilik hati. Aku tak mau pusing-pusing lagi untuk hal itu. Tugasku belajar dan belajar. Alhamdulillah selama di pondok ini aku telah membawa nama harum pondokku, baik tingkat lokal, maupun sudah beberapa kali masuk tingkat Nasional.

Kala itu, cinta yang sangat membara dalam hatiku hanyalah bagaimana aku dapat melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar, Mesir. Karena itu, dari awal aku telah mempersiapkan hapalan al-Qur’an dan Bahasa Arab sebagai modal dasar kelulusan.

Setelah selesai dari pesantren itu, cinta yang membara kepada Al-Azhar sempat aku coba mengikuti tes perifikasi di Jakarta kala itu. Alhamdulillah aku lulus. Namun, terkendala dengan dana, cinta yang membara itu pun tak kesampaian hingga mengantarkanku ke LIPIA.

“Ya udah… Allah lebih mempercayaiku masuk LIPIA. Alhamdulillah”, syukurku.

Di kampus itulah, cobaan berat lagi menghantui.
Berbagai macam bentuk wanita menawarkan cintanya padaku.

“Ah… rumput ilalang tetap akan berpuasa”

Bahkan ada yang lebih memalukanku lagi. Seorang mahasiswa asal Sumatra Barat, kuliah di UI. Secara terang-terangan mengungkapkan cinta dan menawarkanku untuk jadi pacarnya di depan umum yang membuatku tersipu malu tanpa bahasa. Kesan yang tak terlupakan. Hilanglah harga seorang wanita yang mengemis cinta kepada laki-laki yang dialunka di tempat umum.

"Sekiranya ia wanita baik-baik, tentu ia tidak akan berani melakukan demikian", pikirku.

Ah… jika aku deretkan satu persatu, tak tercatatkan. Al-Habsyi akan tetap berpuasa sampai ia mendapatkan pacar yang pertama dan pacar yang terakhirnya, yaitu istri tercinta. Sekiranya suatu hari nanti, ketika Allah memanggilnya untuk menyempurkan sebagian agamanya. Ia akan datang dengan terhormat kepada wanita yang menggugah hatinya.

“Maafkan aku Muthmainnah. Sekiranya engkau mengajakku untuk menjadi kekasihmu, aku tak bisa karena itu hanya membuang-buang waktu dengan sia-sia. Sekiranya engkau memintaku untuk menjadi istrimu, aku belum bisa. Cita-citaku masih belum tertunaikan. Lautan ilmu masih luas yang belum akau seberangi. aku tidak bisa mendahului takdir Tuhanku. Sekiranya suatu saat nanti sudah datang masanya. Dan sekiranya engkau ditunjuk oleh Tuhanku sebagai pendampingmu. Aku akan datang secara terhormat. Akan kudatangi walimu untuk mengkhitbahmu. Tapi bukan sekarang”.

“Ah… benar suara hati itu. Bukan sekarang masanya”.

Janjiku sehabis asar untuk membalas puisi itu pun tak sanggup kugoreskan pena untuk bersyair. Benar, tidak lama kemudian HP ku berbunyi.

Pesan dari Muthmainnah.

"Penantian yang panjang".

Terpikirkan dalam benakku. Pesan itu pasti ia menagihkan janjiku padanya. Dengan tangan sedikit bergemataran kubalas pesannya.

"Maafkan aku yang lemah ini ya saudariku…
Pikiranku tidak mud untuk bersyair.
Insyaallah sehabis Magrib nanti akan kujawab".

 "Ooo iya kak…
Terimakasih".

 Sore itu aku pun masih asyik dengan bacaanku, Sabda-Sabda Cinta Dari Andalusia yang kubaca sudah hampir dua hari milik teman sekamarku sekaligus sudah seperti saudara kandungku sendiri, Ustadz Munir.

Aku hanya berhela napas panjang-panjang tanpa terasa aku berujar.

Subhanallah! Sungguh luar biasa Ibnu Hazm. Seorang Fuqaha’ asal Andalusia, Spanyol. Di samping beliau dikenal sebagai pendiri Mazhab Fikih, Azzahiriyah. Ternyata pengetahuaannya tentang cinta sunnguh luar biasa. Meskipun bukunya sudah berabad-abad lamanya, namun nilai-nilai sastra yang terkandung di dalamnya seakan-akan tak luntur dimakan zaman. Aku tak tahu, sudah berapa orang ilmuwan Barat dan Timur mengkaji buku itu. Mulai dari penilitian Skripsi, Tesis, sampai pada Disertasi. Subhanallah. Insyaallah aku akan mengikuti jejak langkahmu. Aku menyelesaikan studi S 1 ku pada jurusan syari’ah. Dengan tekadku, aku akan menjadi fuqha' dan juga akan menguasai sastra”.

 Begitulah seorang Ibnu Hazm yang piawai dan spesifisi pada satu ilmu saja. Namun, ia juga mengusai sastra.

Sebenarnya, para tokoh-tokoh Islam telah mencontohkan itu. Ibnu Rusyd, di samping ia dikenal sebagai seorang Fuqaha', ia juga dikenalkan seorang filosof. Hingga melahirkan kitab fikih yang penuh dengan nilai filosofis, Bidayah Al-Mujtahid. Hasil jerih pikirannya menginspirasikan lahirnya pemikir-pemikir Eropa. Begitu pula dengan Ibnu Khaldun. Ia Juga dikenal sebagai seorang hakim agung, fuqaha’, ternyata ia juga seorang politikus, pakar sejarah, dan Bapak Sosiologi. Bukunya Muqaddimah telah menginspirasikan lahirnya tokoh-tokoh Sosiologi Moderen semisal Max Weber, Karl Mark, Emei Durhaim, dan sederet tokoh-tokoh yang lain yang tidak terlepas dari pengaruh pemikirannya. Hingga mengantarkan menjadi bapak Sosiologi.

Ibnu Sina, Al-Farabi, Sibawaihi, Al-Kindi, dan sederet tokoh-tokoh dan pemikir Islam terkemuka telah membuktikan pada dunia bahwa Islam itu mempunyai peradaban. Namun hari ini, aku hanya sedih melihat wajah-wajah penerus mereka yang tidak tampak keseriusannya untuk menggali dan menghidupkan kembali peradaban itu. banyak aku menemukan para mahasiswa yang hanya disibukkan pada urusan yang tak bermanfaat. Pacaran, bahkan ada juga mabuk-mabukkan, dan sederet jerat-jerat iblis lainnya.

Begitu pula banyak aku temukan kebanyakan dari Perguruan Tinggi Islam yang terlalu mengagungkan-agungkan dan menelan mentah-mentah tanpa filterisasi metodolgi Barat, padahal kita mempunyai metologi yang diwariskan oleh pemikir-pimikir kita. Hal ini kita bukan bermaksud bahwa kita anti metodologi Barat, namun semustinya ada ada filterisasi. Sebab, tidak semua metologi Barat sesuai dengan metodoli Islam.

Aku hanya berdecak kagum dengan tokoh kontemporer semisal Syed Nuqib Muhammad Al-Attas. Pria kelaiharan Bogor dan menghabiskan waktu di Negeri Jiran, Malaysia itu. Dengan kepiawaian, kecerdasan, dan semangat untuk mengembalikan peradaban ilmu pengetahuan Islam. Ia mendirikan Internasional Islamic Institut Thought and Civilization (ISTAC).

Begitu pula dengan Ismail Raji Al-Faruqi, pendiri Islamic Researce, Amerika. Darah pejuang Palestina mengalir deras dalam tubuhnya. Konsep Islamisasi ilmu pengetahuan mencerahkan mata dunia hari ini.

Di pojok itu aku hanya melamun, akankah aku bisa menjadi pemikir seperti mereka? Akankah aku bisa memberikan kontribusi yang luas untuk umat ini. Jantungku berdetak lebih kencang dengan penuh semangat.

"Aku pasti bisa! pasti bisa!".



*******
Sedikit banyaknya aku tahu kehidupan Muthmainnah dari Ustadz Munir, teman sekamarku. Beberapa kali aku mendengar cerita dari beliau tentang kepribadiannya. Karena Ustadz Munir dan beliau sama-sama menempuh studi pada perguruan tinggi yang sama, yaitu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Bahkan ia sama-sama satu jurusan. Ustadz Munir dalam penulisan skripsinya melakukan riset di kelas Muthmainnah. Jadi ia lebih tahu kepribadiannya.

“Wah… anak itu cukup cerdas dan kritis Habsyi. Disamping itu juga dari kepribadiannya bagus dan sopan. Cara dia berpakaiaan dan bertutur kata. Pergaulannya dengan lawan jenis, sungguh sangat dijaga”, begitulah aku mendengar penuturan dari ustadz Munir beberapa waktu lalu.

Aku mengenalnya lebih kurang setahun yang lalu. Kebetulan waktu itu ada sebuah seminar dan bedah buku. Aku dipinta oleh panitia untuk menjadi pembicara. Bertempat di Aula Perpustakaan Nasional RI.

Kala itu, dari materi yang kuberikan, ada sebuah ilustrasi sebuah game yang bermuatan mapping life. Seluruh peserta kala itu aku pinta untuk membuat sebuah bagan mapping life mereka untuk beberapa tahun kedepan. Ada yang 20 tahun kedepan mau menjadi pengusaha, guru besar fikih, tafsir, pendidikan, ekonomi Islam, dan beragam macamnya. Bahkan ada juga yang tidak mempunyai arah dan tujuan. Aku hanya senyum dan berdo’a tatkala catatan yang masih kusimpan itu apabila aku membacanya.

Mapping life atau targetan-targetan hidup memang perlu dibaut. Kemudian ditempel di tempat-tempat yang sering dilalui seperti di depan meja belajar, dalam buku agenda, di depan cermin, belakang pintu kamar atau di tempat-tempat yang memungkin untuk dapat dibacan. Hal ini merupakan sebuah do’a dan akan membantu mengingatkan manakala malas. Hingga naluri semangat selalu timbul.

Masing-masing dari mapping life mereka dikumpulkan. Dari sekian ratus peserta, aku hanya membutuhkan empat sample. Dua dari laki-laki dan dua dari perempuan. Muhammad Ibrahim dan Kemas Mahmud dari pihak laki yang terpilih. Munawwarah dan Siti Muthmainnah dari pihak perempuan yang terpilih.

Satu persatu dari sample itu aku baca. Namun yang sangat terkesan dan tak terlupakan olehku sampai sekarang adalah mapping life milik Siti Muthmainnah. Dalam mapping life miliknya tertera 2 tahun lagi ia akan menyelesaikan pendidikan dari UIN Jakarta dengan kelulusan terbaik. 2 tahun kemudian ia menyelesaikan studi S 2 di Oxpord University. Kemudian kembali lagi ke UIN menjadi tenaga pengajar. Kemudian 1 tahun kedepan, berpasan umur 25 tahun melangsungkan pernikahan. 1 tahun kemudian mempunyai anak. Cuma sebatas itu mapping life-nya.

Tatkala aku bacakan, sedikit dengan nada senyum dan tertawa. Karena ketidak kepengetahuanku, aku menyangka ia adalah mahasiswa baru,

“Siti Muthmainnah. Saudari 2 tahun lagi menyelesaikan studi dari UIN ini. Wah… hebat sekali. Biasanya untuk S 1 kebanyakan mahasiswa menyelesaikannya butuh waktu 4 – 4/2 tahun. Itu sudah termasuk kategori mahisiswa cerdas. Luar biasa saudari. Mudah-mudahan tercapai ya… amin!”, tuturku.

Dari raut wajah, tunjuk tangan sebelah kanan, dan geleng-geleng kepalanya kepala kepadaku. Sepertinya ada sesuatu yang tidak ia terima dari yang kututurkan tadi. Dari kejauhan aku melihat, ia berbisik-bisik dengan teman sebalah kanan dan kirinya.

“Yah… nggak meleset” pikirku.
Pasti ada sesuatu yang aku salah ucap sehingga membuatnya menjadi menjadi malu di depan para peserta.

“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud mennyinggung atau mempermalukanmu”, lirihku dalam hati.

Tidak lama kemudian.

“Kak… Kak… Siti Muthmainnah ini sudah semester lima. Bukan mahasiswa baru”, sahut salah seorang peserta putri”.

“Ya Allah… benar kata ku tadi. Pasti ada yang salah. Dan mapping life yang dibuatnya ternyata sudah betul”.

“Maafkan aku Mbak Muthmainnah. Pikirku tadi saudari mahasiswa baru. Maaf… maaf… saya benar-benar tidak tahu”.

Eksperesi wajah, geleng-geleng kepala, dan tunjukan tangan sehingga aku merasa berdosa. Itulah kesan yang tak terlupakan olehku sampai hari ini. Yah… mau gimana lagi. Itu diluar kemampuan dan pengetahuanku. Aku hanya berpikir, dalam soal ibadah mahdhah saja Allah mengampuni dosa-dosa hambanya dari perintah-perintah yang tak terlaksana karena lupa.

Ah… itukan dalam perkara ibadah. Perkara ini sangat berbada dalam perkara muamalah. Dalam perkara muamalah, manakala berdosa atau berbuat salah kepada manusia, maka musti meminta maaf kepada orang yang tersakiti. Namun hal ini sepertinya banyak manusia yang menganggap bahwa tobat itu hanya hanya bertobat pada Allah, setelah itu selesai. Padahal bukan, mau bertobat kepada Allah manakala hati manusia telah tersakiti, maka musti meminta maaf kepada kepada orang yang tersakiti tadi.

Kewajiban orang yang manyakiti hati orang lain adalah meminta maaf. Diterima atau tidak, hutang sudah terselesaikan. Memang harus diakui urusan ini memang berat, namun nilai pahala di sisi Allah begitu besar dan luar biasa.

Aku mendapatkan pelajaran ini dengan Ustadz Sugik Nugroho, Ustadzku di Ponpes Darul Mu’min, Jakarta Selatan dulu. Hal ini ditemukan dalam sebuah hadis shahih bahwa salah satu perkara yang berat dilakukan dan pahala di sisi Allah begitu besar adalah memaafkan orang yang telah berbuat salah kepada kita.

Aku telah meminta maaf padanya. Kewajibanku sudah selesai. Urusan dimaafkan atau tidak, itu haknya. Tapi aku yakin, ia adalah seorang wanita mu’minah yang tidak mempunyai sifat dendam.

Dua hari berturut-turut sehabis acara itu, manakala aku telah menyelesaikan shalat lima waktu dan shalat malamku, selalu aku mendo’akan semoga Allah mengampuni dosaku padanya dan mendo’akan agar ni’mat dan rahmat selalu tercurahkan untuknya.

“Yaa Allah… Tada hamba telah berbuat salah dan menyakiti hati Siti Muthmainnah, salah seorang peserta Training. Ampunilah dosa hambamu ya Rabb. Berikanlah nikmat dan rahmatmu kepadanya. Mudahkanlah rezekinya. Sukseskanlah studi. Jadikanlah ilmunya bermanfaat untuk agama ini. Kabulkanlah ya Rabb. Amen ya Rabbal ‘Alamin!”.

Begitulah kebiasaanku manakala aku menyakiti hati seseorang atau ada orang yang membenciku. Aku do’akan semoga kebaikan selalu mengitarinya. Dan ternyata subhanallah! Benar kata Rasulullah bahwa do’a adalah senjata orang mu’min. Orang-orang yang tersakiti hatinya olehku, baik dari guru-guru, teman-teman, dosen-,deson, kedua orang tua, dan sudara-saudaraku, ternyata dalam beberapa waktu setelah itu, sikap mereka padaku berubah berbalik 180 derajat. Subhanallah! Begitu indahnya ajaran Rasulullah.

Pernah aku mendengar ceramah Ustadz Sayyid Assegaf beberapa waktu lalu bahwa sudara kita mempunyai kewajiban kepada saudara kita sesama muslim. Dan mereka mempunyai hak dari kita. Salah satunya adalah mendo’akan dan memberikan salam kepada meraka meskipun ia seorang preman sekalipun.



*******
Dua minggu setelah acara itu, aku pergi ke net yang tak jauh dari rumahku untuk mencari tambahan dari data skripsiku. Lelah dan puas mengarungi dunia maya, kubuka FB-ku. Barangkali saja ada berita penting dan kiriman-kiriman tulisan dari teman-teman.

Saat FB kubuka. Aku melihat beritan dan pesan masuk. Ah… ternyata tidak ada pesan dan berita penting. Kemudian kubuka pesan permintaan pertemanan, ada 15 orang yang memintaku untuk menjadi teman. Kuklik satu persatu dan yang terakhir, dari wajahnya, rasa-rasa aku mengenal sosok wajah itu.

“O… iya. Itukan muthmainnah. Mahasiswa semester atas yang kusangka mahasiswa siswa baru dalam acara beberapa waktu lalu”, pikirku.

Tiba-tiba saja aku teringat dengan kesalahan yang kulakukan terhadapnya. Lalu kuklik dan kukirim pesan via dinding FB.

            "Maaf Mbak Muthmainnah atas kejadian dua minggu lalu
            Saya kira Mbaknya mahasiswa baru
            Sekali lagi mohon maaf".

Dua hari setelah itu aku kembali lagi ke net yang sama dengan tujuan yang sama, mencari tambahan data skripsi. Deadline waktu yang semakin mendekat waktu-waktu wisuda.

“Skripsiku harus selesai tepat waktu”, hentakku.

Dua minggu sudah aku hanya rehat sehabis shalat subuh. Berjilid-jilid kitab di depan komputerku yang harus kupahami. Tafsir, Ushul Fiqh, Journal-Jounal lmiah Internasional dalam bahasa Inggris dan sederet buku-buku dalam bahasa Indonesia lainnya.

Teman-teman menganggap proyek skripsiku dengan proyek gila. Betapa tidak, untuk menyelasikan bab IV saja sudah dua minggu bergadang didepan komputer. Lelah sudahlah pasti. Capek apalaj lagi.

Setelah data yang kucari didapatkan, untuk merehat otak aku membuka FB ku. Ternyata ada balasan pesanku dari Muthmainnah.

"Ya gak apa-apa kak
Santai saja".

"Terimakasih!
Jazkillahikhairan
Wasssalam!".

Kemudian kubuka pesan masuk, wah… ternyata ada beberapa kiriman tulisan ilmiah dari Forum Studi Ekonomi Islam dan dua buah puisi kiriman dari adik kelasku dulu, Wung, yang kini kulian di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kubaca satu persatu. Dan yang terakhir dua buah puisi yang sangat indah yang ditulis dengan penuh penghayatan.

“Luar biasa. Kuliahnya megambil jurusan Pendidikan Bahasa Arab, ternyata ia juga orang yang puitis. Ia memang anak yang tekun. Otaknya cerdas. Selalu meraih juara satu di pondok dulu. Wajar…”, pikirku.

Beberapa minggu kemudian setelah ujian skripsiku. Aku kembali lagi ke net untuk merehat otak dan mencarai informasi. Tak tahu, aku tertegun dengan puisi Muthmainnah di catatan FB-nya. Ternyata catatan FB-nya hanya berisi puisi-puisi.

“Oh… ternyata dia juga orang yang puitis. Kata-kata, indah, mengalir, berisi, dan enak didingar. Luar biasa…” pikirku.

Aku tinggalkan sebuah pesan untuk komen puisinya.

"Mbak Muthmainnah.
Puisinya bagus, indah didengar, mengalir, dan berisi.
Mengapa mbak tidak angresif lagi untuk menulis
Coba kirimkan ke Kompas, Republika, atau Jakarta Ekspress.
Sekiranya dimuat, wadah yang cukup besar untuk pengembangan diri.
Di samping honor yang menjanjikan pula.
Wassalam!"


            "Terimakasih kak
            Saya tidak mempunyai pengalam megirimkan tulisan ke media.
            Sekiranya kakak berkenan, mohon tunjuk ajarnya.
            Terimakasih.
            Wassalam!"

"O… iya. Saya nggak keberatan.
Biasanya di media-media.
Kolom khusus untuk sastra itu edisi khusus hari minggu.
Nah, coba kirimkan ke emailnya dan lampirkan poto dan biodata
Untuk emailnya, cari saja di web mereka, di sana biasanya ada".


"O… iya kak,
Terimakasih.
Akan aku coba"

Benar, ia memang mencoba. Beberapa hari setelah itu ada pesan di FB-ku

"Terimakasih banyak kak atas tunjuk ajarnya
Alhamdulillah hari minggu kemarin puisi saya di muat di Jakarta Ekspress
Terimakasih banyak!".

Tanpa banyak komen, hanya kujawab:

"Semangat!!!".

 Berawal dari situlah aku mengenalnya agak lebih dekat, ternyata dia juga seorang puitis. Beberapa waktu setelah itu, entah dari mana ia mendapatkan nomorku. Tiba-tiba saja aku mendapat kiriman sebuah puisi.

"Wah… puisinya bagus sekali        
Maaf ya…
Ini dengan siapa".

"Muthmainnah kak!".

"Oh… muthmainnah
Terus saja berlatih
Insyaallah mbak akan menjadi penyair".

"Iya kak terimakasih.
Dan terimakasih juga atas tunjuk ajarnya"

"Iya, sama-sama.
o… iya… no saya kamu dapat dari mana?".

"Maaf kak, tanpa permisi
Nomornya saya ambil dari FB-nya"

"o… gitu…
iyalah…
wassalam!".

 Sejak saat itulah ia sering konsultasi mengenai dunia penulisan, terutama puisi denganku. Terkadang aku hanya berfikir, salah alamat ini orang. Saya bukan orang yang puitis. Dulu ketika di MTS, saya memang suka dengan puisi. Dan itu sempat aku tinggalkan. Entah… beberapa bulan terakhir ini saja aku mulai meliriknya lagi. Apakah benar karya-karya puisiku indah, atau bukan? Entahlah… yang menilai orang lain. Bak kata pepatah arab “Man jadda, wajada” (iapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapat).

Siapa pun orangnya, jika ia bersungguh bersungguh, insyaallah ia akan bisa menjadi penyair. Dan pepatah ini berlaku untuk semua bidang.

Bak pepatah melayu, “lancar kaji karena diulang, lancer jalan karena ditempuh, tajam pisau karena diasah”. Intinya, tidak ada orang yang bodoh di dunia ini. Cuma berbeda adalam semangatnya saja.



*******
Hari pun semakin sore. Janjiku kepada Muthmainnah harus aku penuhi. Sebelum magrib itu aku mencoba merangkai kata dan menggoreskan pena. Aku tidak mau menggantungkan orang. Karena ia datang secara mulia, maka aku harus megahargai denga cara mulia. Meskipun aku belum bisa menghayati. Sekiranya puisi itu permintaannya untuk menjadi kekasihnya ataukah permintaan yang mulia, mengikuti sunnah Nabi, mengkhitbah dirinya. Yang jelas, bagiku keduanya aku tak siap.

Dalam pikiranku, jika maksud puisi itu bertujuan meminta aku menjadi kekasih, nggak mungkin pikirku. Dia adalah wanita yang cerdas, cantik, sholeh yang sangat menjaga dirinya. Tidak mungkin ia mengatakan itu. Tapi entahlah, Allah lah yang maha mengetahui hati hambanya.

Maafkan aku Muthmainnah. Kata-katamu, “Halalkan cintaku”. Sekiranya kata perintah “halal” itu maksudmu adalah do’amu pada Rabb-mu, maafkan aku, aku belum siap. Dan aku tidak bisa menjanjikan dan mendahului takdir Tuhanku. Sekiranya itu berlabuh padamu, insyaallah aku akan datang secara terhormat, bukan lewat pintu belakang. Dan sekiranya kata “halalkan” itu permohonanmu kepadaku untuk mengkhitbah dirimu, aku juga belum siap. Jalanku masih panjang. Dan sekiranya kata “halalkan” itu permohonanmu memintaku menjadi kekasihmu, aku juga tidak siap. Karena bagiku, akn membuang-buang waktu dan pikiranku.

Cinta petamaku adalah pacar pertamaku, dialah istriku nanti. Aku akan bercinta dengannya, cinta di dunia dan cinta di akhirat. Cinta karena Allah. Senandung cinta karena Allah.

Aku akan berpuisi "cinta" dengannya. Puisi "cinta" untuk malam-malam yang kunantikan. Malam yang penuh berkah. Malam yang para malaikat turun bertasbih dan berdo’a kepada Tuhan. Malam di mana Allah dan malaikat-Nya menyaksikan puisi-puisi cintaku. Itulah cita-citaku.

Engkau adalah wanita yang baik-baik. Dari keluarga yang baik-baik, lagi terhormat. Sudah berapa orang ustadz datang kepadamu untuk menghalalkan dirimu. Keputusan semuanya ada pada tanganmu.

Yang pastinya, aku sangat menghargai apa pun maksud dari puisi itu dan aku harus menepati janjiku.

“Apabila engkau dihargai dengan suatu penghargaan, maka balaslah perhargaan itu dengan yang terlebih baik atau setimpal”, begitu kalam Allah yang mulia memerintahkan.

Dengan mungacap
Bismillahirrahmanirrahim

Kuangkat penaku. Kujalankan imajinasiku untuk mengeluarkan kata-kata indah. Puisi ini aku beri judul, “Senandung Cinta”.

~Senandung Cinta~

Kata itu…
Kata itu…
Hadiah sepucuk puisi untukku
Keagungan kata dan niat yang mulia

Ah…
maafkan aku
aku tak bisa karena aku telah,
jatuh cinta pada tuhanku
jatuh cinta pada buku-bukuku
jatuh cinta pada goresan pena dan,
asahan imajinasiku

Tibalah masa tibalah waktu
Sekiranya suatu hari nanti Tuhanku,
meminta menyempurnakan sebagian agamanya dan,
Sekiranya itu jatuh padamu maka,
rumput ilalang pun akan berbuka
memetik ranum di taman itu

Aku akan datang pada pemilik kebun itu,
mawar itu akan kubeli beli dengan,
kitab
sajadah
manik-manik dan beberapa
mayam emas dengan akad yang,
diajarkan Nabi-ku

Jadilah ia,
halal untukku

Mawar itu akan kupetik,
kurawat,
kujaga dan,
kusiram


Itulah senandung cintaku
cinta yang pertama dan cinta yang terakhirku
senandung cinta karena Allah.

Setelah puisi ini aku tulis, kemudian aku salin kedalam HP-ku. Dengan mengucap bismillah pula, sehabis magrib, puisi itu aku kirimkan kepadanya.itulah puisi cintaku. Insyaallah cintaku akan bersenandung karena Allah!

"Muhammad Al-Habsyi akan bercinta setelah mendapatkan yang halal untuknya. Dan setelah mengarungi samudra ilmu yang luas. Kini bukanlah waktunya untuk membuang waktu. Belajar... Belajar dn Belajar...", aku tertegun dalam mimpi.


Rumah Allah, 12 Februaru 2011


[1] Kafa’ah adalah setingkat dan setara dalam kedudukan dalam pernikahan.

Posting Komentar