Selasa, 03 Mei 2011

Tanda Tanya (bagian I)


Hari itu mendung, sekan-akan langit tak bertuan layu tersenyum sipu. Matahari pun dari pagi tak melihatkan naga panasnya. Burung-burung berkicau ria di semak-semak. Panas bukan, mendung pun  bukan. Metamorfana alam melihatkan keseriusannya, laksana senja di pinggir pantai yang mengalunkan keindahan nan menyejukkan mata. Bak bidadari syurga dengan segalas madu, dan mata nan sayu.

Badanku terasa letih. Mata terasa penat menahan kantuk tak terhingga. Wajar, aku baru sadar, ternyata malam tadi aku dapat istirahat sejenak setelah shalat subuh. Mengerjakan laporan pertanggungjawaban organisasi selama satu tahun kepengurusan yang aku pimpin dan menyempurnakan AD-ART.

Perpustakaan Wilayah menjadi saksi bisu pertanggungjawaban. Bukan tidak mungkin, jika ada kecurangan atau ada data-data yang dipalsukan, ia akan menjadi saksi di pengadilan Tahun nanti.

Tibalah masa, tibalah waktu. Dalam ruangan kecil itu telah hadir beberapa orang, kira-kira lebih kurang 30 orang dari pengurus LDK.

“pending kita buka. Tuk… tuk..” Ketokan palu ketua sidang.

“acara kita selanjutnya adalah laporan pertanggungjawaban ketua umum LDK 2010-2011. Kepada saudara Edi Kurniawan dipersilahkan mengambil tempat kedepan”, pinta ketua sidang.

Aku berkata dalam hati.
“ya Allah, tempat ini menjadi saksi laporanku. Aku telah menjalankan amanah ini sebatas kemampuanku. Keletihan, materi, pikiran tak terhitung nilainya telah aku berikan. Saksikanlah ya Allah. Ya Alllah, aku tahu masih banyak kekurangan di sana sini. Ampunilah ya Allah”.

 

******
 Tengah sidang berlangsung, tiba-tiba pintu itu terbuka. Selang beberapa waktu, muncullah sosok seorang pemuda yang masih segar dengan tas ransel di punggung berjalan dengan gagah berani dan dada tegap kedepan layaknya anggota Abri. Dari wajah dan postur tubuhnya, sepertinya ia kira-kira baru berumur 22 atau 23 tahun. Ya, sekitar itu.

Dari raut wajahnya, terlihat bercak-bercak keletihan. Dari depan pintu matanya tertuju pada deretan kursi-kursi kosong, sarana menghela nafas. Aku perhatikan tingkahnya, ia duduk terdiam seribu bahasa, meminta dan membolak-balikkan lembar demi lembar kertas LPJ.

Yupp,,,
Tanpa disengaja, karena posisiku di depan, mataku melirik, kalau gak salah ada empat orang akhwat senyam-senyum, sengar-sengir, berbisik-bisik dengan teman di depan dan dibelakangnya tatkala pemuda belia tadi masuk membuka pintu. Dari raut wajahnya, kelihatannya ada 3 orang dengan senyum terbuka.

“syukur-syukur, yes! yes! yes!”

Sambil mengepal dan mengangkat kedua tangannya ke atas bak tentera jepang mengangkat kedua tangan tatkala dikalahkan sekutu. Dan satu orang lagi, sepertinya ada beban di raut wajahnya.

Tingkah laku empat orang akhwat tadi membuatku kaget dan termenung.

“Ngapain ini orang? Apa kegirangan karena kedatangan pemuda tadi atau . . ?”.
“ah”, pikirku. Gak mungkin.
Kalau gak, lantas apa?
Suasana lagi serius, mereka pada melonjak ringan”.
“Ah, pasti ada yang gak beres”, pikirku.

Tiba-tiba indra keenamku berkata.
“Atau jangan-jangan..?
Ah, gak mungkin. Tapi..?
Ah, boleh jadi..?”.

Akhirnya aku teringat dengan buku psikologi, “Tingkah Laku Manusia dan Gerakan Raga”, yang ku baca beberapa bulan lalu. Pengarangnya aku lupa. Yang pastinya karangan ilmuwan Barat.

Aha…
Yupz...
Naluriku berkata,
“pasti karena pemuda belia tadi.
Yeach... aku yakin feelingku mendekati kebenaran”. (Upz,,, nothing. hehehe)
Morse berkata, sebelumnya keempat akhwat itu duduk dengan manis dan fokus pada masalah. Namun tiba-tiba tatkala pemuda itu datang, tingkah dan raut wajahnya berubah.

“ada apa ya..?
Boleh jadi akhwat ini..?” (hehehehe)


******
Banyak orang mengatakan, pemuda itu, “kritis”, atau bahkan terkadang over kritis.  Ah, itukan kata orang. Bagiku biasa-biasa saja.

Feeling, feeling, feeling, boleh jadi feelingku benar. Karena dari pagi aku melihat, hanya ada satu orang senior yang datang, dan itupun hanya sebentar pada pembukaan saja.

Benar apa yang dikata orang, tidak lama kemudian, over kritis itu keluar. Wajar pikirku, wanti-wanti dikritisi.

Dari lisannya keluar.

“kita tidak bisa menerima LPJ Humas,
 dan ini gagal, tidak sampai 20%,
dan banyak LPJ yang tidak bisa diterima”.

Selang beberapa waktu.

“intruksi prosedium sidang. maaf,
LPJ ini tidak bisa diterima,
LPJ ini dibuat oleh satu orang, LPJ ini tidak bisa diterima”.

Mulut mungilnya dengan cletas-cletus bak murai kecabutan ekor. Wajarlah empat akhwat tadi, rupanya, ems….. ini. “Syukur laporan kaderisasi sudah sisampaikan, yes! yes! yes! yes!”, sembari bertepuk tangan dengan kawan sebelahnya. Sementara yang satu hanya tersipu.

Apa yang baru saja terjadi, membuatku teringat dengan LPJ ketua sebelumku satu tahun yang lalu. Keadaan sama, atau malah lebih parah lagi. Seorang kader yang sangat kritis mengkritisi LPJ habis-habisan, sehingga suasana berubah tegang. Sang kritis, tajam nan mendalam dengan kritis. Yang dikritis, membela dan tak menerima. Karenanya, berubah padam muka.

Suasana berubah 80 drajat. Tadinya kalem-kalem, berubah menjadi walem-walem. Mulut mungilnya turus mengkritis dan mengkritis.

Wajar pikirku. Rupanya gara-gara ini, “yes! yes! yes! LPJ ku sudah” sambil bertepuk kedua tangan riang gembira dengan teman sebelahnya. Dan yang satu lagi agak sedikit berubah muka, “aha, LPJ aku belum”.

Setiba di rumah, aku sempat membuka FB ku. Tanpa disengaja tiba-tiba, mataku terbelalak, membaca sebuah status seorang yang ku kenal.

“aman dan terkendali”

He… he… he… menambah kuat feelingku. Membuat hatiku bergumam kembali, yah… hari ini memang aman dan terkendali. Berbeda dengan tahun lalu.

“mohon do’anya….. takut terjadi pembantaian. hihihi”, “tak tau apa yang akan terjadi hari ini dengan adik-adikmu, Co (sebuah dept. LDK) tak bisa hadir”, komentar sebuah status FB.
Hehehehe. Feeling bertambah kuat lagi. Ternyata sengar-sengir tadi siang adalah petanda wanti-wanti… di . . . ? hehehehe

 
******
Malamnya sehabis isa, aku terbaring. Badanku terasa goyah, letih, mata sudah berat merehatkan badan. Ampun… kalau bukan karena amanah dakwah, kayaknya aku gak sanggup.

Aku berdo’a.

“ya Allah, kuatkanlah hambamu di jalan ini. Jalan yang engkau ridhoi. Jalan para Nabi. Amin ya Rabb”.

Tiba-tiba, ring… ring… ring… suara handphone-ku berbunyi. Sambil berbaring keletihan, ku ambil handphone itu di depan kepalaku. Ku buka dan baca sampai habis. Subhanallah begitu senangnya hanti.

Pesan dari seorang ikhwah.

“Bismillah. SEMANGAT PAGI SEMUA.
Subhanallah…
jerih payah, titisan keringat dan air mata para pengurus LDK 2010-2011 takkan sia-sia…
karena silaturrahim terpaut, persaudaraan terbina, ukhuwah terjalin di jalan Dakwah untuk kebaikan karena-Nya”.

Pesan itu menyadarkanku, betapa banyak selama ini aku menuntut kesempurnaan kepada orang lain, namun tanpa solusi. Aku hanya mengkritik dan mengkritik, tapi aku tidak membantu perjuangannya.

Atau juga karena kemalasan dan kelambaianku amanah yang dijalankan tidak sempurna atau bahkan tidak berjalan. Ketika dipertanggungjawabkan hasil kerjaku, aku tersipu malu tanpa bahasa.

Bahkan terkadang aku juga sering berdo’a, mudah-mudahan tidak dibantai habis-habisan. Ketika orang yang hadir, secara level dan kemampuannya berada di bawahku, senang luar biasa. Namun ketika yang hadir seniorku, dik-dak –duk  goncang dada luar biasa.

Begitu juga halnya dengan banyak kader-kader dakwah yang kutemukan. Ketika bersilat lidah, hebat luar biasa. Dalam forum LPJ, mulut mereka berkicau-kicau mengkritik kekurangan di sana-sini. Naas, ketika di tengah perjalan kepengurusan, mata mereka sendiri melihat kekurangan, terkadang mereka seakan acuh tak acuh. Yang berjalan hanya adik-adik yang masih baru dan kemampuannya juga masih belum, sayang mereka tidak membimbingnya.

Wajarlah pikirku, dakwah ini melemah. Kita banyak menuntut kesempurnaan kepada orang lain, padahal terkadang kita bisa mengajari jalannya, tapi seakan-akan kita tak kenal dan diam diri.

Posting Komentar