Selasa, 03 Mei 2011

Tafakur Sore


Aku menafsirkan wajah muram mentari di sore itu
guntur-guntur bersahut yang tak kunjung hujan
sunyi keramaian kota yang jarang tanda-tanda kehidupan
nyanyian-nyanyian angin, musik alam yang berlabuh pada dedaunan
gemercik-gemercik air di dalam gua yang berlabuh pada aliran
hingga galau memecahkan ruang dimensi. Melantunkan nyanyian syurgawi, menyadarkanku dalam tafakuran.

Cemas linglung pun berbisik dalam pikiran: akankah ia mengantarkanku pada pengharapan ?

Pemilik semestalah yang berhak menjawab itu semua.


Jambi, 19 April 2010
Posting Komentar