Sabtu, 21 Mei 2011

Jalan-Jalan Ke Angso Duo

para pedagang di pasar angso duo
Hari ini saya kedatangan dua orang tamu istimewa, paman dan adik sepupu. Mereka datang dari kampung nun cukup jauh di sana, Desa Jelutih, Muaro Bulian. 

Sekitar jam 11.00 WIB tiba-tiba HP ku berdering, ternyata ada telepon dari paman tatkala aku lagi asyik-asyiknya online di dunia maya mengelola blogku, maka langsung saja aku off kan dan sekejap kemudian langsung menuju lokasi. Dan sejurus kemudian aku ajak mereka menuju rumahku. 

            Tanpa banyak basa-basi,  aku tawarkan diri apa yang bisa saya bantu untuk mereka. Pamanku punya urusan tersendiri dan adik sepupuku mau ikut mendatar ke UNJA. Namun saying, mereka datang pada waktu libur. Yah… terpaksa menunggu sampai hari senin. Pamanku tidak punya waktu banyak dan sorenya langsung pulang, sementara adik sepupuku terpaksa tinggal bersamaku dalam beberapa hari. 

            Nah, ketika aku dan adik sepupu jalan-jalan, inilah sebuah kisah yang perlu kita renungi bersama. “Wajah Angso Duo, Gambaran Negeri Ini”. 

            Puas aku dan adik sepupu mutar-mutar di pasar, namun yang di antara tempat yang sangat terkesan adalah pasar Angso Duo. Pasar tradisional kebanggaannya Provinsi Jambi. Kalau sahabat bloofer bertanya dengan orang Jambi, insyaallah ketika disebutkan pasar angso duo, pasti mereka tahu. Amat kebangetan jika ada yang tidak tahu. 

Namun sayang, pasar yang menjadi kebanggaannya orang Jambi ini tidak terkelola dengan baik. Jalannya hancur-hancur. Kalau hujan becek minta ampun. Kalau panas berdebu. Belum lagi bauk amis yang memuntahkan bekas dari sampah sayur-sayuran dan segala pernak-perniknya. Pokoknya kagak nahan. Aku tidak bisa membuktikan kepada sahabat bloofer. Kalau sahabat bloofer mau membuktikan, silahkan berkunjung saja. 

            Sebenarnya bukanlah pemerintah tidak mampu mengelola pasar ini. Ini dibuktikan beberapa tahun lalu, pasar ini sungguh amat bersih. Namun hari ini wajah itu berubah total. Bambang-Sum di bawah kepemimpinannya, salah satu visinya adalah Jambi bersih. Begitu pula dengan HBA, Gubernur Jambi, di bawah kepemimpinannya dengan visi Jambi EMAS. Salah satu agenda yang diaumkan adalah Jambi Sehat. Namun, sayang di sayang… sayang… visi Walikota dan Gubernur Jambi ini belum meretas sepenuhnya. Mengapa? “apakah mereka tidak mampu memberikan solusi, ataukah masyarakat Jambi yang susah di atur, membuang sampah sembarangan. Atau pula ini adalah hibah dari rezim sebelumnya?”. Wallahua’lam. Apapun jawaban yang diberikan, patut untuk dihargai dan dihormati karena faktanya begitulah wajah angso duo hari ini.  

hiruk-pikuk pasar
               Wajah angso duo hanyalah sebagian keadaan negeri kita hari ini. Tanpa bermaksud memburuk-buruk negeri Jambi tempat aku dilahirkan. Namun dalam hematku, sebagian besar pasar-pasar tradisional yang ada di negeri ini tak terkelola dengan baik. Wajahnya tak jauh berbeda dengan pasar Angso Duo. 

            Jika dilihat dan dibentangkan potensi alam yang dimiliki bangsa ini, suatu yang amat naas kekayaan yang begitu besar tak termenej dengan baik. Mengapa? potensi alamkah, atau potensi manusianya? Jawabannya tentu saja potensi manusianya. Pasar angso duo dan segala hiruk-pikuknya sudah menjadi gambaran negeri ini. Pengelolaannya yang kurang oftimal, jika tidak mau dikatakan tidak. Sampai pada hiruk-pikuk kegiatan manusianya. Aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, beberapa orang buruh pasar yang lalu lalang dengan bawaan beban di atas kesanggupan mereka cuma demi sesuap nasi. Pengemis-pengemis menadahkan tangan mengharap balas kasihan. Penjual-penjual berpanas-panas hingga menghitam yang tak mendapatkan tempat. Wanita-wanita uzur yang seharusnya tidak bekerja lagi menenteng barang-barang dagangan di luar beban mereka. 

            Apa yang aku ceritakan, hanyalah wajah besar keadaan negeri ini. Di kota manapun kita berlabuh, pandangan yang sama akan mudah ditemukan. Buruh-buruh, penjual-pejual, wanita-wanita tua, anak-anak terlantar, dan segala macamnya dengan ditemukan. Maka di sini dapatlah kita tegaskan, “wajah angso duo hanyalah gambaran kecil keadaan negeri ini”.



             Semoga saja seluko adat negeri kita dapat terwujud:
“Aek ning ikannyo jinak
Rumput mudo kerbaunyo gemuk.
Negeri aman padinyo menjadi
Aman kampung kareno dek yang tuo
Ramai kampung kareno dek yang mudo
Kak kusut samo-samo uraikan
Kak keruh samo-samo kita jernihkan”           
           
Semoga!!!

Jambi, 21 Mei 2011


Posting Komentar