Selasa, 03 Mei 2011

Sumpah Serapah: “Kampang... Kubu... Anjing... Mati La Kau”


Pagi itu suasananya cukup tenang di Perpustakaan Wilayah Provinsi Jambi. Para pengunjung asyik dengan bacaan mereka masing. Berbegai ekpsresi wajah dan rupa. Ada yang tesenyum, ada yang menoton, ada juga yang asyik berdiskusi dengan teman sebelah kanan dan kirinya. Sehingga mengheningkan cipta tersendiri dan kekhusukan para pengunjung.

Tiba-tiba.... hening cipta terpecah, dihentakkan dengan suara.
“Oi... kau dimano ? orang lising nunggu kau dari tadi. Kau nak lari-lari pulak”, suara telepon seorang Ibu separuh baya dengan load speaker yang cukup kencang.

“Aku di rumah” jawab temannya.

“Kesini kau. Aku dak mau pening gara-gara ulah kau. La brapo lamo kau nunggak bayar kredit motor? Sekarang motor tu di mano”

“Di rumah”, jawabnya dengan nada terkaku-kaku.

“Kau... nih.... Kampang kau... Kubu kau... Anjing kau... Mati la kau”, sumpah serapah seorang ibu separuh baya tersebut.

Aku hanya tertegun, sekilas pandang dari sisi penampilannya, suatu yang tidak mungkin ia mengeluarkan kata-kata sumpah serapah seperti itu. Dari sisi luar, sepertinya ia ada tanda-tanda wanita sholeh dengan jilbab biru yang cukup lebar menutupi kepala dan dadanya. Mengenakan baju kebaya ala Jambi. Dan rok songket yang dibumbuhi batik-batik Jambi.

“Astaghfirullah! Aku tidak menyangka ia dengan penampilan seperti itu mengeluarkan yang tidak patut dikeluarkan bagi seorang muslim”, pikirku.

“Astaghfirullah... Astagfirullah... Astaghfirullah...”, dengan nada antara ada dan tiada, keluar dari mulut seorang pemuda yang duduk di sampingku yang terhanyut dengan bacaan-bacaannya.

Bukan saya dan pemuda itu saja, seluruh pengunjung pagi itu terhentak semua mendengar sumpah serapah tersebut.

Suasan berubah menjadi lebih hening. Yang terdengar hanyalah suara ibu tersebut dengan beberapa teman-temannya di ruang deposit yang tak henti-hentinya mengeluarkan sumpah serapah.

Aku tak tahu dalam pikiran para pengunjung lainnya. Hematku, apa yang mereka pikirkan kala itu, tidak jauh berbeda dengan apa yang aku pikirkan.


*****
Tulisan ini bukanlah sumpah serapahku kepada  para pembaca yang budiman. Hehehe. Tapi setidaknya, kita bisa mengambil ibrah dari cerita tersebut. Sebab, terkadang tanpa disadari dalam keadaan emosi, boleh jadi kita pun pernah mempraktekkan. Atau boleh jadi, gara-gara ulah kita, saudara kita menyumpah serapahkan kita.

Bukankah seorang muslim yang baik adalah mereka yang menjaga saudaranya dari gangguan tangan dan lisannya ? begitulah Nabiku dan Nabimu mengajarkan.




Jambi, 17 Februari 2011

Posting Komentar