Minggu, 15 Mei 2011

Menghkawatirkan Terhadap Cara Berpikir Mahasiswa



Dengan adanya isu-isu NII, teror dengan menggunakan bom, dan lain-lain banyak pimpinan perguruan tinggi dan juga para pejabat yang bertanggung jawab terhadap pendidikan mulai mengkhawatirkan terhadap cara berpikir mahasiswa. Kekhawatiran itu muncul oleh karena, menurut pemberitaan selama ini, bahwa salah satu sasaran yang terkena pengaruh gerakan yang menggelisahkan itu adalah justru orang-orang di kalangan kampus itu.

Dalam sejarahnya, mahasiswa selalu melakukan perubahan dan atau peran-peran korektif terhadap tatanan kehidupan sosial yang ada. Usia mereka yang masih muda dengan menyandang idialisme yang tinggi, pikiran yang masih jernih, dan jiwanya belum terbebani oleh kepentingan yang bersifat praktis dan prakmatis, maka kelompok ini biasanya berhasil menyuarakan sesuatu yang bersifat rasional, benar, dan obyektif, yang berasal dari pikiran dan nuraninya yang mendalam.

Akan tetapi keterlibatan sementara dari mereka dalam NII dan teror dengan menggunakan bom, rasanya bukan sebagaimana lazimnya gerakan mahasiswa yang didorong oleh idealisme itu. Apalagi dari berbagai pemberitaan, dikatakan bahwa masuknya pada NII melalui cuci otak, baiat dengan persyaratan harus membayar dana tertentu sekalipun diperoleh dari cara yang tidak benar, dan seterusnya. Gerakan mahasiswa, biasanya dengan sifat keberaniannya, obyektifitas, dan rasionalnya, biasanya selalu dilakukan secara terbuka, dan sebaliknya tidak merusak, dan apalagi membunuh orang lain.

Selain itu, para mahasiswa yang terkena atau terlibat pada gerakan tersebut, dari berbagai pemberitaan juga diketahui, bahwa mereka bukan aktifis yang biasanya menyandang idealisme yang tinggi. Umumnya mereka adalah mahasiswa biasa yang tidak menonjol, baik intelektual maupun sosialnya. Mereka adalah mahasiswa yang masuk kategori biasa-biasa saja. Oleh karena itu, menghadapi persoalan ini, yang justru harus dikoreksi atau dilihat kembali adalah kekuatan interal kampus sendiri, baik yang menyangkut dengan manajemen, orientasi, dan bahkan misi yang dikembangkan selama ini.

Mahasiswa hingga masih bisa dicuci otaknya, diperlakukan secara tidak rasional, hingga mereka melakukan tindakan kekerasan dan lain-lain, bisa jadi justru disebabkan oleh karena perguruan tinggi yang bersangkutan. Perguruan tinggi yang dimaksud masih gagal dalam mengantarkan mahasiswanya memiliki pribadi yang tangguh dan penuh idealisme. Bisa jadi perguruan tinggi telah terjerembab oleh budaya prakmatisme, dan tidak sepenuhnya berorientasi pada pengembangan ilmu yang bersifat obyektif, terbuka, dan berorientasi pada kebenaran.

Perguruan tinggi sudah masuk pada wilayah praktis dan prakmatis, sehingga orientasi kegiatannya sebatas menjalankan program-program dengan ukuran minimal. Penerimaan jumlah mahasiswa baru yang melebihi batas misalnya, ukuran keberhasilan mahasiswa yang hanya dilihat melalui angka-angka yang tidak menggambarkan kenyataan sebenarnya, serba formalisme dan seterusnya, maka akan melahirkan mahasiswa yang tidak semestinya itu. Mahasiswa yang dilahirkan adalah orang-orang lembek yang masih bisa dicuci otaknya dan diperdaya oleh orang-orang yang tidak jelas asal muasal datangnya.

Oleh karena itu, dalam menghadapi persoalan tersebut yang justru harus mendapatkan perhatian serius adalah internal perguruan tinggi yang bersangkutan. Perguruan tinggi harus dikembalikan pada posisi dan peran strategisnya. Perguruan tinggi tidak selayaknya hanya sibuk mencari tambahan pendanaan dengan cara menerima mahasiswa baru dengan jumlah sebanya-banyaknya. Budaya formalitas di kalangan perguran tinggi tidak boleh terjadi. Perguruan tinggi harus menjaga obyektivitas dan rasionalitas dalam mencari, menegakkan, dan menjunjung tinggi kebenaran.

Memang akhir-akhir ini, saya sering mendengar ungkapan aneh. Ukuran kebesaran perguruan tinggi tidak lagi dilihat dari temuan-temuan yang dihasilkan dari kegiatan risetnya, karya ilmiah para dosennya, pikiran-pikiran besar yang dihasilkan, dan lain-lain serupa itu, melainkan hanya dilihat dari berapa jumlah mahasiswanya, berapa kali mewisuda, dan berapa lama mahasiswa bisa menyelesaikan belajarnya di kampus itu. Makin besar jumlah mahasiwanya, makin cepat bisa lulus, dan makin besar jumlah uang yang bisa dipungut, maka perguruan tinggi dimaksud dianggap semakin hebat.

Jika gambaran seperti itu yang terjadi, maka tatkala ada mahasiswa yang masih bisa dicuci otaknya oleh orang yang tidak jelas, lahir kekerasan yang merusak dan seterusnya, adalah hal yang bisa dipahami dengan mudah. Oleh karena itu, menurut hemat saya, yang justru perlu dikhawatirkan dan harus menjadi perhatian adalah internal perguruan tinggi yang bersangkutan. Jangan-jangan selama ini telah terjadi mismanagemen, atau disorientasi dalam pengelolaan perguruan tinggi, hingga berakibat melahirkan mahasiswa yang tergolong lembek itu.

Betapapun besarnya pengaruh dari luar, manakala perguruan tinggi memiliki ketangguhan dalam pengelolaan dan pengembangan akademiknya, maka mahasiswanya akan terselamatkan, dan justru akan lahir manusia-manusia yang memiliki ketahanan pribadi dan idealime yang kokoh. Jika perguruan tinggi dijalankan secara benar, maka tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan dari kehidupan mahasiswa, termasuk cara berpikirnya.


Tulisan ini diambil dari artikel Prof. Imam Sufrayogo dalam:

Posting Komentar